Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Anggota DPRD Akui Biaya Hidup di Bangka Belitung Tinggi, Belanja Rp770.000 Dapatnya Sedikit

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Garis Kemiskinan pada September 2021 tercatat sebesar Rp 770.457/kapita/bulan.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
Anggota DPRD Babel PAW masa jabatan 2019-2021, Mansah usai pelantikan di Ruang Paripurna DPRD Babel. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Garis Kemiskinan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada September 2021 tercatat sebesar Rp 770.457/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp 555.279/kapita/ bulan dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp 215.178/kapita/bulan. 

Dengan angka garis kemiskinan sebesar Rp770.457 per bulan, hingga September 2021 ini terdapat sekitar 69.700 orang Bangka Belitung dikategorikan miskin. 

Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangka Belitung (Babel), Mansah menilai biaya hidup di Bangka Belitung memang mahal. 

"Dengan kondisi hari ini memang semua bisa berubah yang menjadi tolak ukur adalah karena harga kebutuhan hidup di Babel ini sangat tinggi. Orang di luar  dengan uang Rp770.000  bisa dapat barang banyak sedangkan di Babel sebaliknya dengan uang Rp770.000 dapatnya sangat sedikit," keluh Mansah, Selasa (29/3/2022) saat dikonfirmasi Bangkapos.com.

Baca juga: Penertiban 16 Bangunan Ilegal di Pasir Padi, Pemkot Pangkalpinang Layangkan Peringatan Kedua

Baca juga: Pembeli Bahan Pokok Jelang Ramadan Meningkat, Sehari Pedagang Bisa Jual 30 Kg Bawang Merah dan Cabai

Dia merasa dengan kondisi ini, angka garis kemiskinan ini akan semakin lebih tinggi kedepannya. 

"Yang bisa membantu kita hari ini adalah komoditas Babel ini adalah komoditas ekspor, harga ditentukan oleh dollar. Sehingga harga komoditas kita dihargai dengan harga cukup tinggi seperti sawit, timah, lada, karet, dan lainnya," ungkapnya.

 Selain itu, dia menyebutkan inflasi juga mempengaruhi permasalahan kemiskinan di Bangka Belitung

"Salah satu persoalan adalah kita daerah kepulauan, sangat berpengaruh dengan rantai distribusi sehingga harga barang mahal atau biaya hidup mahal," katanya. 

Baca juga: Asyik Judi Sejumlah Bos Timah Ditangkap Jatanras Polda Babel, Ini Kata Kasat Reskrim Polres Bateng

Baca juga: Tim Jatanras Polda Bangka Belitung Tangkap 11 Bos Timah saat Main Judi, Ada Jutaan Rupiah di Dompet

Dia menjelaskan barang ini bisa mahal, karena yang masuk kekita dipengaruhi oleh cuaca, ketersedian barang, harga BBM dan  panjangnya rantai distribusi di lapangan. 

"Maka solusinya adalah menciptakan swasembada bahan pokok dan menyiapkan industri rifenery seperti minyak goreng, dan lainnya. Sehingga harga bisa ditekan untuk mengurangi inflasi," katanya. 

Wakil rakyat daerah pilih Bangka Barat ini mendesak pemerintah daerah tidak boleh tinggal diam untuk menyelesaikan persoalan ini. 

"Kita punya sumberdaya yang cukup banyak, lahan sawah yang cukup luas untuk swasembada beras, perkebunan sawit yang ada di mana mana, kita juga harusnya bisa mengintegrasikan sapi sawit untuk memenuhi kebutuhan daging diserah kita tanpa tergantung daerah luar," kata Mansah.

( Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved