Berita Pangkalpinang
Pemkot Pangkalpinang Larang Pengiriman Hewan Ternak, Ini Penyebabnya
Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang, resmi melarang pengiriman hewan ternak masuk dan keluar dari daerah tersebut. Wali Kota Pangkalpinang, Maulan
Penulis: Cepi Marlianto |
BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang, resmi melarang pengiriman hewan ternak masuk dan keluar dari daerah tersebut. Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil mengatakan, pihaknya lebih memilih menerapkan lockdown atau karantina wilayah hall itu imbas menyusul mewabahnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan-hewan ternak karena munculnya wabah PMK yang menjangkiti ternak sapi, kerbau dan kambing.Selain itu, pihaknya juga melakukan pengetatan lalu lintas ternak ini.
“Kita sudah lockdown tidak menerima sapi-sapi dari luar sampai sekarang ini,” kata dia di Pangkalpinang kepada Bangkapos.com, Selasa (17/5/2022).
Molen sapaan akrab Maulan Aklil menyebut, sejauh ini memang terdapat 336 hewan ternak di Pangkalpinang yang dinyatakan suspek PMK. Sejauh ini pihaknya juga tengah berusaha menangani wabah tersebut dengan baik.
Di mana Dinas Pangan dan Pertanian setempat telah melakukan tindakan yakni melakukan penyuntikan dan tindakan pengobatan lain dalam mengantisipasi PMK dalam rangka pencegahan dan penyembuhan kepada peternak yang sapinya terserang PMK.
Menurut dia, langkah yang dilakukan dalam menanggulangi wabah ini sudah sesuai dengan harapan banyak orang dengan melakukan penyuntikan dan penyembuhan terhadap hewan ternak yang terserang PMK. Beruntungnya sampai sekarang belum terdapat laporan peternak yang mengalami kerugian akibat PMK tersebut.
“Sampai hari ini saya menerima laporan belum ada sampai yang sapinya mati, jadi ini bisa kita atasi dengan baik, memang yang agak parah saat ini kukunya saja,” terang Molen.
Lebih lanjut kata dia, hewan ternak yang terserang PMK di Pangkalpinang memang banyak yang menyerang kuku, terutama sapi jenis limosin. Apabila sapi jenis tersebut terserang PMK harus segera ditangani, karena dengan bobot yang berat dan kaki yang mengalami luka hal itu sangat berpengaruh kepada aktivitas hewan ternak.
“Misalnya sapi limosin yang besar, karena kukunya besar karena badan berat membawa badan itu agak bahaya, ini yang kita khawatirnya. Kalau jenis sapi lokal, sapi Bali itu badannya kecil, jadi bobot badan tidak mempengaruhi kakinya yang sakit tadi,” ujar dia.
Molen menilai, penularan PMK kepada hewan ternak ini memang cukup tinggi. Maka dari itu dia mengimbau para peternak yang sapinya terinfeksi dan mati untuk segera ditangani dengan baik sesuai standar yang telah ditentukan agar tidak menyebabkan penyebaran wabah PMK lebih luas lagi.
Maka dari itu Pemkot Pangkalpinang masih akan terus melakukan lockdown hewan ternak dari dan keluar wilayah tersebut sampai pemerintah pusat menyatakan aman.
“Ini yang kita lakukan mudah-mudahan saja nanti mulai sembuh memang tingkat penularannya sangat tinggi kita lockdown sampai dinyatakan aman oleh pemerintah pusat,” beber dia.
Wali Kota tak memungkiri, dengan adanya lockdown kemudian masa recovery atau penyembuhan hewan ternak yang terserang PMK yang cukup lama akan mengakibatkan melonjaknya harga sapi menjelang hari raya Iduladha.
Hal itu karena tidak adanya stok sapi dari luar, namun sapi lokal dipastikan masih mampu memenuhi kebutuhan akan daging sapi di Pangkalpinang.
“Kan masih panjang waktunya, jadi kita kejar bulan ini sembuh. Tapi memang perkiraan kami harga sapi akan naik saat Iduladha, Karena stok sapi dari luar tidak boleh masuk dan sapi dari kita recovery untuk penyembuhan itu juga butuh waktu. Jadi menurut hemat saya sapi akan langka, dan mungkin harganya juga akan naik lumayan mahal dan tinggi,” ungkap Wali Kota.
Kendati begitu Molen meminta masyarakat tak perlu khawatir maupun panik. Pasalnya, penyakit ini tidak bisa menyebar ke manusia. Hanya hewan jenis kuku terbelah seperti sapi, kerbau, kambing, dan babi yang bisa terserang. Pihaknya akan terus bekerja keras untuk meminimalisir penyebaran.
“Tidak perlu takut jadi sapi yang terkena PMK ini tidak menular kepada manusia, aman dikonsumsi oleh manusia. Cuma sapinya harus kita beri penanganan khusus supaya tidak mati, segera sembuh dan tidak menular ke lainnya,” kata Molen. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220404-molen2.jpg)