Ramadhan
Dampak Psikologis Orang yang Berpuasa
Berpuasa dapat memberikan manfaat bagi psikologis, misalnya berlatih untuk mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, kemudian belajar untuk empati dan b
BANGKAPOS.COM , BANGKA- Berpuasa dapat memberikan manfaat bagi psikologis, misalnya berlatih untuk mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, kemudian belajar untuk empati dan banyak hal lain yang ternyata sangat positif sekali bagi tubuh
Berbicara tentang satu konsep psikologi yaitu self control atau pengendalian diri dan dikaitkan pada puasa, ada seorang tokoh psikologis bernama Abraham Maslow yang mengatakan bahwa hierarki kebutuhan manusia yang paling mendasar itu adalah fisiologis atau kebutuhan fisiologi.
Dalam hal ini merupakan kebutuhan akan makan dan minum. Pada saat berpuasa, kita menahan diri dari kebutuhan fisiologis ini. Kemudian seorang tokoh psikologi bernama Sigmon Freud juga mengatakan dalam suatu konflik atau dinamika psikologis seseorang, ada id ego dan superego.
Kebutuhan yang paling dasar ataupun dinamika psikologis adalah id ego, merupakan sebuah aspek-aspek primitif yang berkaitan dengan kesenangan termasuk dari makan dan minum. Ketika sedang berpuasa, kita menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang sifatnya membawa kenikmatan atau menyenangkan dalam konsep id yang dijelaskan oleh Sigmund.
Pada saat mengendalikan diri, ternyata kita sedang melakukan berbagai macam hal misalnya berusaha untuk menahan agar tidak berbuat sesuatu, berusaha untuk memberikan apresiasi ataupun menyalahkan diri sendiri, kemudian saat melakukan pengendalian diri kita sedang mengelola hal-hal yang ada pada diri sendiri.
Berpuasa itu bukan hanya sekadar mengendalikan hawa nafsu untuk makan dan minum saja. Namun, banyak sekali manfaatnya dalam aspek-aspek psikologis tubuh seperti kontrol atau pengendalian diri. Kita akan melatih kesabaran untuk tidak berperilaku negatif dan menahan dari segala macam emosi negatif.
Kemudian ketika berbicara tentang pengendalian diri, kebutuhan dasar manusia ataupun kebutuhan primitif itu sedang dilatih. Jika berhasil melakukannya maka banyak hal-hal bermanfaat bagi tubuh.
Pengendalian diri terdiri dari tiga aspek yang pertama adalah cara mengambil keputusan yang kedua cara untuk mengendalikan diri agar berbuat sesuatu atau pun tidak, yang ketiga cara untuk mengapresiasi diri sendiri.
Kebutuhan dasar atau kebutuhan primer serta fisiologis merupakan aspek yang sangat penting. Beberapa penelitian sebelumnya mengatakan makanan serta minuman ternyata sangat berpengaruh sekali bagi perilaku ataupun emosi seseorang.
Ketika seseorang makan berlebihan ataupun minum berlebihan , itu sangat berdampak bagi perilakunya, atau pun emosi yang ditampilkan. Maka ketika berpuasa kita mencoba untuk mengurangi makan dan minum yang berlebihan. Kemudian berlatih mengendalikan diri untuk menahan agar tidak menyalahkan diri sendiri.
Karena musuh yang paling sulit ditaklukan itu adalah diri sendiri. Bagaimana kita bisa melawan diri kita, bagaimana kita bisa untuk menahan dari segala macam hal-hal yang diinginkan termasuk makan dan minum.
Ternyata tidak hanya mengendalikan untuk makan dan minum saja, tetapi juga belajar untuk mengelola emosi karena sebagai seorang manusia,emosi negatif seperti rasa marah,sedih jenuh, saat sedang berpuasa kita bertarung dengan diri kita sendiri untuk tidak menampilkan emosi-emosi tersebut.
Kemudian ketika berpuasa kita bisa merasakan empati bagaimana rasanya orang-orang yang tidak bisa makan ataupun minum dengan sebaik-baiknya. Ini sangat bermanfaat bagi diri kita karena sangat erat kaitanya yang berhubungan dengan orang-orang di sekitar. Dengan merasakan empati maka kita pun mengembangkan keterampilan sosial agar lebih baik.
Pada dasarnya, banyak sekali manfaat psikologis ketika berpuasa selain meningkatkan sisi spiritualitas kepada Allah SWT, kita juga memiliki rasa kedekatan dengan tuhan rasa spiritualitas yang tinggi.
Hal ini sangat baik untuk perkembangan emosi, kemudian ketika belajar untuk mengelola stres kita memiliki cara mengendalikan stres yang baik dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Selama Bulan Ramadan, banyak hal-hal positif yang berdampak bagi psikologis diri sendiri. Marilah kita melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Kita berusaha untuk melawan segala macam hawa nafsu yang ada di dalam tubuh kita. Belajar lah untuk mengendalikan emosi kita. Apabila berhasil melakukannya secara baik, maka akan sangat baik sekali untuk diri kita.(*)
Oleh : Primalita Putri Distina, Dosen Psikologi Islam, IAIN SAS Babel. (Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220403-Primalita-Putri-Distina-Dosen-Psikologi-Islam-IAIN-SAS-Babel.jpg)