Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Dosen Ekonomi UBB Sebut Pasar Takjil Ramadan Jadi Fenomena Geliat Ekonomi Bagi UMKM

Pasar takjil seolah menjadi momen yang selalu menghiasi sepanjang jalan di Kota Pangkalpinang selama Ramadan.

Penulis: Sela Agustika | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra
Potret masyarakat saat berburu takjil di pinggi Jalan Raya Pos Koba, Bangka Tengah, Rabu (6/4/2022) sore. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pasar takjil seolah menjadi momen yang selalu menghiasi sepanjang jalan di Kota Pangkalpinang selama Ramadan.

Beraneka kuliner dijajalkan, mulai dari kolak, lemang, roti, aneka es buah, hingga makanan-makanan kekinian pun tersedia yang dijual dengan harga yang beragam.

Dosen Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Bangka Belitung (UBB) sekaligus Ketua ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) Cabang Bangka Belitung, Reniati menilai, Ramadan bulan penuh keberkahan yang sekaligus menjadi peluang pelaku UMKM untuk menambah pundi-pundi pendapatan.

Ia mengungkapkan, maraknya pedagang takjil menjelang buka puasa adalah salah satu fenomena geliat ekonomi bagi UMKM.

Dosen Fakultas Ekonomi UBB, Reniati. (Ist/Dok. Pribadi)
Dosen Fakultas Ekonomi UBB, Reniati. (Ist/Dok. Pribadi) (istimewa)

Dikatakan Reiniati, guna menarik daya beli masyarakat, para penjual atau pelaku UMKM harus meningkatkan inovasi baik produk maupun pelayanan dan pengemasan.

Bahkan untuk terus bangkit dan bertahan UMKM harus memahami apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan konsumen.

"Selain menjual secara offline, ada juga masyarakat yang tidak sempat membeli secara langsung oleh karena itu mereka bisa mempromosikan produknya lewat online. Seperti melalui whatsapp, facebook dan instagram. Untuk produk makanan dan minuman trend sekarang harus lebih baik kualitas dan pengemasannya," jelas Reni kepada Bangkapos.com, Kamis (7/4/2022).

Menurutnya, Kondisi perekonomian Pasca Pandemi Covid 19 tahun 2020 sudah menampakkan kondisi yang lebih baik dimana pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung di tahun 2021 sebesar 5,05% dan diatas rata-rata nasional 3,69 persen. 

"Tentunya ini merupakan kondisi yang memunculkan optimisme sejalah ditahun 2020 kita mengalami pertumbuhan yang negatif yaitu minus 2,3 persen masih lebih baik dari pada rata-rata nasional waktu itu minum 2,07%," ungkap Reniati.

(Bangkapos.com/Sela Agustika)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved