Breaking News
Minggu, 19 April 2026

Militer dan Kepolisian

Sangar, Tapi Rudal BrahMos yang Diborong Filipina Bakal Tak Berdaya Hadapi Rudal China Ini

Sistem akan dioperasikan oleh Resimen Pertahanan Tepi Pantai Marinir Filipina, yang telah diaktifkan tahun lalu, dan dapat diluncurkan dari

Editor: Iwan Satriawan
Wikipedia
Rudal jelajah BrahMos 

BANGKAPOS.COM-Ketegangan dengan China di Laut China Selatan membuat Filipina mau tak mau harus memperkuat kekuatan militernya.

Baru-baru ini Negeri Jiran Filipina setuju membeli sistem rudal anti-kapal dari India.

Pembelian sistem rudal ini untuk menopang sistem keamanannya dalam menghadapi peningkatan agresi China di Laut China Selatan.

Perjanjian itu sendiri bernilai kurang lebih USD 375 juta atau Rp 5,4 triliun.

Dilansir dari intisari-online, pembelian senjata ini bertujuan menyediakan Filipina tiga baterai rudal dan memperkuat India menjadi eksportir senjata besar, termasuk pada sengketa negara tersebut dengan China.

Baca juga: Semakin Memanas, Rusia Kirim Pasukan untuk Latihan Perang Besar, Inggris Pasok Senjata ke Ukraina

Sistem akan dioperasikan oleh Resimen Pertahanan Tepi Pantai Marinir Filipina, yang telah diaktifkan tahun lalu, dan dapat diluncurkan dari udara, laut, darat serta bawah tanah, seperti melansir Asia Times.

Latihan rudal China.
Latihan rudal China. (24h via intisari.co.id)

Resimen itu dibentuk guna meningkatkan kemampuan Filipina menegaskan kontrol laut melalui anti akses/penyangkalan area di pantai (A2/AD).

Diharapkan resimen ini akan berfungsi seutuhnya di tahun 2026, menunjukkan jika rudal Brahmos diharapkan dikirimkan pada tahun itu.

Rudal Brahmos adalah rudal tembak dan lupakan dengan jangkauan sejauh 290 kilometer dan kecematan Mach-3 sepanjang penerbangannya dan ketinggian jelajah 15 kilometer ke ketinggian terminal serendah 10 meter.

Rudal ini memiliki Sistem Navigasi Inersia (INS) dan sebuah GPS untuk arahan, dan radar kepulangan aktif untuk fase terminalnya, yang bisa diluncurkan dari udara, laut, tanah dan bawah laut.

Baca juga: Hanya Butuh 48 Jam Tumpas Pemberontak Kazakhstan, Rupanya Rusia Gunakan Senjata Mematikan Ini

Rudal dipersenjatai dengan hulu ledak konvensional sebesar 200-300 kilogram dan memiliki konfigurasi identik untuk kendaraan darat, laut serta bawah laut.

Senjata itu juga mengkombinasikan kecepatan tinggi dan manuver mengelak untuk menghindari sistem pertahanan rudal musuh, serta sebuah hulu ledak untuk memastikan kemampuan mematikan yang tinggi.

Filipina berencana untuk membeli Brahmos versi darat, sebuah baterai yang terdiri dari empat sampai enam peluncur otonom (MAL), sebuah pos komando bergerak (MCP) dan sebuah kendaraan pengganti bergerak (MRV).

Masing-masing MAL memiliki pasokan listrik, sistem komunikasi dan kontrol senjata serta bisa membawa tiga rudal.

Rudal dapat ditembakkan kepada tiga target berbeda secara simultan atau dalam kombinasi menembak yang lain.

Baca juga: Pangkat Terendah Saja Gajinya Rp 23 Juta, Inilah Daftar Gaji yang Diterima Tentara Amerika Serikat

Brahmos adalah sebuah proyek gabungan antara Riset Pertahanan dan Organisasi Perkembangan India (DRDO) dan Mashinotroyeniya NPO Rusia untuk memproduksi rudal jelajah supersonik dua tahap.

Kecepatan supersoniknya memberikan waktu terbang lebih pendek untuk menarget, keterlibatan lebih cepat dan peningkatan kesulitan intersepsi.

Brahmos pertama kali memasuki tugas dengan Angkatan Laut India tahun 2005, sementara varian di daratnya memasuki masa tugas pertama kali dengan Angkatan Darat India tahun 2007.

Rudal supersonik adalah senjata canggih pertama untuk dikirimkan guna menghadang aksi nekat China memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) China.

Dikatakan juga rudal ini bisa digunakan oleh Pasukan Bersenjata Filipina dalam serangan darat dan peran anti-kapal.

Dalam peran serangan darat, rencana Filipina menggunakan baterai Brahmos dapat mengancam instalasi China di Karang Mischief di Laut China Selatan, terletak 217 kilometer sebelah barat pulau Palawan, Filipina, dan berada di dalam jangkauan rudal sejauh 290 kilometer.

Tambahan lagi, Brahmos dapat dipakai untuk melawan kehadiran angkatan laut China di sekitar Scarborough Shoal yang berada 222 kilometer barat Luzon.

Sangarnya Rudal BrahMos

Melansir The National Interest (8 Januari 2021), rudal jelajah BrahMos bersifat siluman, cepat, dan sangat sulit untuk ditembak jatuh.

BrahMos (dari Brahmaputra dan Moskow) dimulai pada 1990-an sebagai proyek bersama antara Rusia dan India untuk mengembangkan versi India dari rudal jelajah P-800 Oniks.

BrahMos sebenarnya sedikit lebih cepat pada Mach 2.8 daripada P-800.

Beratnya juga dua kali lipat dari Tomahawk, dengan berat enam ribu pon.

Meskipun memiliki hulu ledak yang lebih kecil, efek dampaknya sangat menghancurkan.

Kemampuan BrahMos untuk mempertahankan kecepatan supersonik saat meluncur di ketinggian rendah membuatnya sangat sulit untuk dideteksi dan dicegat.

BrahMos juga melakukan "manuver S" mengelak sesaat sebelum tumbukan, sehingga sulit untuk menembak jatuh dari jarak dekat.

BrahMos bukan hanya senjata antikapal, namun juga dapat mengenai target berbasis darat, dan sangat ideal untuk serangan presisi terhadap instalasi tetap seperti radar, pusat komando, pangkalan udara, dan baterai rudal musuh.

Rudal itu juga berpotensi membawa hulu ledak nuklir seberat 660 pon, meskipun itu tampaknya bukan tujuan utamanya.

Ada beberapa varian rudal BrahMos yang dirancang untuk digunakan oleh berbagai platform militer India melawan target darat atau laut.

Rudal BrahMos Angkatan Laut India sebagian besar menggunakan peluncur Sistem Peluncuran Vertikal delapan sel.

Enam dari fregat dan dua kapal perusaknya memiliki satu peluncur BrahMos, sementara tiga kapal perusaknya memiliki peluncur kembar.

Pada tahun 2013, Angkatan Laut juga telah berhasil menguji versi peluncuran kapal selam yang diharapkan untuk memasuki layanan di kapal masa depan.

BrahMosyang diluncurkan kapal selam berpotensi diluncurkan cukup dekat dengan target tanpa terdeteksi.

India juga telah mengembangkan BrahMos-A, yang dirancang untuk diluncurkan dari pesawat tempur Su-30MKI.

Terakhir, ada sistem Mobile Autonomous Launcher yang diluncurkan di darat yang dipasang di truk roda dua belas.

Ini diatur dalam resimen lima peluncur dengan lebih dari 100 rudal.

India mengerahkan resimen rudal keempat ke Arunachal Pradesh, yang dilaporkan menelan biaya lebih dari $640 juta dolar.

Inilah yang membuat takut militer China, terutama karena rudal Blok III yang baru dirancang untuk menukik tajam pada sudut tujuh puluh derajat untuk mencapai sasaran di lereng belakang pegunungan.

Ini memiliki penerapan yang jelas terhadap perbatasan Himalaya yang sangat militeristik dengan China.

India terus mengalami kemajuan dalam pengembangan varian BrahMos yang lebih mematikan.

Sebagai permulaan, beberapa laporan menyiratkan bahwa India pada tahun 2012 menguji versi dengan sistem panduan satelit baru dan jangkauan lima ratus kilometer.

Beberapa berpendapat bahwa bahkan BrahMos biasa mungkin mampu melaju lebih jauh dari jangkauan 290 kilometer yang diklaimnya.(intisari-online)

Brahmos mungkin tidak seefektif rencana strategis Filipina karena rudal pertahanan China, sebuah tantangan relatif bagi Brahmos dan pasokan rudal terbatas Filipina.

China sedang mengoperasikan rudal darat-ke-udara HQ-9 yang bisa dioptimasikan melawan ancaman supersonik di Karang Mischief, Karang Subi, dan Karang Fiery Cross di Laut China Selatan.

Sistem rudal China meliputi sistem pemandu canggih, kemampuan anti-macet multi-target dan rudal interseptor dengan kecepatan maksimal Mach 4.2 dibandingkan dengan Brahmos yang hanya Mach 3 saja.

Di saat yang sama penghancur Tipe 052D China dan kapal penghancur Tipe 055 dipersenjatai dengan HHQ09B, versi kapal dari HQ-9B.

Semua senjata itu diklaim secara signifikan mengurangi kemungkinan berhasilnya serangan Brahmos Filipina di panggung panas maritim Laut China Selatan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved