Breaking News:

Militer dan Kepolisian

Warga Ukraina, Inilah Sniper Wanita Paling Mematikan Sepanjang Sejarah, Begini Kisah Hidupnya

selama bertugas berhasil membunuh 309 tentara musuh, termasuk 36 penembak jitu Jerman ini ternyata merupakan warga negara Ukraina

Editor: Iwan Satriawan
the Bundeswehr / Walter Wayman.
ilustrasi Sniper 

BANGKAPOS.COM-Hingga saat ini tidak ada yang mampu menggantikan rekornya sebagai sniper-wanita-paling-mematikan' title=' sniper wanita paling mematikan'> sniper wanita paling mematikan di dunia sepanjang sejarah.

Dia adalah Lyudmila Pavlichenko, seorang warga negara Ukraina yang lahir di sebuah desa kecil di luar Kiev.

Uniknya wanita yang selama bertugas berhasil membunuh 309 tentara musuh, termasuk 36 penembak jitu Jerman ini ternyata merupakan warga negara Ukraina yang kini sedang berperang dengan pewaris Uni Soviet yaitu Rusia.

Lahir pada 1916 di Ukraina,  Lyudmila Pavlichenko terkenal sebagai  sniper wanita paling mematikan sepanjang sejarah.

Dilansir dari kompas.com, ia ikut terjun ke medan tempur di Perang Dunia II untuk membela Red Army, julukan militer Uni Soviet.

Lyudmila Pavlichenko
Lyudmila Pavlichenko (pinterest)

Saking jitunya bidikan Pavlichenko, ia sampai dijuluki Lady Death (Dewi Kematian), dan menjadi momok tersendiri bagi para tentara Jerman.

Reputasinya di garis depan medan perang sangat populer, dengan 309 korban tewas yang dikonfirmasi atas namanya.

Hebatnya lagi, itu hanya dilakukannya dalam hitungan bulan dan menempatkannya di jajaran penembak jitu terhebat sepanjang masa.

Di masa kecilnya Pavlichenko menekuni bidang olahraga, dengan berkompetisi di beberapa cabang atletik.

Bakatnya dalam menembak kemudian terendus usai seorang bocah lelaki menyebarluaskan prestasi Pavlichenko.

Tak lama kemudian wanita kelahiran 12 Juli 1916 itu jatuh cinta pada olahraga menembak dan bergabung dengan klub tembak.

Singkat cerita Pavlichenko lalu mendapat lencana  sniper serta sertifikat penembak jitu, dan saat kuliah di Universitas Kiev ia mengembangkan keterampilannya lagi dengan masuk ke akademi  sniper.

Menurut catatan Sky History, ketika Hitler melancarkan Operasi Barbarossa pada Juni 1941, Pavlichenko yang kala itu berusia 24 tahun berlari ke kantor perekrutan di Odesa, Ukraina.

 Awalnya petugas perekrut menyuruhnya untuk jadi perawat saja, tetapi petugas laki-laki itu langsung berubah pikiran usai Pavlichenko menunjukkan sertifikat dan lencana  sniper-nya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved