Breaking News:

Horizzon

Episentrum Wacana Jokowi Tiga Periode Ada di Istana

SEMPAT mati suri, hilang jejaknya, dan dituding mandul, rupanya gerakan mahasiswa itu masih ada

Episentrum Wacana Jokowi Tiga Periode Ada di Istana
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr/Pemred BANGKA POS GROUP

SEMPAT mati suri, hilang jejaknya, dan dituding mandul, rupanya gerakan mahasiswa itu masih ada. Pelan namun pasti, sejumlah elemen mahasiswa di berbagai daerah, mulai dari Makassar, Jambi, Semarang, dan daerah lainnya termasuk mahasiswa di ibu kota Jakarta mulai turun gunung.

Boleh jadi, akumulasi dari berbagai persoalan bangsa yang tak kunjung ada jawabannya menjadi katalisator bangkitnya parlemen jalanan yang dimotori mahasiswa yang bermarkas di kampus.

Konflik agraria di berbagai daerah, termasuk Kendeng yang mencuat ke permukaan menjadi sinyal yang terbaca oleh radar mahasiswa yang selalu berada di garis perlawanan. Meskipun masih lemah, sinyal ini menjadi serius akan kebangkitan gerakan mahasiswa.

Sama lemahnya, sinyal kedua muncul dari wacana pemindahan Ibu Kota Negara. Tidak hanya mahasiswa, publik juga dikejutkan dengan pembahasan UU IKN yang berlangsung super cepat.

Meski sinyal ini lemah, namun soal Ibu Kota Negara membuat kita semua kembali ke pembahasan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law yang juga menyisakan sejumlah persoalan.

Dua alert atau peringatan di radar pergerakan mahasiswa ini menjadi makin sensitif. Apalagi dari dua alert tersebut kemudian muncul sinyal sangat kuat dengan polemik kelangkaan minyak goreng.

Barangkali tidak hanya mahasiswa, kita sebagai awam juga dibuat kehilangan akal sehat melihat ibu-ibu yang hidup di negeri yang merelakan hamparan hutannya dibabat demi sawit harus antre demi seliter minyak goreng.
Kelangkaan minyak goreng ini menjadi penegasan bahwa negara ini kalah dengan korporasi dagang atau mungkin kartel minyak goreng.

Harus diakui, antrean minyak goreng yang terjadi hampir di seluruh daerah ini adalah sebuah tamparan dari tata kelola negara yang tak beres. Lahirnya kebijakan yang kerap berpihak kepada korporasi banyak menjadi esensi dari munculnya hal-hal yang tak masuk akal tersebut.

Setelah terusik dari tidur panjang, gerakan mahasiswa mulai gerah dan akhirnya benar-benar terbangun dan bersiaga untuk menjadi benteng terakhir ketidakberesan pengelola negara melalui gerakan nyata.

Mahasiswa mulai merapatkan barisan membangun soliditas parlemen jalanan menuntut keadilan yang hakiki. Kebetulan alert terakhir yang terbaca di radar pergerakan adalah peringatan yang benar-benar menyinggung fondasi dari konstruksi negara, yaitu konstitusi dengan munculnya wacana aneh bin nekat bernama penundaan pemilu atau presiden tiga periode.

Alert yang terakhir ini benar-benar tak bisa ditoleransi karena selain sudah menggerus pondasi bangunan bernegara, wacana itu juga muncul dari energi keserakahan atas kekuasaan.

Harus diakui, wacana Jokowi tiga periode atau perpanjangan masa jabatan presiden ini muncul dari dalam Istana alias muncul di lingkaran kekuasaan. Bukan hal sulit untuk mencari jejak digital munculnya wacana ini yang patut diduga sebagai sebuah gerakan yang terstruktur, sistematis, dan masif.

Mari kita buka memori kita pada 15 November 2021. Meski momen ini bukan yang pertama dan satu-satunya, namun setidaknya apa yang terjadi kala itu adalah embrio sebuah gerakan mempertahankan kekuasaan dengan menabrak tatanan konstitusi bernegara yang sudah kita sepakati.

Bertempat di Patung Kuda, segelintir orang yang mengatasnamakan pendukung Jokowi Prabowo memunculkan gagasan menduetkan Jokowi dan Prabowo untuk maju di kontestasi nasional tahun 2024.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved