Breaking News:

Berita Bangka Tengah

Biaya Hidup Mahal dan Gaji di Bawah UMR, Karyawan Ini Sebut Lebih Besar Pasak daripada Tiang

Pria yang bekerja di perusahaan jasa pengiriman barang di Kota Koba ini mengatakan hanya mendapatkan gaji pokok sebesar Rp1,8 juta per bulan.

Penulis: Arya Bima Mahendra | Editor: fitriadi
Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra
Ilustrasi foto dua orang pekerja swasta saat sedang makan siang di warung makan Kota Koba, Bangka Tengah, Senin (28/3/2022). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Seorang remaja pekerja swasta di Kabupaten Bangka Tengah mengaku kesulitan mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Pria yang bekerja di perusahaan swasta di Kota Koba ini mengatakan hanya mendapatkan gaji pokok sebesar Rp1,8 juta per bulan.

Dia adalah Wahyu (22), pria asal Palembang, Sumatera Selatan yang sudah lama tinggal dan merantau ke Provinsi Bangka Belitung.

Saat ini Wahyu tinggal di sebuah kos-kosan di Kota Koba dan bekerja dari pagi hingga menjelang magrib.

Dia mengatakan, biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan makan sehari-hari cukup besar jika dibandingkan pendapatan setiap bulan.

Baca juga: 2 Hari ELTE Diterapkan, Ribuan Pelanggaran Lalu Lintas Tertangkap Kamera Pengawas di Bangka Belitung

Dalam satu hari saja, ia bisa menghabiskan uang Rp50.000 sampai Rp70.000 untuk makan, bensin dan lain sebagainya.

"Namanya anak kos ya, jadi makan itu beli terus. Untuk sekali makan bisa sampai Rp20.000 sampai Rp30.000. Susah nyari makanan yang harganya di bawah Rp15.000, bahkan kalau di Koba ini kayaknya hampir enggak ada," kata Wahyu saat diwawancarai Bangkapos.com, Senin (28/3/2022).

Tak hanya itu, dirinya juga harus membayar uang kos yang harganya berkisar diantara Rp300.000 sampai Rp500.000 per bulan.

Meski mendapatkan pendapatan lain dari bonus dan insentif, Wahyu mengaku masih kesusahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

"Memang ada duit lain, paling nambah Rp200.000 sampai Rp300.000. Tapi tetap aja dibawah UMR," keluhnya.

Selain untuk kebutuhan sehari-hari, dirinya juga menyisihkan untuk memberi orangtuanya sehingga sangat jarang gaji yang ia diterima bisa disisihkan untuk menabung.

"Gimana mau nabung, sekarang aja lebih besar pasak dari pada tiang (lebih besar pengeluaran daripada pendapatan-red)," ucapnya.

Meski demikian, Wahyu sangat bersyukur karena masih mendapatkan pekerjaan di jaman yang serba susah ini.

Untuk mengakali pengeluaran yang berlebih tersebut, Wahyu tidak mengenal istilah sarapan pagi.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved