Breaking News:

Ambruknya Bursa Global, Seret IHSG Ikut Amblas, 113 Saham Turun dan 198 Saham Stagnan

Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini Rabu (11/5/2022) pagi kembali lesu, bahkan anjloknya ini sudah sejak kemarin.

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini Rabu (11/5/2022) pagi kembali lesu, bahkan anjloknya ini sudah sejak kemarin.

Ambruknya bursa Asia dan bursa global menyeret IHSG ikut melemah 6.809.178 poin atau turun 0,16 persen.

Sebanyak 206 saham naik, 113 saham turun dan 198 saham stagnan.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Cabang Bangka Belitung, Yoseph menyebut seluruh indeks sektoral melemah, mengikuti pelemahan IHSG.

"Lebih kepada faktor global, ekonomi internasionalkan sekarang sedang goyang. Inflasi Eropa dan Amerika tinggi faktornya supply barang-barang sedikit atau panic buying," kata Yoseph kepada Bangkapos.com, Rabu (11/5/2022).

Menurutnya, perang Rusia dan Ukraina juga makin panas sehingga negara G7 yang besar-besar sudah berpihak ke Ukraina dan Amerika sudah membuat kantor perwakilan di Ukraina.

"Sementara China yang supplynya banyak ke negara-negara itu sedang lockdown. Bisnis nya stuck, akhirnya produksi barang juga berkurang," sebutnya.

Tak hanya itu kata Yoseph penyebab IHSG turun juga karena dana Amerika naikin suku bunga, sehingga investasi di Amerika menjadi terlihat lebih menarik.

"Bulan Mei identik dengan istilah Sell on May and Go Away banyak yg percaya sehingga market juga terbentuk turun. Kemudian rata-rata dibulan Mei Amerika Eropa musim liburan, orang banyak gak transaksi saham," bebernya.

Anjloknya Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini disebut Yoseph susah diprediksi hingga kapan, sebab perang antar kedua negara itu tidak bisa diperkirakan kapan selesai.

"Kalau ini hanya karna pandemi covid, mungkin masih bisa diprediksi. Tapi ada perang Rusia dan Ukraina juga yang susah buat diprediksi, mungkin tunggu kabar gimana kelanjutan perang ini," ungkapnya.

"Namun sebenarnya gak perlu khawatir, Indonesia punya outlook yang kuat, apalagi komoditi kita yang terbesar. Turunnya gak akan lama, paling lama bulan depan bisa rebound lagi," pesan Yoseph.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved