Breaking News:

INILAH Ramos Horta Presiden Timor Leste Terpilih, Menang Telak dari Petahana

Ramos Horta menang dengan 62,09 persen suara melawan petahana Francisco “Lu-Olo” Guterres dengan 37,91 persen suara

REUTERS/Lirio da Fonseca
Calon presiden Timor Leste Jose Ramos Horta menunjukkan jarinya yang bertinta setelah memberikan suaranya pada putaran kedua pemilihan presiden Timor Leste di Dili, Timor Leste, 19 April 2022. 

Ramor Horta berdarah Mestiço. Ibunya orang Timor dan ayahnya Portugis yang diasingkan ke Timor Portugis oleh diktator Salazar.

Dia dididik di sebuah misi Katolik di desa kecil di Soibada, yang belakangan dipilih oleh Fretilin sebagai markas besarnya setelah invasi Indonesia. Dari sebelas saudaranya, empat terbunuh oleh militer Indonesia.

Ramos Horta belajar Hukum Internasional Publik di Akademi Hukum Internasional Den Haag (1983) dan di Universitas Antioch di mana ia mendapatkan gelar Master dalam Studi Perdamaian (1984).

Dia terlatih dalam Hukum Hak Asasi Manusia di Institut Internasional Hak-hak Asasi Manusia di Strasbourg, Prancis (1983).

Ramos Horta juga mengikuti kelas-kelas pascasarjana dalam Kebijakan Luar Negeri Amerika di Universitas Columbia di New York (1983).

Dia juga adalah anggota Perkumpulan Senior College St Anthony, Oxford, England (1987).

Ramos Horta sangat aktif terlibat dalam pengembangan kesadaran berpolitik di Timor Portugis yang menyebabkannya diasingkan selama dua tahun pada 1970-1971 ke Afrika Timur Portugis.

Ini adalah sebuah tradisi keluarga karena kakeknya juga pernah diasingkan, dari Portugal ke pulau Azores, kemudian ke Cape Verde, Guinea Portugis dan akhirnya ke Timor Portugis.

Ramos Horta adalah seorang moderat di kalangan kepemimpinan nasionalis Timor yang sedang muncul.

Ia diangkat menjadi Menteri Luar Negeri dari pemerintahan "Republik Demokratis Timor Leste" yang diproklamasikan oleh partai-partai pro-kemerdekaan pada November 1975.

Ketika diangkat menjadi menteri, Ramos Horta baru berusia 25 tahun. Ia meninggalkan Timor Leste tiga hari sebelum pasukan-pasukan Indonesia menyerang, untuk memohon pembelaan bagi kasus Timor di depan PBB.

Ramos Horta tiba di New York untuk berpidato di depan Dewan Keamanan PBB dan mendesak mereka untuk mengambil tindakan terhadap militer Indonesia yang melakukan pembantaian atas lebih dari 200.000 orang Timor Timur selama 1976 dan 1981.

Ramos Horta adalah Wakil Tetap Fretilin untuk PBB selama 10 tahun.

(Kontan.CO.ID) (Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani) (Pos-Kupang.com/Alfons Nedabang)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved