Breaking News:

Horizzon

Masa depan Bangka Pos di Tangan Orang-orang Baru

Sebagai orang baru, kita harus sakit hati ketika hanya mampu membuat cerita tentang romantisme masa lalu.

Masa depan Bangka Pos di Tangan Orang-orang Baru
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

RASANYA masih lekang di ingatan saya bagaimana satu per satu, sejumlah anak muda bicara tentang harapan dan cita-cita saat mereka melamar menjadi reporter.

Saya tentu tidak memeriksa berkas administratif yang menjadi syarat dasar calon reporter Bangka Pos Group. Persyaratan administratif, bakat dan komponen lainnya sudah diseleksi oleh kawan-kawan manajer yang menyeleksi sebelumnya.

Saya juga lebih sering percaya kepada kawan-kawan manajer terkait talent yang akan diterima untuk bergabung bersama Bangka Pos Group. Saat mereka sampai ke meja saya, saya justru lebih sering mengajak mengobrol dan ingin tahu alasan, harapan, dan cita-cita mereka bersama Bangka Pos Group.

Bagi saya, mengajak bicara anak-anak baru tentang cita-cita, harapan, dan juga mimpi mereka bersama Bangka Pos adalah bagian yang tak kalah penting dalam membangun sebuah organisasi bernama rumah besar Bangka Pos Group.

Meskipun klise, namun part ini menjadi menarik sekaligus penting untuk saya tuliskan di momen 23 tahun Bangka Pos sekaligus 21 tahun Pos Belitung, media terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Lahir pada 25 Mei 1999, Bangka Pos adalah sebuah koran hitam putih pertama kali yang dimiliki masyarakat Bangka Belitung. Kala itu Bangka Belitung masih menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.

Kelahiran Bangka Pos menjadi sangat berarti bagi Bangka Belitung. Bangka Pos seolah-olah menjadi saluran sekaligus panggung eksistensi masyarakat Bangka Belitung, yang sebelumnya adalah entitas kecil yang barangkali sering dilupakan.

Diakui atau tidak, kehadiran Bangka Pos adalah lentera yang mengkristalkan cita-cita masyarakat Bangka Belitung untuk berdiri sendiri mengelola wilayahnya menjadi provinsi yang terpisah dari Sumatera Selatan.

Sebuah pemikiran yang masuk akal tentunya, bagaimana sebuah daerah kepulauan ingin menjadi lebih mandiri, mengelola wilayahnya sendiri tanpa harus selalu menjadi 'anak tiri' lantaran alasan geografis, terpisah dari induknya di Sumatera.

Dengan sangat provokatif, Bangka Pos kala itu juga membuat tagline berani, 'Yuk Kita Punya Provinsi.' Dan provokasi itu menjadi kenyataan sehingga Bangka Pos tidak hanya jadi saksi, melainkan juga menjadi bidan kelahiran Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dengan semangat yang sama, dua tahun kemudian di tanggal yang sama, 25 Mei 2001, Pos Belitung hadir di Pulau Belitung.

Sebelum melanjutkan, saya harus jujur, tulisan ini saya buat dengan mencoba menahan sakit hati yang teramat serius. Alasannya, saya meyakini bahwa orang yang selalu mengingat keindahan dan kehebatan masa lalu, maka sesungguhnya dia tersesat dalam meniti arah ke masa depan.

Masih dengan perasaan sakit hati, saya juga mendengar kisah-kisah masa lalu tentang Bangka Pos. Menjadi satu-satunya koran di Bangka Belitung, pembaca sempat menantikan edisi cetak Bangka Pos persis di luar pintu percetakan.

Saya bahkan pernah mendengar kisah mengharu biru, di mana pembaca rela menunggu edisi cetak Bangka Pos di pintu percetakan untuk melihat hasil liputan Bangka Pos terhadap sebuah peristiwa kriminalitas tak jauh dari kantor Bangka Pos.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved