Breaking News:

Tribunners

Mewujudkan Sekolah Impian Melalui Budaya Positif

Membangun budaya positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, tenteram, dan damai

Editor: suhendri
Mewujudkan Sekolah Impian Melalui Budaya Positif
ISTIMEWA
Juliar Idham, S.Pd.SD. - Guru SD Negeri 50 Pangkalpinang

SEKOLAH impian merupakan harapan semua kalangan, baik guru, murid, maupun orang tua murid. Sekolah impian bagi murid tentunya akan membuat mereka selalu senang berada di sekolah, merasa aman dan nyaman. Mereka bisa belajar sambil bermain, bersosialisasi dengan teman-teman tanpa adanya kekerasan ataupun perundungan.

Tidak hanya murid, tentunya guru pun memiliki harapan dan angan-angan tentang sekolah impian. Sekolah yang muridnya selalu semangat untuk hadir dan memulai pembelajaran. Murid yang aktif, mandiri, dan saling menghormati antar guru dan teman. Selain itu, kolaborasi dengan teman sejawat menumbuhkan rasa kekeluargaan yang menjadi penggelora dalam menjalankan tugas sebagai seorang pendidik.

Untuk melahirkan sekolah impian bisa dimulai dengan mengaplikasikan budaya positif. Membangun budaya positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, tenteram, dan damai agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, serta tanggung jawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau kembali adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah.

Pada umumnya, guru beranggapan bahwa mereka punya kontrol penuh dan memiliki hak untuk memaksakan kehendaknya terhadap murid. Hal tersebut akan membuat murid merasa tidak nyaman dan terbelenggu dalam mengeksplorasi potensi yang ada pada dirinya, tidak mampu berpikir dan bertindak dengan bebas sesuai kodratnya.

Penerapan disiplin melalui budaya positif mengubah paradigma guru. Disiplin selama ini selalu dikaitkan dengan peraturan, kepatuhan, dan tata tertib, serta tidak jarang dihubungkan dengan hukuman yang membuat murid merasa tidak bahagia.

Menurut Diane Gossen disiplin artinya belajar dan tidak ada hubungannya dengan hukuman. Murid yang memiliki disiplin diri akan cakap menggali potensi diri menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan dimaknai. Dengan kata lain, disiplin diri juga mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai.

Guru berperan penting dalam menuntun dan mengarahkan murid untuk mencapai nilai-nilai positif, di antaranya melalui kesepakatan kelas. Di dalam kesepakatan kelas akan tampak nilai-nilai kebajikan sehingga setiap tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif.

Barangkali akan timbul sebuah pertanyaan di benak kita "apakah dengan dibuatnya kesepakatan kelas, semua murid bisa langsung mengimplementasikan dan mengubah perilakunya sesuai dengan nilai-nilai yang tertera dalam kesepakatan kelas tersebut?"

Tentunya semua itu perlu proses, pada saat penerapannya tidak menutup kemungkinan ada murid yang melanggar kesepakatan tersebut. Namun, sebagai seorang guru, kita harus mampu memosisikan diri kita sebagai manajer agar pada saat murid melakukan kesalahan atau pelanggaran, guru tidak langsung menghakimi murid.

Apa pun tindakan yang dilakukan oleh murid, baik itu tindakan positif ataupun negatif semuanya pasti memiliki tujuan. Tujuan dari tindakan tersebut biasanya akan mengarah pada pemenuhan kebutuhan dasar pribadi mereka. Menurut Dr. William Glasser dalam "Choice Theory", manusia memiliki 5 kebutuhan dasar yaitu:

1. Kebutuhan bertahan hidup
Kebutuhan bertahan hidup (survival) adalah kebutuhan yang bersifat fisiologis untuk bertahan hidup misalnya kesehatan, rumah, dan makanan. Seks sebagai bagian dari proses reproduksi termasuk kebutuhan untuk tetap bertahan hidup. Komponen psikologis pada kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan perasaan aman.

2. Cinta dan kasih sayang (kebutuhan untuk diterima)
Cinta dan kasih sayang merupakan kebutuhan psikologis. Kebutuhan untuk mencintai dan memiliki, meliputi kebutuhan akan hubungan dan koneksi sosial, kebutuhan untuk memberi dan menerima kasih sayang serta kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Kebutuhan ini juga meliputi keinginan untuk tetap terhubung dengan orang lain, seperti teman, keluarga, pasangan hidup, teman kerja, binatang peliharaan, dan kelompok di mana kita tergabung.

Anak-anak yang memiliki kebutuhan dasar cinta dan kasih sayang yang tinggi lazimnya ingin disukai dan diterima oleh lingkungan. Mereka juga akrab dengan orang tuanya. Umumnya mereka belajar karena suka pada gurunya. Bagi mereka, teman sebaya sangatlah penting. Mereka juga suka bekerja dalam kelompok.

3. Penguasaan (Kebutuhan atas pengakuan kemampuan)
Kebutuhan ini berhubungan dengan kekuatan untuk mencapai sesuatu, menjadi kompeten, menjadi terampil, diakui atas prestasi dan keterampilan, didengarkan dan memiliki rasa harga diri. Kebutuhan ini meliputi keinginan untuk dianggap berharga, bisa membuat perbedaan, bisa membuat pencapaian, kompeten, diakui, dan dihormati. Ini meliputi self esteem dan keinginan untuk meninggalkan pengaruh.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved