Breaking News:

Horizzon

Belitung Butuh Cerita Pengganti Laskar Pelangi

Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang bakal dirangkai untuk menjadi narasi besar pembangunan pariwisata Belitung jilid dua

Editor: suhendri
Belitung Butuh Cerita Pengganti Laskar Pelangi
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

NOVEL Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang kemudian difilmkan adalah tonggak awal bagi munculnya Belitung sebagai destinasi wisata. Film Laskar Pelangi dirilis pada 25 September 2008. Film tersebut berkisah tentang persahabatan sebelas anak di pedalaman Pulau Belitung dan perjuangan mereka untuk menempuh pendidikan.

Menampilkan keseharian anak-anak di Belitung, tepatnya di Kecamatan Gantung, film ini juga menyuguhkan indahnya pantai di Belitung. Akhirnya, film yang kala itu mampu memecahkan rekor jumlah penonton hingga tembus 4,6 juta penonton ini menjadi pemicu kebangkitan Belitung, utamanya di sektor pariwisata.

Judul film besutan Riri Riza dari yang diambil dari novel Andrea Hirata ini bahkan mampu menjadi ikon bagi Belitung yang belakangan juga dikenal sebagai Negeri Laskar Pelangi. Sejumlah spot pantai yang dijadikan latar dalam film tersebut seolah-olah memberi warna baru bagi ensiklopedia indahnya pantai di Indonesia.

Pantai dengan aksesori batu granit berwarna hitam keputihan yang tersusun membentuk pola unik yang ditampilkan film Laskar Pelangi seolah-olah mengatakan ada eksotisme di Belitung.

Film tersebut membuat traveler penggila pantai melirik Belitung sebagai daftar destinasi wisata yang wajib disinggahi. Belitung menjadi booming dan Laskar Pelangi menjadi penanda kebangkitan pariwisata Belitung jilid pertama.

Empat belas tahun berlalu, generasi juga berganti. Romantisme Laskar Pelangi tak lagi mewakili kaum milenial saat ini. Apalagi jejak-jejak fisik film Laskar Pelangi juga mulai usang, meski ketika bicara pariwisata, terkadang sesuatu yang usang, tua, lawas bisa jadi justru memiliki magnet tersendiri.

Namun tidak untuk Laskar Pelangi. Jika harus dikaitkan dengan upaya membangun pariwisata Belitung, cerita Laskar Pelangi sudah kehabisan episodenya. Perjuangan Ikal dan kawan-kawan di legenda Laskar Pelangi sudah tak mampu mewakili dunianya generasi TikTok. Pariwisata Belitung butuh kisah baru, butuh narasi baru, sekaligus butuh tema besar untuk menjadi jilid kedua usai Laskar Pelangi.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang bakal dirangkai untuk menjadi narasi besar pembangunan pariwisata Belitung jilid dua. Sungguh, bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab.

Kita tahu, Laskar Pelangi lahir dari sebuah energi 'pemberontakan' Andrea Hirata yang dengan apik divisualisasikan Riri Riza melalui film. Jilid pertama pariwisata Belitung bukan lahir dari ide dasar membangun pariwisata, namun dari sebuah kisah perjuangan seorang anak bangsa untuk memperoleh hak yang sama di dunia pendidikan.

Artinya, sejujurnya kita tidak pernah dengan serius membangun pondasi pariwisata Belitung. Anugerah keindahan alam dengan pantai dengan karakter baru granit hitam itu tak pernah kita pandang sebagai pilar pertumbuhan ekonomi. Jika boleh jujur, Belitung dan Bangka Belitung masih mengandalkan tambang timah sebagai napas utama perekonomian.

Jika kita ingin menulis jilid kedua pariwisata Belitung, maka sudah saatnya kita menuntut pemerintah dengan sungguh-sungguh membangun pariwisata Belitung.

Kota berharap, kebijakan pemerintah bukan sekadar lips service semata dalam membangun sektor pariwisata. Pemerintah harus secara nyata menunjukkan keberpihakan mereka di sektor pariwisata, baik dari sisi budgeting dan utamanya regulasi.

Bukan lagi saatnya kepala daerah, mulai dari bupati/wali kota hingga gubernur bicara pariwisata, namun tak tahu malu ketika membiarkan dinas pariwisata tak punya keleluasaan anggaran untuk membangun pariwisata.

Harapan tersebut tentu juga perlu dialamatkan kepada Kementerian Pariwisata dan kementerian terkait agar tak terjebak pada kabijakan-kebijakan seremonial yang hanya melahirkan event-event parsial namun sudah mengaku membangun pariwisata.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved