Breaking News:

Berita Bangka Barat

Kasus Stunting di Bangka Barat 2022 Capai 558, Bupati Bentuk Tim TPPS

Sepanjang 2022 untuk kasus stunting di Bangka Barat, saat ini sudah mencapai 558 kasus dengan kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Simpang Teritip

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Rizki Irianda Pahlevy
Bupati Bangka Barat, Sukirman lakukan pengukuhan TPPS, di ruang OR 1 Pemkab Bangka Barat, Kamis (19/05/2022). 

BANGKAPOS.COM,BANGKA -- Sepanjang 2022 untuk kasus stunting di Kabupaten Bangka Barat, saat ini sudah mencapai 558 kasus dengan kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Simpang Teritip. 

Dari data Desa Lokus Intervensi Stunting, untuk di Kecamatan Simpang Teritip tersebar diantaranya di Desa Simpang Gong 23 balita, Desa Ibul 59 balita, Desa Peradong 37 balita, Desa Kundi 78 balita, Desa Simpang Tiga 85 balita, Desa Air Menduyung 37 balita dan Desa Bukit Terak 36 balita. 

Sedangkan di Kecamatan Kelapa yaitu, Desa Dendang 83 balita, Desa Tugang 60 balita, Desa Tuik 14 balita, dan Desa Pangkal Beras 46 balita. 

Dengan kondisi tersebut Bupati Bangka Barat Sukirman pun kini telah mengukuhkan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Bangka Barat, di ruang OR 1 Pemkab Bangka Barat sebagai upaya penurunan kasus stunting.

"Ini menjadi salah satu cara dalam mewujudkan masyarakat Bangka Barat yang maju, sejahtera dan bermartabat. Diperlukan komitmen dan kerja sama secara terencana, menyeluruh dan berkelanjutan dari semua pihak," kata Sukirman, Kamis (19/05/2022). 

Selain itu penurunan stunting juga masuk dalam fokus Pemkab Bangka Barat, bahkan sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 

"Korelasinya dengan percepatan penurunan stunting adalah karena prevelensi stunting, menjadi salah satu indikator sasaran yang harus dicapai. Kondisi baseline di tahun 2020 sebesar 12,38 persen dan direncanakan, menjadi sebesar 4,79 persen pada kondisi akhir RPJMD," jelas Sukirman.

Sebelumnya diketahui berdasarkan realisasi RPJMD tahun 2021, terkait prevelensi stunting sebesar 11,10 persen. 

"Ke depan persentase di setiap tahunnya akan terus dipantau dan tentunya, dengan upaya maksimal yang dilakukan bersama dalam penurunan stunting di Kabupaten Bangka Barat," jelasnya. 

Diketahui stunting adalah kondisi tubuh dengan indikasi tubuh lebih pendek dibandingkan teman seusianya, pertumbuhan melambat yang berdampak pada gangguan metabolisme. 

Hal ini pun diukur dari perbandingan tinggi badan dengan usia, serta disebabkan kekurangan gizi dalam jangka panjang terutama 1.000 hari kelahiran pertama. 

Sementara itu, Kepala BKKBN Provinsi Bangka Belitung, Fazar Supriadi Sentosa yang juga hadir dalam pengukuhan TPPS berharap kasus stunting di Kabupaten Bangka Barat dapat segera menurun. 

"Jadi harapan kita ada kegiatan pengukuhan TPPS ini secara bersama-sama melakukan intervensi baik gizi sensitif, maupun gizi spesifik sehingga bisa cepat penurunan stuntingnya," ungkap Fazar. 

Pihaknya juga mengungkapkan perlu ada kerjasama seluruh pihak, guna memberikan pemahaman kepada masyarakat agar kasus stunting tidak terjadi di setiap tahunnya. 

"Harus bersama-sama turun ke daerah-daerah yang memang stunting-stuntingnya yang tinggi, di Bangka Barat ini yang tingginya di Kecamatan Kelapa dan Simpang Teritip itu harus diturunkan," ungkapnya. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved