Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Kak Seto Minta Pemprov Bangka Belitung Siapkan Psikiater Bagi Anak Korban Pelecehan Seksual

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan Pencatatan Sipil, dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Bangka Belitung

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan Pencatatan Sipil, dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Bangka Belitung mencatat sepanjang tahun 2021, ada 74 kasus pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan dewasa.

Dengan rincian 64 orang anak yang dominan berjenis kelamin perempuan dan 10 orang perempuan dewasa.
Berdasarkan data kasus pelecehan anak pada tahun 2021 bila dibandingkan 2020 terjadi penurunan.
Pada tahun 2020 tercatat, jumlah kasus pelecehan seksual anak dan perempuan ada sebanyak 113 kasus.

Dengan rincian 101 kasus pada anak dan 12 kasus pada perempuan dewasa.

Dari tahun ke tahun, kasus pelecehan selalu dominan terjadi pada anak-anak..

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3ACSKB Bangka Belitung, Rifat Syafitri tak memungkiri pandemi Covid-19 menjadi satu diantara pemicu terjadi pelecehan anak pada tahun 2021.

Dia menyebutkan, pandemi Covid-19 itu mempengaruhi angka kasus, karena anak-anak banyak menggunakan gadget, diam-diam melihat hal-hal kurang baik dan pergaulan teman sebaya, bahkan juga penyebab lainnya ada yang pernah jadi korban pelecehan kemudian membalas.

Selain itu, dia menyebutkan pemahaman agama yang kurang menjadi pemicu juga terjadi pelecehan seksual anak yang dilakukan pelaku.

Pemerintah Provinsi dalam penanganan kasus pelecehan anak, sudah mendirikan Satgas PPA di setiap kabupaten dan kota.

Psikolog anak sekaligus Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi mengatakan perlu sekali memperhatikan mental para korban pelecehan anak.

Dia menyarankan pemerintah provinsi untuk menerjunkan para ahli psikologi atau psikiater agar melakuka terapi sikologis supaya anak itu kembali percaya diri dan tak tertekan.

Kak Seto menilai terapi sikologis para korban ini penting untuk dilakukan namun keterlibatan keluarga juga penting sebagai upaya pemulihan.

Bangkapos.com/Cici Nasya Nita

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved