Mutiara Ramadan

Ramadan Bulan Berbagi

Bulan Ramadan menjadi bulan yang penuh kemuliaan, bulan yang dinanti-nantikan seluruh kaum muslimin di penjuru dunia.

bangkapos.com
Ustaz H Muhammad Kurnia, Lc, M.Ag. (Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani) 

Ramadan Bulan Berbagi 
Oleh: Ustaz H Muhammad Kurnia, Lc, MAg


BANGKAPOS.COM-BANGKA - Bulan Ramadan menjadi bulan yang penuh kemuliaan, bulan yang dinanti-nantikan seluruh kaum muslimin di penjuru dunia. Bukan tanpa sebab karena Bulan Ramadan adalah bulan yang Allah turunkan Alquran di dalamnya.

Bulan di mana dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT, karena di Bulan Ramadan doa-doa kita akan diijabah oleh Allah SWT . Ada ulama yang mengatakan bahwasanya Bulan Ramadan disebut juga bulan untuk  berbagi karena barangkali kita hidup tentu pada nasib yang berbeda-beda.


Kita hidup pada keadaan dan latarbelakang keluarga yang berbeda, yang tidak sama satu dengan yang lainnya.  Maka Bulan Ramadan ini merupakan momentum untuk membangun nilai-nilai persaudaraan dengan saudara-saudara  yang kesulitan.


Ini saatnya membantu mereka yang butuh pertolongan. Seandainya kita menolong saudara yang lain sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, yang artinya  sesungguhnya Allah SWT akan memberikan pertolongan pada hamba-Nya. Seandainya hamba-Nya mau menolong saudaranya yang lain. 


Maka pada Bulan Ramadan ini, kita dituntut secara harta secara finansial untuk membantu saudara yang lain. Orang yang punya kelapangan rezeki maka dia akan menolong saudara-saudaranya yang lain dengan cara, pertama melalui pintu zakat, ini merupakan kewajiban bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT pintu sedekah, kemudian pintu wakaf, pintu infaq pintu untuk melakukan banyak nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan karena kebaikan itulah yang akan menjadi penolong di hadapan Allah SWT.


Bersedekah di Bulan Ramadan menjadi momentum yang paling istimewa, karena sedekah pada bulan Ramadan menjadi waktu yang paling baik untuk mengeluarkan harta  di jalan Allah SWT. Bukan karena balasan pahalanya yang berlipat ganda, tapi Allah SWT menjanjikan keberkahan begitu banyak ketika bulan Ramadan.


Kita diharuskan untuk menjadi muslim  yang mensedahkan hartanya di jalan Allah SWT. Jangan pernah merasa bahwa harta yang Allah titipkan semuanya murni milik kita. Tetapi di dalam harta yang Allah SWT titipkan  ada hak fakir miskin, hak anak-anak yatim,  hak para penghafal penghafal Alquran, dan para santri santri yang sedang belajar ilmu agama Allah.


Maka tatkala kita belanjakan harta di jalan Allah SWT, kebaikan itulah yang menyelamatkan kita ketika  berada di alam kubur. Harta yang kita simpan akan menjadi rebutan, harta yang kita kumpulkan seberapa banyaknya, ketika meninggal tidak mendatangkan manfaat apapun.


Namun,  jika seandainya kita mempunyai harta walaupun sedikit tetapi kita manfaatkan di jalan Allah SWT, misalnya  untuk bersedekah, untuk menolong dan membantu saudara-saudara  yang lain maka inilah yang kelak akan menyelamatkan kita di hadapan Allah SWT.


Bukankah kita dituntut sebagai manusia untuk peduli dengan saudara saudara yang lain.  Maka jangan sampai ketika hari kemenangan tiba kita semua bergembira dengan euforia Hari Raya Idulfitri. Namun ternyata masih ada saudara-saudara kita yang bersedih lantaran kebutuhan ekonominya belum tercukupi.


Di sini kewajiban bagi kita orang-orang yang Allah SWT titipkan rezeki lebih k untuk peduli kepada saudara-saudara yang lain. Di bulan Ramadan ini Allah SWT jadikan hati kita  yang lembut untuk melakukan nilai-nilai kebaikan.  Karena tatkala kita bersedekah dan berbagi kepada saudara-saudara, kita menolong dalam kebaikan.  Maka di situlah setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT.


Dalam surat Ar-Rahman, Allah SWT menjelaskan setiap kebaikan yang dilakukan pasti akan dibalas Allah dengan kebaikan pula. Boleh jadi hari ini kita mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, lantaran dulu orang tua, kakek-kakek kita , para pendahulu kita, mereka banyak melakukan kebaikan untuk menolong dan membantu orang lain..


Mari sama-sama kita melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya melalui harta kita,  ilmu kita dengan pangkat jabatan  sehingga kelak kebaikan itu akan dibalas oleh Allah SWT. Mungkin  tidak kepada kita kebaikan itu akan dibalas oleh Allah  SWT, melainkan kepada anak cucu kita kelak. (Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani).

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved