Ribut-ribut Mengenai Logo atau Label Halal, Begini Arti Halal Menurut Gus Baha
Ribut-ribut mengenai logo atau label halal, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau disapa Gus Baha menjelaskan arti halal.
Penulis: Widodo | Editor: M Zulkodri
BANGKAPOS.COM -- Ribut-ribut mengenai logo atau label halal, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau disapa Gus Baha menjelaskan arti halal.
Sebagaimana diketahui bahwa ada pro kontra terkait label halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama atau Kemenag RI.
Penetapan tersebut dituangkan dalam Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022 tentang Penetapan label halal baru.
Surat Keputusan ditetapkan di Jakarta pada 10 Februari 2022, ditandatangani oleh Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham, dan berlaku efektif terhitung sejak 1 Maret 2022.
Penetapan label halal tersebut, menurut Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham, dilakukan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 37 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH).
Penetapan ini juga bagian dari pelaksanaan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang JPH.
Terlepas dari itu, ulama kondang us Baha menjelaskan arti halal sebenarnya menurut pemahaman dirinya.
Hal itu dia beberkan dalam kanal YouTube SANTRI GAYENG yang diunggah pada 15 Maret 2022.
"Halal itu sesuatu yang dihalalkan oleh Allah SWT. Kalian tidak usah bilang halal itu yang dihalalkan Fiqih," bebernya dalam video tersebut.
"Pokoknya yang dihalalkan itu adalah yang dihalalkan oleh Allah. Tetapi jangan dibalik yang dihalalkan ulama Fiqih," sebutnya.
Sebab menurut Gus Baha, kalau ulamanya liberal maka akan halal terus.
Sedangkan kalau ulamanya yang ekstrem maka akan haram terus.
Menurutnya, banyak bisnis halal namun menyerempet haram.
"Misalnya jadi sopir Taxi hanya untuk menganter untuk orang yang pacaran. Padahal kerjanya halal," sebutnya.
"Tidak mungkin kamu tanya mau kemana mbak, tidak bisa ke situ haram, ya kan tidak bisa," ungkapnya.
Dia mengatakan bahwa yang halal itu hukumnya, bukan haram ain-nya (wujudnya).
"Misalnya ada orang seorang perempuan bekerja sebagai pelacur lalu membeli beras di tempatmu.
Lalu saya tanya uang dari mana, jawabnya hasil prostitusi dan kamu menerima uang itu haram atau tidak?," tanya Gus Baha.
Menurutnya hal tersebut adalah halal.
Sebab yang dimaksudkan halal itu dari segi hukumnya.
"Hukumnya jual beli itu halal, sudah sampai di situ saja tidak perlu mengecek uang itu dari mana," bebernya.
Simak video selengkapnya di sini
Ini Penjelasan Cerdas Gus Baha Soal Polemik Suara Adzan yang Bikin Ramai
Penceramah Gus Baha memberikan jawaban cerdas mengenai perbedaan pendapat tentang adzan dan pengeras suara.
Sebagaimana diketahui Surat Edaran Menteri Agama menuai polemik setelah Menag Gus Yaqut mengeluarkan pernyataan yang menuai pro kontra.
Namun, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau disapa Gus Baha ternyata telah mengingatkan hal tersebut dalam sebuah ceramahnya.
Gus Baha menjelaskan jika perbedaan pendapat telah terjadi sejak zaman Rasulullah SAW.
Karena itu tidak perlu disikapi secara berlebihan.
Dia menjelaskan adzan menggunakan pengeras suara tidak ada kaitannya dengan SE Kemenag.
Hal itu dia beberkan dalam kanal YouTube Achmad Hudaifi yang diunggah pada 25 Februari 2022.
"Sampeyan kalau beda pendapat biasa saja, jangan seperti orang sekarang, kalau beda pendapat ribut," ujar Gus Baha.
Menurut Gus Baha perbedaan pendapat merupakan fitrah alamiah yang pasti dialami manusia selama hidup di dunia.
"Beda pendapat itu fitrah. Tidak mungkinlah kita tidak beda pendapat, tidak mungkin," lanjut Gus Baha.
Gus Baha juga menjelaskan jika dirinya pernah ditanya tentang speaker yang ada di berbagai masjid.
"Di kampung-kampung kalau ada masjid pakai speaker, di mana-mana, saya sering ditanya.
Gus, bilangin kalau adzan jangan banter-banter, membuat berisik tetangga.
Kalau sudah niat shalat, tidak usah adzan sudah datang," kata Gus Baha.
"Selesai kamu, yang satu, ya tidak! harus keras supaya syiar.
Yang satu mengatakan sia-sia dikata-katain saja.
Karena yang tidak senang cuma ngata-ngatain saja, yang
sudah senang tanpa adzan keras-keras maksudnya sudah shalat, kamu pilih mana?" tanya Gus Baha.
Gus Baha lantas menceritakan jika hal tersebut sudah terjadi sejak zaman Rasulullah SAW antara Abu Bakar dan Umar.
"Abu Bakar kalau berdzikir di masjid itu lirih sekali, selirih-lirihnya.
Umar kalau berdzikir sangat keras, tapi tidak menggunakan sound sistem tapi sangat keras hingga membuat ramai," ungkap Gus Baha.
Gus Baha kemudian mengatakan jawaban Abu Bakar ketika ditanya oleh Rasulullah SAW alasan berdzikir dengan suara lirih.
"Ya Aba Bakrin, kenapa kamu melirihkan suara? Saya itu malu sama Allah, Dia itu Dzat yang Maha Mendengar.
Jadi, saya mengeraskan suara itu malu, seperti Tuhan butuh suara keras saja," jawab Abu Bakar, sebagaimana diceritakan Gus Baha.
"Umar ditanya kenapa kamu terlalu keras? Umar jawabnya sederhana, 'Supaya tidak mengantuk'," beber Gus Baha.
Karena itulah lanjut Gus Baha tidak ada satupun ulama yang mengatakan jika Umar afdholu min Abi Bakrin (lebih utama) karena jawaban Umar sangat sederhana.
Gus Baha menuturkan jika Rasulullah ketika para sahabatnya banyak masalah, maka mereka berdoa dengan suara keras, Rasulullah SAW kemudian bersabda.
"Kamu tidak berdoa dengan dzat yang tuli, maka kamu tidak usah keras-keras," kisah Gus Baha dalam sebuah hadits Nabi.
"Jadi, andaikan istighosah pakai sound sistem keras-keras, itu ya perlu dipertanyakan.
Tuhan sudah dengar kok gegernya seperti itu ngapain," tambah Gus Baha.
"Tapi misalnya madzhab (pendapat) itu kamu pakai, lalu ada pertanyaan,
"Dangdut saja keras, kenapa kalimat thayyibah tidak boleh keras? Masalah lagi," tutup Gus Baha.
(Bangkapos.com/Widodo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220316_ribut-logo-halal-gus-baha-beberkan-arti-halal.jpg)