Breaking News:

Tribunners

Ketekunan Seorang Arkeolog

Dari perspektif lain, film ini sekaligus menyoal dan menggugat peran kaum sarjana dan akademisi kampus

Editor: suhendri

Oleh: Muakhor Zakaria, Dosen Perguruan Tinggi La Tansa, Rangkasbitung, Lebak, Banten

"PENGETAHUAN yang setengah-setengah itu sangat berbahaya." Kata-kata ini disampaikan Basil Brown (diperankan Ralph Fiennes) dalam film " The Dig" (2021), tentang petualangan seorang pemuda yang menekuni ilmu arkeologi secara otodidak. Sejak usia 12 tahun, Brown sudah mengikuti ayahnya mempelajari teknik penggalian situs-situs arkeologis. Kebiasaan mengikuti ayahnya itu kemudian meretas menjadi kecintaan untuk menggeluti ilmu arkeologi. Lewat perjalanan waktu, Brown terus menekuni ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bidang arkeologi, seperti geologi, astronomi, hingga kemudian menggeluti bahasa Latin.

Perjumpaan dengan seorang janda kaya, Edith Pretty ( Carey Mulligan) yang hidup bersama anaknya, Robert Pretty, kemudian direkomendasikan oleh atasan Brown di Ipswich Museum. Hubungan antara Brown dan Edith dalam proses penggalian awal, ditambah pengetahuan yang makin digeluti sang anak, membuat Robert seakan-akan menemukan sosok ayah yang hilang dalam diri Brown.

Sejak usia belasan tahun, hari-hari Edith disibukkan untuk merawat ayahnya yang sakit-sakitan, hingga ia tak sempat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Dia menikah dengan seorang kolonel tentara, dan tak lama setelah Robert lahir, suaminya itu pun meninggal dunia. Sementara itu, Edith sendiri mengaku mengidap kelainan jantung, akibat demam rematik yang dideritanya sejak masa kanak-kanak.

Tetapi, Edith yang berwatak tegas bukanlah wanita yang gampang menyerah pada penyakit. Brown sepakat pada pendapat Edith, apalah artinya kehidupan yang sebentar ini, jika pada akhirnya kematian akan menghapus segalanya? Lalu, apa yang tersisa dari kita sebagai manusia? Apakah hanya sekadar mati dan membusuk?
"Dari cetakan tangan manusia pertama pada dinding gua, kita adalah bagian dari sesuatu yang terus-menerus ada. Jadi, pada hakikatnya kita tidak benar-benar mati," tegas Brown.

Itulah filosofi arkeologi, bahwa ia meliputi ilmu yang berkaitan dengan perburuan kenangan. Bukan semata-mata untuk mengetahui masa lalu, tetapi juga memahami siapa kita hari ini, dan apa yang harus dilakukan untuk menyongsong masa depan.

Sejak 60 tahun lalu, British Museum akhirnya mengakui peran Edith dan Brown yang cukup besar di bidang arkeologi. Nama mereka diabadikan di museum tersebut. "Memang, hidup ini begitu singkat," ujar Edith, "tetapi kita tak bisa berpangku tangan, karena ada momen tertentu dalam hidup ini yang harus kita raih." Di usia senjanya, Edith telah menyerahkan dan menyumbangkan semua artefak hasil penggaliannya kepada British Museum. Sampai kemudian, komisi penilaian mengakui bahwa semua benda-benda berharga itu adalah milik Edith Pretty.

Kecintaan pada ilmu

Sejak penggalian awal, Brown telah berhasil mengangkat temuan-temuan berharga, seperti paku keling besi atau rivet yang biasa digunakan orang-orang zaman dahulu untuk membangun kapal. Seketika itu, berduyun-duyun para arkeolog dari Cambridge dan British Museum berdatangan, dan saling mengambil posisi untuk berebut peran masing-masing.

Sebagai arkeolog yang menuntut ilmu secara otodidak, Brown dicemooh dan disingkirkan. Penggalian segera direbut dan diambil-alih oleh British Museum, di bawah pimpinan seorang akademisi arkeologis bernama Charles Phillips (Ken Stott). Brown dikucilkan lantaran dia bukan arkeolog jebolan kampus, dan dianggap amatiran belaka. Bayangkan, ketika artefak dari Sutton Hoo dipamerkan untuk pertama kalinya (1951), nama Basil Brown sama sekali tak disebutkan. Baru belakangan, kontribusi Brown sebagai penggali pemula, akhirnya diakui secara nasional.

Padahal, kalau mereka mau jujur, dari sisi akademis pun Brown tak kalah hebat ketimbang pada sarjana doktoral lulusan perguruan tinggi. Pengetahuan arkeologis Brown justru lebih unggul dari para jebolan Cambridge tersebut. Sejak pertama kali menemukan koin emas, dia sudah bisa mengendus bahwa artefak itu berasal dari periode Anglo-Saxon. Kebenaran itu bisa dibuktikan di kemudian hari, sementara para akademisi bertahun-tahun saling berdebat sengit, dan kebanyakan mereka berpendapat bahwa artefak itu berasal era Vikings.

Fenomena ini mengajarkan kita semua, bahwa kepandaian dan kemahiran di bidang tertentu, tak bisa diperoleh hanya semata-mata dari bangku kuliah. Hal tersebut mengingatkan kita pada ketekunan seorang Thomas Alva Edison, yang di kemudian hari memunculkan adagium, bahwa keuletan dan ketekunan jauh lebih utama dari suatu mukjizat.

Pengakuan akan kebesaran nama "Basil Brown" adalah buah dari pembelajaran dan pengalaman sepanjang hidup. Baginya, tak perlu ada klasifikasi dalam menuntut ilmu, karena hakikat ilmu harus terus dicari dan ditelusuri sepanjang hayat. Meskipun hanya mempelajari teknik penggalian dari sang ayah, Brown tak henti-henti membaca dan menggali situs arkeologis selama 30 tahun lebih. Secara diam-diam, dia pernah mengakui ada sesuatu yang "aneh" dalam kandungan tanah Suffolk, sampai kemudian dunia arkeologis berhasil menemukan teka-teki yang dipersoalkan Brown tersebut.

Saling berebut posisi

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved