Jumat, 17 April 2026

Human Interest Story

Kisah Tono Penjual Kursi Bambu, Berkeliling dari Toboali Hingga Muntok  

Derasnya hujan yang turun tak menghalangi semangatnya. Sesekali ia mengusap air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Wajahnya terlihat lelah karena

bangkapos.com
Tono (47) penjual kursi bambu keliling saat ditemui di Jl Jenderal Sudirman, Gabek, Pangkalpinang. (Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani) 

BANGKAPOS.COM , BANGKA - Derasnya hujan yang turun tak menghalangi semangatnya. Sesekali ia mengusap air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Wajahnya terlihat lelah karena membawa kursi bambu yang terbilang lumayan berat, Rabu (16/3/2022) petang.

Tono (47) begitulah pria itu disapa. Ia merupakan seorang pedagang kursi bambu keliling yang  sudah 20 tahun menjalankan profesi ini. Berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah ia mengadu nasib di Bumi Laskar Pelangi ini. 

Dikatakan Tono (47), sejak Tahun 2002 ia sudah menjadi penjual kursi bambu keliling. Kala pagi, ia sudah bergegas dari tempat temannya di Jl. Jendral Sudirman, Gabek , Pangkalpinang untuk berkeliling. Ia menumpang tinggal di tempat cucian mobil miliknya sebab rumah kontrakannya jauh dari lokasi perkotaan. "Saya tinggal di Puding Besar, di sini numpang nginep di tempat teman saja dengan yang lain," ujarnya ramah, Rabu (16/3/2022) petang.

Tono (47) berkeliling ke seluruh wilayah di Bangka Belitung demi secerca harapan mendapatkan rupiah. Tidak hanya Pangkalpinang saja, lelaki ini bahkan kerap menempuh perjalanan yang panjang. Toboali, Koba, Belinyu, Sungailiat, hingga Mentok menjadi rute perjalanannya setiap hari. "Saya rutenya keliling, semua wilayah udah pernah kadang dari Toboali hingga Belinyu juga pernah," katanya.

Perjalanan yang sangat melelahkan. Tak jarang ia menginap di masjid dan emperan toko kala perjalanan jauh dari rumah. Untuk itu, kepulangannya memang tak menentu setiap harinya. Kadang ia pulang sore bahkan hingga ke paginya lagi demi menjual kursi bambu tersebut. "Karena rutenya jauh jadi pulangnya tidak menentu, jadi tidurnya fleksibel yang penting kursinya terjual," ujar bapak tiga anak ini.

Ratusan kilo ia lalui tanpa mengeluh sedikit pun kepada keluarganya. Meskipun lelah seharian, karena berkeliling jauh membawa kursi bambu dengan motor buntutnya, ia tetap menjalani pekerjaannya dengan ikhlas. "Semua itu harus disyukuri dijalani dengan ikhlas sebab pekerjaan ini yang hanya bisa saya lakukan,"ujarnya.

Bahkan sebelumnya, ia mengaku menopang sendiri kursi bambu tersebut di pundaknya. Hingga akhirnya modal yang didapat cukup untuk membeli motor guna meringankan tugasnya. "Sebelumnya sempat angkut sendiri, tapi Alhamdulillah sudah ada modal buat beli motor jadi tidak capek lagi," ujarnya.

Kursi bambu miliknya dihargai Rp450 ribu  per satuannya. Diakuinya kursi tersebut dikirim langsung dari Jawa Tengah dan sudah dirakit jadi oleh empunya. Ia hanya bertugas menjual kursi tersebut dan mendapatkan keuntungan sekian persen dari pemiliknya. "Kursi ini ada bos yang punya ,jadi saya hanya jualannya saja, dikirim langsung sudah jadi dari Jawa Tengah," jelasnya.

Saat ditanya keuntungan, ia menuturkan dapat meraih omzet sekitar Rp3 juta per bulannya jika kursi terjual banyak. Uang tersebut harus dikirimkan lagi ke istri dan tiga anaknya yang ada di Purwokerto, Jawa Tengah."Kalau lagi rame ya bisa dapat 3 juta perbulan, kalau sepi ya di bawahnya," katanya.

Sejak 20 tahun berlalu, Tono (47) memang tekun dalam bekerja. Jika sehat, ia berkeliling sedari pagi dan pulang ke rumah jika kursinya terjual.

Ia menambahkan bahwa kursi miliknya tak mesti laku terjual setiap harinya. Terkadang pernah 2-3 hari baru terjual. "Kalau jualan kursi ini harus sabar. Asal mau jkeliling pasti laku. Kalau pagi sampai sore belum laku, insyaAllah malam harinya laku kalau kita mau keliling," katanya. 

Penuh semangat dan tekad yang penuh, ia selalu optimis dan bersyukur dalam menjalani profesinya, sebab ada anak istri yang selalu menantinya pulang kala lebaran tiba. "Senyum anak istri jadi penyemangat mencari nafkah, jadi usahain cari uang agar bisa kumpul saat lebaran ,karena waktu itu mahal," kata Tono seolah menerawang jauh dalam kondisi mata berkaca-kaca. (Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved