Breaking News:

Human Interest Story

Kisah Fakhri Penghapal Al Quran Ponpes Manba’Ul Ulum, Sejak Kecil Sudah Belajar Iqra dan Al Quran

Saat masih SD, Fakhri bingung ingin menjadi apa. Namun kini, ia bercita-cita ingin menjadi Hafidz Quran.

Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Andrew Rays Adrian
Fakhri hafiz Quran, Pondok Pesantren Manba’Ul Ulum. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Saat masih SD, Fakhri bingung ingin menjadi apa. Namun kini, ia bercita-cita ingin menjadi Hafidz Quran.

Sejak kecil Fakhri sudah dituntut oleh orangtuanya untuk belajar Iqra dan Al Quran, sehingga saat mondok ia dapat memahami bacaan dengan mudah.

“Pada saat anak-anaknya tamat Sekolah Dasar (SD), ayah saya selalu memasukkan anaknya ke pondok pesantren. Jadi saya disuruh ikut kakak saya yang kebetulan Hafidz Quran di Jawa tepatnya di Purwokerto pada tahun 2016.” ungkap Fakhri kepada Bangkapos.com (22/04/2022)

Pada saat di Pondok Pesantren Manba’Ul Ulum, ustaz membimbing dengan metode Binnadhar untuk setoran hapalan dengan membaca dulu dari Alif Lam mim hingga selesai.

“Sebelumnya Ustaz mengatakan bahwa saya sudah lancar membaca Al Quran, karena jauh sebelum mondok saya sudah belajar. Dalam sehari itu hanya 3 baris, karena belum ada kemampuan menghapal cepat, akhirnya lama-kelamaan bisa 7 baris,” kata Fakhri

Setiap tahun pondok pesantren Manba’Ul Ulum mengadakan program membaca Al Quran 30 Juz.

Ada momen ketika Fakhri tersanjung melihat teman-teman mereka yang berhasil menghapal, sehingga hal itu mendorong Fakhri untuk bisa menghapal Al Quran juga.

"Awalnya pernah putus asa, karena sulit menghapal, tapi dengan tekad, usaha serta doa, akhirnya Fakhri bisa  Al Quran 30 juz dengan mudah," jelas ungkap santri laki-laki asal Penyak Kabupaten Bangka Tengah.

Menurut Fakhri waktu yang bagus untuk menghapal biasanya pada waktu maghrib dan menjelang subuh, karena waktu subuh otak masih fresh..

Kesulitan dalam memahami bacaan itu karena jarang diulang. Jadi metode yang dilakukan Fakhri yaitu mengulang dan dibantu oleh teman, dengan cara satu menyimak dan satu lagi menghapal.

Masa sulit yang dialami ketika menjadi Hafidz Quran yaitu ketika menghapal di hjuz 29, karena dulu sempat sakit dan kebetulan baru awal masuk di Pondok Pesantren Manba’Ul Ulum.

Menurut Fakhri, hafalan mulai lemah itu biasanya melakukan dosa seperti makasiat, sehingga semakin melemah hapalannya..

“Buat teman-teman diluar sana, agar niatkan sungguh-sungguh menjadi Hafidz Al Quran, karena hal ini sangat dimuliakan oleh Allah SWT. Dulu bagi saya mustahil menghapal 30 Juz, selembar saja itu sulit, jadi kuatkan tekad dan kemauan diri kita walaupun sulit,”pesan Fakhri.

(Bangkapos.com/Andrew Rays Adrian)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved