Breaking News:

Horizzon

Merunut Jejak Digital Baleno Terbakar di SPBU Jalan Koba

Jika kebakaran tersebut adalah kecelakaan biasa tanpa motif lain dari pengemudi, kenapa ia harus melarikan diri?

Merunut Jejak Digital Baleno Terbakar di SPBU Jalan Koba
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

TERUS menyoal terungkapnya kasus Baleno terbakar di SPBU Desa Beluluk, Jalan Koba Pangkalanbaru, Bangka Tengah, pada 13 Desember 2021, bisa jadi dianggap melakukan sesuatu yang sia-sia dan terkesan mencari-cari.

Apalagi jika kita sependapat dan percaya begitu saja dengan cara pandang penyidik kepolisian yang selalu menyebut bahwa dalam kasus tersebut tidak mengakibatkan kerugian materiel bagi pihak lain, kecuali hangusnya mobil Baleno milik korban.

Terlebih-lebih dalam kasus Baleno terbakar di SPBU yang masuk wilayah hukum Polres Pangkalpinang Polda Kepulauan Bangka Belitung ini juga tidak menimbulkan korban jiwa.

Meski demikian, jika membiarkan kasus ini tenggelam begitu saja, seolah-olah akal sehat kita ini dikangkangi oleh beberapa tanya atas kejanggalan dalam kasus ini.

Pertama, apakah kita bisa puas begitu saja dengan tidak memperoleh jawaban atas larinya pengemudi mobil tersebut usai terbakar? Jika kebakaran tersebut adalah kecelakaan biasa tanpa motif lain dari pengemudi, kenapa ia harus melarikan diri? Motif kejahatan apa yang harus ia sembunyikan dengan melarikan diri?

Baca juga: Baleno Terbakar di SPBU Jalan Koba dan Bom Bali I

Setiap mereka yang memiliki akal sehat dan pikiran waras tentu tahu latar belakang saat peristiwa tersebut terjadi. Baleno tersebut terbakar saat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, utamanya di Pulau Bangka, sedang dilanda krisis BBM.

Baleno tersebut terbakar di SPBU 24.331.115 yang tengah diwarnai dengan antrean panjang mobil dan motor yang sedang mengalami panic buying terkait kelangkaan BBM. Serupa, antrean mengular juga terjadi di SPBU lain di hampir seluruh SPBU yang beroperasi di Bangka.

Apalagi, kita juga masih ingat, saat olah TKP, polisi menemukan jeriken dan slang infus yang dikeluarkan pengemudi Baleno saat api mulai menyulut bagian mesin mobil tersebut. Jeriken dan slang infus tersebut biasa digunakan untuk menguras isi tangki kendaraan yang biasa digunakan untuk mengerit BBM.

Membiarkan kasus ini berlalu begitu saja sama artinya kita berusaha diam menahan tawa saat kita menyaksikan panggung Srimulat yang sedang menampilkan joke-joke lucu. Diam dan pura-pura tak peduli dengan kasus mobil Baleno terbakar ini juga kita seolah-olah menjadi bagian dari dugaan aksi tebang pilih penegakan hukum yang terjadi di depan mata kita.

Boleh jadi aksi main tebang pilih terhadap praktik illegal mining sudah dianggap menjadi hal lumrah di peradaban Bangka Belitung.

Jujur saja masyarakat Babel sudah terlalu biasa menonton keanehan terkait satu dua praktik razia tambang ilegal yang dirazia, sementara bersamaan itu ratusan bahkan ribuan praktik serupa yang juga bisa ditonton dengan mata telanjang terus beroperasi tak tersentuh.

Atau jangan-jangan ketika kita berusaha diam dalam kasus Baleno terbakar ini, alam bawah sadar kita tengah mencoba merasionalisasi dan mengaitkan bahwa kasus Baleno terbakar ini adalah bagian tak terpisah dari kelucuan selama ini.

Kita sedang mencoba memaklumi bahwa di balik patgulipat penambangan rakyat ini ada mafia pencurian BBM bersubsidi, dan Baleno terbakar di Jalan Koba adalah bagian kecil dari ini semua.

Pikiran liar ini makin menguat manakala penjelasan polisi juga seakan-akan berbelit terkait dengan pengungkapan kasus ini. Setelah berusaha menampilkan kesan bahwa kasus ini tidak urgen dengan tidak adanya korban jiwa di kasus ini dan tak ada kerugian materiel, polisi juga terkesan gampang putus asa mengungkap kasus ini.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved