Kisah Laksamana Cheng Ho Pejabat China yang Namanya Mau Dihapus dari Sejarah, Ada Apa?
Kisah Laksamana Cheng Ho Pejabat China yang Namanya Mau Dihapus dari Sejarah, Ada Apa?
BANGKAPOS.COM--Laksamana Zheng He atau lebih dikenal Laksamana Cheng Ho adalah salah satu tokoh muslim ahli geografi yang berperan penting dalam sejarah penjelajahan dunia.
Dia merupakan penjelajah terkenal dari China yang mengembara antara 1405-1433.
Selama kurang lebih 28 tahun, ia pernah melakukan ekspedisi ke berbagai negeri di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia.
Saat itu, armadanya terdiri 307 kapal yang membawa sekitar 27.000 pelaut.
Bahkan hingga saat ini, belum ada yang dapat melebihi armada yang dimiliki Laksamana Cheng Ho.
Kapal yang paling besar memiliki panjang 121,9 meter dengan lebar 56,7 meter.

Sebagai perbandingan, Santa Maria Columbus diperkirakan hanya memiliki dek sepanjang 17,7 meter.
Pada 1405, yang pertama dari tujuh pelayaran harta karun dimulai.
Yang memimpin pelayaran ini adalah Cheng Ho, yang memimpin hingga 27.870 orang dengan 317 kapal.
Selain pelaut, ada juga juru tulis, juru bahasa, tentara, pengrajin, dokter, dan ahli meteorologi dalam pelayaran ini.
Sedangkan untuk kargo, kapal-kapal tersebut menyimpan barang-barang mewah dalam jumlah besar, termasuk sutra, porselen, serta barang-barang emas dan perak.
Pelayaran Laksamana Cheng Ho
Pelayaran pertama membawa 'Armada Harta Karun' ke Calicut, India barat daya, di mana rempah-rempah seperti kapulaga, kayu manis, dan lada dibeli.
Sebelum mencapai Kalikut, armada Cheng Ho melakukan perjalanan ke beberapa daerah di Asia Tenggara, antara lain Champa (Vietnam selatan), Siam (Thailand), Malaka, dan Jawa.
Dalam perjalanan mereka kembali ke China, armada berhenti di Ceylon (Sri Lanka).
Pada tahun 1407, Armada Harta Karun kembali ke Tiongkok, tidak hanya sarat dengan rempah-rempah, tetapi juga dengan utusan asing yang datang untuk memberi penghormatan dan memberikan penghormatan kepada Kaisar Ming.
Antara 1408 dan 1433, enam pelayaran harta karun kembali dilakukan dan masih dipimpin oleh Cheng Ho.
Selama perjalanan ini, Cheng Ho merundingkan pakta perdagangan, melawan bajak laut, mencopot raja yang berlawanan, dan membawa kembali lebih banyak utusan dan upeti ke istana Ming.
Akhir Hidup Laksamana Cheng Ho
Cheng Ho meninggal pada tahun 1433 di Kalikut, di mana ia memutuskan untuk tinggal selama perjalanannya yang ke-7 karena kesehatannya yang menurun, atau dalam perjalanan kembali ke Tiongkok.
Namun ada yang mempercayai bahwa ia sebenarnya berhasil kembali ke China, dan meninggal beberapa tahun kemudian di sana.
Segera setelah kematian Cheng Ho, ia menjadi sosok yang tidak disukai, dan sebagian besar catatan sejarah Tiongkok tentangnya dilenyapkan.
Dapat juga disebutkan bahwa Kaisar Yongle meninggal pada tahun 1424, dan pada masa pemerintahan penggantinya, Kaisar Hongxi, tidak ada pelayaran yang dilakukan.
Pelayaran terakhir Cheng Ho dilakukan pada masa pemerintahan Kaisar Xuande, cucu Yongle.
Sebaliknya, di banyak komunitas Tionghoa di Asia Tenggara, Cheng Ho dihormati sebagai pahlawan rakyat.
Mengenal Sosok Laksamana Cheng Ho
Bagi orang Indonesia nama Laksamana Cheng Ho tentu tidak asing lagi.
Cheng Ho diyakini ikut menyebarkan agama Islam di Nusantara melalui ekspedisinya antara 1405 hingga 1433.
Melansir Historia, Cheng Ho memiliki nama asli Ma Ho. Dia lahir dari orangtua dari Etnik Hui di Yunan pada 1371.
Etnik Hui merupakan etnik yang bermayoritas beragama Islam.
Mereka berasal dari campuran Mongol-Turki.
Pasukan Dinasti Ming pada 1381, bersama Jendral Fu Yu-te, menduduki Yunan dan menangkapi semua lelaki dewasa dan anak-anak.
Dalam buku Arus Cina-Islam-Jawa, Sumanto Al Qurtuby menulis bahwa ketika Jendral Fu Yu-te menduduki Yunan, mereka tak segan memotong alat kelamin para pria.
Hal itu dilakukan agar para pria di sana tunduk pada negara, tak terkecuali Ma Ho.
“Dalam perkembangannya, Ma Ho tampil seperti raksasa dengan tinggi lebih dari dua meter yang mungkin disebabkan defisiensi hormon lelaki akibat emaskulasi,” tulis Sumanto sebagaimana dikutip Historia.
Kemunculan Cheng Ho Ketika tumbuh dewasa, Ma Ho membantu Ceng Chu merebut takhta Dinasti Ming dari keponakannya, Kaisar Kien Wen alias Jianwen.
Pada 1402, upaya tersebut berhasil dan Ceng Chu diberi mahkota atas Dinasti Ming dan namanya berubah menjadi Kaisar Yun Lo alias Yongle.
Jianwen lari dan menjadi pelarian politik.
Karena jasanya, Kaisar Yongle mengganti nama Ma Ho menjadi Cheng Ho.
Tak hanya itu, Cheng Ho juga diberi mandat untuk memegang komando tertinggi atas ribuan abdi dalem di Dinas Rumah Tangga Istana.
Menurut Sumanto, Kaisar Yongle mengubah diplomasi politik era Jianwen dari jalur darat menjadi jalur laut.
Karena perubahan diplomats itulah, pada masa kepemimpinannya, Kaisar Yongle memerintahkan pembangunan armada kapal untuk Dinasti Ming.
Untuk membangun armada itu, dibutuhkanlah tempat dan bahan baku untuk membuat berbagai macam kapal baik itu kapal dagang, kapal perang, dan kapal penunjang.
Sang kaisar menunjuk Longjiang sebagai lokasi tempat pembuatan mega proyek armada kapal Dinasti Ming.
Bahan kayu pembuatan kapal didapatkan dari pohon sekitar Sungai Min. Setelah melakukan persiapan matang, Kaisar Yongle mengutus Laksamana Cheng Ho memimpin ekspedisi jalur laut.
“Sebagai commander in chief-nya diserahkan kepada Cheng Ho lewat sebuah Dekrit Kerajaan dengan wakil Laksamana Muda Heo Shien (Husain), sekretaris Haji Ma Huan dan Fei Shin (Faisal), juru bahasa Arab selain Ma Huan adalah Hassan, seorang imam pada bekas ibu kota Sin An (Changan),” tulis Sumanto.
Armada tersebut mencakup 62 kapal besar dengan 225 junk (kapal berukuran kecil) dan puluhan ribu orang. Puluhan ribu orang yang ikut ekspedisi tersebut terdiri atas perwira, prajurit, politisi, juru tulis, pembuat peta, tabib, ahli astronomi, ahli bahasa, ahli geografi, dan ahli agama.
Ekspedisi Pada 11 Juli 1405, Cheng Ho mulai memimpin pasukannya.
Ibu kota dinasti Ming, Nanking, menjadi saksi awal berkumpulnya seluruh pasukan sang laksamana.
Pelayaran armada agung tersebut mulanya singgah di Kota Liuhe. Di tempat persinggahan itu, semua armada dipersiapkan secara maksimal dengan mengondisikan pasukan.
Perjalanan dilanjutkan dengan melewati muara Sungai Min menuju ke Champa (Vietnam masa kini), kemudian dilanjutkan ke Nusantara yang meliputi Jawa, Malaka, Aru, dan Samudra Pasai. Ketika berada di Nusantara, Cheng Ho sempat mengunjungi Sumatra.
Selain itu, armada Cheng Ho juga mengunjungi Majapahit yang ketika itu terjadi perang saudara antara Wikramawardana dan Bhre Wirabumi.
Kala itu, sekitar 170 pasukan rombongan Cheng Ho ikut terbunuh. Ketika mendatangi berbagai daerah di Indonesia, Cheng Ho dan pasukannya memberikan beberapa upeti kepada raja-raja sebagai penghormatan karena telah diperbolehkan melakukan kunjungan.
Daerah yang disinggahi armada Cheng Ho juga mendapatkan kemajuan dalam hal bercocok tanam, beternak, berdagang, seni ukir, dan seni lainnya sebagaimana dilansir Kompas.com.
Setelah meninggalkan Nusantara pada sesi pertama pelayarannya, Cheng Ho dan pasukannya berlayar menyeberangi Samudra Hindia.
Pada 1407, Laksamana Cheng Ho berniat kembali ke kampung halamannya setelah sebelumnya mengunjungi Malaka.
Di Malaka, Cheng Ho dan pasukannya mendapatkan serangan dari bajak laut Chen Zuyi di Palembang.
Namun, kekuatan armada Cheng Ho bisa memberikan perlawanan terhadap aksi para perompak. Sekitar 5.000 bajak laut tewas dan 10 kapal perompak dibakar, sedangkan tujuh kapal lainnya ditangkap.
Chen Zuyi mendapatkan hukuman mati. Setelah berhasil memukul mundur perompak, mereka kembali ke Dinasti Ming pada 2 Oktober 1407.
Ekspedisi tersebut sukses dan dilanjutkan ekspedisi pelayaran kedua dan ketiga yang menjangkau Jazirah Arab dan Afrika Timur.
Hingga akhirnya, ekspedisi ini berlangsung tujuh kali sampai berakhirnya masa kepemimpinan Kaisar Yongle dan digantikan Kaisar Xuande.
Agenda tersembunyi
Melansir Historia, misi ekspedisi Cheng Ho tersebut menjalin persahabatan dengan negara-negara lain serta menunjukkan supremasi politik dan ekonomi bangsa Tiongkok. Namun, selain kedua misi tersebut, ekspedisi Cheng Ho sebenarnya juga membawa agenda tersembunyi.
Penempatan konsul, diplomat, dan duta keliling mesti dibaca dalam penegakan otoritas politik. Demikian pula penempatan konsul dagang mesti dilihat dari aspek ekonomi.
“Juga persebaran para juru dakwah Islam di hampir setiap kota yang disinggahi adalah upaya melakukan misionarisme Islam (Islamisasi),” ujar Sumanto.
“Singkatnya, ekspedisi besar itu menyimpan hidden agenda (agenda tersembunyi) baik untuk kepentingan pragmatis Kekaisaran Ming maupun kepentingan ‘primordial Islam’ Cheng Ho,” sambung Sumanto.
Sebagai contoh di Palembang, Cheng Ho membentuk masyarakat Tionghoa Islam. Sebenarnya di era Kerajaan Sriwijaya, wilayah itu sudah banyak didiami orang-orang Tionghoa.
“Barangkali di Palembang-lah masyarakat Tionghoa Islam di Nusantara yang pertama, kemudian diteruskan di Jawa, Semenanjung dan Filipina,” tulis Sumanto.
Ketika armada Cheng Ho singgah di beberapa tempat di pesisir Jawa, terutama pada pelayaran pertama pada 1405 dan ketiga pada 1413, mereka disambut cukup antusias oleh masyarakat Islam setempat, terlebih para pemuka agamanya.
“Hampir di setiap pesisir Jawa sejak Sunda Kelapa, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara sampai Tuban, Gresik dan Surabaya, Cheng Ho selalu menempatkan orang-orang Islam dari Tiongkok,” tulis Sumanto.
Kendati demikian, sejarawan Universitas Diponegoro, Singgih Tri Sulistyono, mengatakan kepada Historia bahwa dia belum menemukan bukti kalau Cheng Ho melakukan misi Islamisasi.
“Misi pelayarannya untuk meneguhkan kekuasaan kekaisaran Tiongkok di kawasan laut selatan,” kata Singgih kepada Historia.
Cheng Ho meninggal pada 1433. Selama masa hidupnya, dia telah melakukan pelayaran sebanyak tujuh kali dan mengunjungi 37 negara.
Negara-negara tersebut mulai dari Champa sampai India, sepanjang Teluk Persia serta Laut Merah hingga pesisir Kenya, termasuk Nusantara.
Sumber: Historia (Penulis: Aryono) Kompas.com (Penulis Aswab Nanda Pratama | Editor Inggried Dwi Wedhaswary)