Kamis, 28 Mei 2026

Militer dan Kepolisian

Rusia Tarik Pasukan, Situasi Ukraina Malah Memanas, Terdengar Ledakan dan Tembakan

Diperkirakan tentara Ukraina menembakkan ratusan mortir dan peluru peledak, dengan mortir 82mm dan mortir berat 120mm

Tayang:
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Straits Times via kompas.tv
Pasukan Rusia di Krimea akan kembali ke garnisun mereka, sehari setelah Rusia mengumumkan penarikan pasukan pertama dari wilayah Rusia di perbatasan Ukraina. Unit Distrik Militer Selatan, setelah menyelesaikan partisipasi mereka dalam latihan taktis, pindah ke titik penempatan permanen mereka, kata Kementerian Pertahanan Moskow dalam sebuah pernyataan hari Rabu, (16/2/2022) 

BANGKAPOS.COM-Pasca Rusia mengumumkan penarikan pasukannya dari perbatasan Ukraina, situasi di Ukraina malah kian memburuk.

Hal ini terlihat dalam beberapa hari terakhir, ledakan senjata terus terdengar di kawasan Ukraina.

Namun, suara ledakan tersebut bukan ditunjukkan militer Ukraina kepada Rusia, melainkan kelompok separatis Rusia.

Dilansir dari intisr-online, pasukan pemerintah Ukraina dikatakan menyerang dengan ganas posisi yang dikendalikan oleh separatis pro-Rusia pada pagi hari tanggal 17 Februari.

Ini adalah hari ketiga berturut-turut sejak Rusia mengumumkan sebagian pasukannya dari perbatasan Ukraina.

Menurut sebuah sumber yang diposting di situs Rusia Avia.pro, mulai pukul 5:30 pagi pada tanggal 17 Februari.

Serangkaian posisi yang dikuasai pemberontak di Republik Luhansk (LPR) yang memproklamirkan diri ditembakki oleh pasukan Ukraina dengan keras.

Baca juga: Didukung Israel Plus NATO, Negara Ini Nekat Gempur Wilayah yang Didukung Rusia, Endingnya Memalukan

Sumber itu mengatakan bahwa daerah di sepanjang garis perbatasan di garis depan menjadi sasaran tembakan mortir dan peluncur granat dari tentara Ukraina.

Diperkirakan tentara Ukraina menembakkan ratusan mortir dan peluru peledak, dengan mortir 82mm dan mortir berat 120mm.

Saat ini, tidak ada laporan korban jiwa, serta kerusakan fasilitas di wilayah yang dikuasai separatis.

Menurut Avia.pro, tentara Ukraina mulai menyerang posisi separatis sejak Rusia mengumumkan penarikannya pada 15 Februari.

Pada malam 15 Februari waktu setempat, tentara Ukraina menembaki banyak tempat di sekitar desa Zaichenko, di Republik Donetsk (DPR) yang memproklamirkan diri.

"Tembakan dari berbagai posisi yang diduduki tentara Ukraina menghantam desa Zaichenko," DPR mengumumkan, mencatat total empat tembakan.

Menurut televisi militer Rusia TV Zvezda, milisi LPR mengumumkan penemuan 20 tank T-72 milik tentara Ukraina di pinggiran desa Podlesnoye, dekat garis demarkasi militer.

Para ahli memperkirakan bahwa bentrokan sporadis antara tentara Ukraina dan separatis akan meningkat dalam waktu dekat, menurut Avia.pro.

Situasi Terkini

Ketegangan meningkat lagi di Ukraina di tengah klaim yang saling bertentangan mengenai apakah Rusia telah menarik pasukan yang telah mereka kumpulkan selama berminggu-minggu di sekitar Ukraina.

Ini meningkatkan permusuhan di timur Ukraina yang dikuasai separatis sekaligus meningkatkan perlunya diplomasi.

Dilansir dari kompas.com, Presiden AS Joe Biden juga memperingatkan masih ada risiko "sangat tinggi" dari invasi Rusia dalam "beberapa hari."

Sehari setelah Moskow mengatakan akan mengembalikan pasukan ke pangkalan, sekutu NATO mengatakan Rusia sebenarnya membangun pasukan di dekat Ukraina.

Baca juga: Ini Pendapat Dua Mantan KSAU Soal Pembelian 42 Jet Tempur Rafale, Ternyata Ini Alasan Pembeliannya

Pada saat yang sama, Ukraina dan pemberontak di wilayah timurnya pada Kamis (17/2/2022) saling menuduh melakukan penembakan intensif di sepanjang jalur kontak di Donetsk dan Luhansk.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, dalam perjalanannya ke konferensi keamanan tahunan di Jerman, dialihkan ke PBB untuk mempromosikan solusi diplomatik.

Selain itu, di tengah ketegangan, Rusia usir diplomat AS. Ini jadi pukulan terhadap hubungan AS-Rusia, saat Rusia mengusir Wakil Kepala Misi AS Bart Gorman.

Langkah itu diumumkan Kamis, tetapi seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri mengatakan dia pergi minggu lalu.

Moskow mengutip pengusiran seorang pejabat senior AS di Washington, yang katanya terpaksa pergi sebelum penggantinya dapat ditemukan sebagai bagian dari "perang visa" AS.

Washington mengatakan akan menanggapi langkah "tidak beralasan" itu.

Baca juga: Gempur Sasaran Secara Akurat, Senyap dan Mematikan, Inilah Drone Kamikaze Zala Lancet Milik Rusia

Diplomat Rusia yang telah tinggal lebih dari tiga tahun harus meninggalkan Amerika Serikat, sementara Moskow memberi diplomat AS lebih sedikit waktu, kata juru bicara Departemen Luar Negeri.

Isu lain yang tak kalah panas adalah bahwa Rusia mengatakan telah memindahkan pasukannya dari zona konflik.

Tapi sekutu NATO mengatakan gerakan konstan itu menutupi niat mereka yang sebenarnya.

Sekutu NATO menuduh Rusia menyesatkan dunia dengan mengatakan sekitar 7.000 tentara dikembalikan ke pangkalan, tetapi malah memindahkan ribuan yang baru.

Sebelumnya Maxar Technologies, sebuah perusahaan citra satelit komersial yang telah memantau penumpukan Rusia, melaporkan peningkatan aktivitas militer di dekat Ukraina.

Ini termasuk jembatan ponton baru dan rumah sakit lapangan baru di Belarus.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved