Human Interest Story
Kisah Tukang Service Jam Asal Padang, Bertahan Hingga Puluhan Tahun
Di tengah ramainya lalu lalang kendaraan di perempatan Bangka Trade Center (BTC) Pangkalpinang, tampak seorang pria
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Di tengah ramainya lalu lalang kendaraan di perempatan Bangka Trade Center (BTC) Pangkalpinang, tampak seorang pria yang sedang sibuk bongkar pasang jam. Tangannya cekatan dalam hal mengotak atik benda mungil satu ini.
Sesekali, ia menyeka keringat yang membasahi wajahnya Sabtu, (19/03/2022) siang.
Pria itu bernama Heri (49). Berusia hampir setengah abad dan memiliki dua orang anak ia menikmati hidup sederhana di Kota Pangkalpinang.
Menggeluti profesi sebagai tukang servis jam selama puluhan tahun membuatnya merasa tak ada pilihan untuk membuka karir baru.
Pekerjaan sebagai tukang servis jam dimulai saat tahun 1996. Hampir 26 tahun lamanya. Pria satu ini sangat menekuni pekerjaannya. Mengotak atik hingga hafal jenis mesin berbagai merek jam.
"Sudah lama jadi tukang servis jam, udh puluhan tahun dari awal merantau ke Bangka," kata pria yang tinggal di Bukit Tani itu.
Bercerita kepada Bangkapos.com ia mengatakan pernah mengadu nasib ke Cilegon, Banten guna mengadu nasib untuk mencari pundi-pundi rupiah di tempat rantauan.
Tukang servis jam adalah profesi yang digelutinya saat itu.
Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Berselang satu tahun ia kembali lagi ke Padang mengingat usahanya kian tak menunjukan perkembangan yang baik.
"Sebelum ke Bangka sempat ke Cilegon dulu merantau, tapi gak lama cuman 1 tahun karena gak jalan baik usahanya," katanya.
Sejak tahun 1996, pria kelahiran Padang ini hanya mangkal menunggu pelanggan di Jl. Letkol Saleh Ode, Ps. Padi, Kecamatan Rangkui, persis di depan Bangka Trade Center (BTC). Bermodal gerobak kecil dan tenda payung dari plastik ia membuka usaha servis jam.
Saat ditanya mengapa tidak membuka lapak jasa servis jam di kios, Heri hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
“Ga ada modalnya, begini aja udah,” ujarnya setengah pasrah.
Bila sepi pelanggan, ia hanya duduk menatapi lalu lalang kendaraan di hadapannya. Kadang juga, ia langsung pulang.
Saat malam hari, ia kembali bekerja sebagai pedagang wedang jahe.
"Dari jam 8 pagi buka sampai sore, malam lanjut lagi jualan wedang jahe," katanya ramah.
Tak ada pelajaran khusus, hanya bermula dari hobi Heri akhirnya mahir menservis jam.
Heri bertahan puluhan tahun mengandalkan keahliannya untuk mengais rupiah demi menghidupi keluarganya.
“Belajar sendiri, kita cuma sekolah SD,” ungkap lelaki yang memakai topi abu-abu.
Pekerjaannya sebagai tukang servis jam memanglah tak menentu. Omzet setiap hari tak dapat diprediksi.
Kadang ramai, kadang sepi bahkan pernah tidak ada omzet selama sehari.
"Kalau ramai ya bisa dapat Rp200.000 sehari, paling sedikit itu pernah dapat Rp15.000, bahkan pernah gak ada sama sekali," katanya dengan nada sedikit sendu.
Heri (49) sempat merasakan masa kejayaan. Pelanggannya ramai.
Omzetnya lancar. Tapi tak bertahan lama, pendapatannya kian hari semakin melempem. Pelanggannya satu per satu tak lagi menggunakan jasanya.
Seiring berjalannya waktu, pelanggannya memang berangsur turun.
Namun caranya agar tetap bertahan ialah dengan memberikan pelayanan terbaik terhadap pelanggannya.
"Kepada pelanggan itu harus ramah, dan servisnya juga harus benar-benar teliti, jadi mereka balik lagi nanti," ungkapnya.
(Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220319-jam.jpg)