Breaking News:

Erdogan Tolak Mentah-mentah Finlandia dan Swiss Gabung NATO: Tak Perlu Dibujuk!

"Sangat penting untuk mengakhiri dukungan bagi organisasi teroris dan mencabut pembatasan ekspor ke Turki. Saya tidak mengatakan itu sebagai alat..."

AFP/ADEM ALTAN
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (AFP/ADEM ALTAN) 

BANGKAPOS.COM -- Pemerintah Turki meolak mentah-mentah Finlandia dan Swiss untuk bergabung dengan NATO.

Disebutkan, pada 15 Mei 2022 lalu, Finlandia dan Swedia secara resmi mengumumkan niat mereka untuk bergabung dengan NATO setelah serangan militer Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina.

Untuk bergabung dengan NATO, Swedia dan Finlandia membutuhkan semua 30 anggota NATO menyetujui pengajuan mereka.

Namun, pengajuan keanggotaan NATO oleh Swedia dan Finlandia mendapat hambatan, karena Turki menolak tawaran kedua negara tersebut.

Proses ratifikasi diperkirakan akan memakan waktu hingga satu tahun, tetapi keberatan Turki bisa membuat prosesnya lebih lama.

Baca juga: 6 BACAAN Doa Saat Terlilit Utang hingga Doa Minta Dibukakan Pintu Rezeki

Baca juga: Singapura Akhirnya Terang-terangan Ungkap Tiga Alasan Kenapa Larang UAS Masuk ke Singapura

Baca juga: Aturan Terbaru Naik Pesawat, Kereta Api, Bis, dan Kapal, Tak Perlu Tes PCR dan Antigen

Baca juga: Ingat Hercules Eks Preman Tanah Abang? Kini Jalankan Tambang Timah di Bangka Belitung, Ini Sosoknya

Baca juga: Jadi Negara Maju, Rumah-rumah di Amerika Ternyata Terbuat dari Kayu dan Tanpa Pagar, Ini Alasannya

Pada konferensi pers, Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Swedia dan Finlandia tidak perlu repot-repot mengirim delegasi ke Ankara untuk membujuk Turki agar mendukung tawaran mereka.

Dikutip dari Reuters, Selasa (17/5/2022), Erdogan mengatakan, "Tak satu pun dari negara-negara ini memiliki sikap yang jelas dan terbuka terhadap organisasi teroris."

"Bagaimana kita bisa mempercayai mereka?" lanjutnya.

Erdogan menyebut Swedia sebagai lokasi berkembangnya organisasi teroris dan para terorisnya berada di parlemen.

Pada Jumat (13/5/2022), Erdogan juga mengkritik Swedia dan Finlandia karena berfungsi menjadi "tempat aman bagi teroris PKK", Partai Pekerja Kurdistan, yang dimasukkan dalam daftar hitam sebagai organisasi teroris oleh Turki, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

"Kami selalu mendukung kebijakan pintu terbuka NATO," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dikutip dari AFP.

"Tetapi fakta bahwa kedua negara ini berhubungan dengan anggota organisasi teroris, bahwa Swedia mengirimi mereka senjata dan mereka memberlakukan pembatasan ekspor peralatan pertahanan ke Turki bertentangan dengan semangat aliansi."

Cavusoglu berujar, dia sedang menanti jaminan apa yang akan ditawarkan oleh Finlandia dan Swedia.

Baca juga: 15 Arti Bahasa Gaul yang Biasa Digunakan di Media Sosial, Mulai dari Maksud Open BO hingga Expo 

Baca juga: Tak Banyak yang Tahu Liburan di Brunei Darussalam Hanya Boleh Dua Minggu, Simak Penjelasannya

Baca juga: 2 Doa Singkat tapi Manfaatnya Dahsyat, Allah Kabulkan Permintaan Hambanya Hingga Dirindukan Surga

Baca juga: Wanita Bergaya Mewah Ini Ternyata Buat Hotman Paris Minder: Di Atas Langit Bukan Aku, Kini Huni Bui

Baca juga: Tips dr Zaidul Akbar Agar Suami & Istri Usia 40 Tahun ke-Atas Lebih Bergairah saat Hubungan Biologis

"Sangat penting untuk mengakhiri dukungan bagi organisasi teroris dan mencabut pembatasan ekspor ke Turki. Saya tidak mengatakan itu sebagai alat tawar-menawar, tetapi karena itulah artinya menjadi sekutu," katanya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved