Tribunners
Jejak Bung Karno di Pulau Timah
Tatkala Bung Karno dan Haji Agus Salim tiba, sambutan masyarakat Bangka begitu semarak
Oleh: Irwanto - Pranata Humas Pemprov Babel
6 Juni diperingati sebagai hari lahir Bung Karno. Pendiri negara dan proklamator kemerdekaan ini lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Sebagai tokoh besar bangsa ternyata Bung Karno juga menyimpan jejak di Kepulauan Bangka Belitung atau Pulau Timah.
Nama besar Bung Karno tak hanya dikenal lewat nama Jalan Soekarno-Hatta di Kota Pangkalpinang saja, namun terpatri juga sebagai nama rumah sakit umum daerah milik Pemprov Kepulauan Bangka Belitung. Patung Bung Karno dan Bung Hatta juga telah berdiri gagah di Kota Muntok yang diresmikan oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2 Juli 2000 lalu.
Namun sebetulnya nama besar Bung Karno telah lama berkibar di Pulau Timah. Bahkan saat ia masih hidup sehingga meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat Babel. Bung Karno dan sejumlah pemimpin bangsa lainnya pernah diasingkan Belanda di Muntok Bangka sehingga bagi Bung Karno Bangka adalah rumahnya sendiri.
Berdasarkan catatan sejarah, pada 19 Desember 1948 secara mendadak Belanda menyerang Lapangan Terbang Maguwo. Pasukan payung diterjunkan. Bom dijatuhkan di ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta. Belanda berhasil menguasai Negara RI.
Pada 20 Desember 1948, Panglima Militer Belanda minta Presiden Soekarno mengumumkan gencatan senjata namun ia menolak kendati Bung Karno dan pemimpin lainnya sudah ditawan Belanda. Sementara itu, Jenderal Sudirman beserta pasukan TNI menyingkir ke luar kota. Mereka melancarkan aksi perang gerilya. Adapun Menteri Urusan Ekonomi Sjafruddin Prawiranegara yang kebetulan berada di Bukittinggi segera memimpin pemerintahan darurat di sana.
Pada 28 Desember 1948, Wakil Presiden Bung Hatta, Mr. Assaat, Sekretaris Presiden AG Priggodigdo dan Panglima AURI Suryadarma disingkirkan atau ditawan Belanda ke Pulau Bangka. Tak lama kemudian menyusul Ali Sastroamidjojo dan Mohammad Roem.
Sementara itu, Bung Karno, Haji Agus Salim, dan Sutan Sjahrir awalnya dibuang Belanda ke Brastagi dekat Danau Toba, Sumatera Utara. Kemudian awal Februari 1949, mereka diterbangkan ke Pulau Bangka bergabung dengan Bung Hatta di Muntok.
Waktu itu 6 Februari pesawat Catalina mendarat di muara Sungai Pangkalbalam Pangkalpinang. Dengan kapal motor mereka dijemput dan dibawa ke pelabuhan. Namun Bung Sjahrir tak kelihatan. Dia ditempatkan Belanda di Jakarta.
Tatkala Bung Karno dan Haji Agus Salim tiba, sambutan masyarakat Bangka begitu semarak. Mereka menyerbu dan berebutan menyalami sekaligus memeluk kedua pemimpin itu. Rakyat begitu antusias, bersemangat, dan tak dapat dibendung oleh oleh kawalan petugas keamanan.
Tetapi ada juga yang kecewa lantaran menunggu di Lapangan Terbang Kampung Dul. Mereka menyangka Bung Karno mendarat di sana (AA Bakar, Kenangan Manis dari Menumbing--Ketika Pemimpin Bangsa Dibuang ke Bangka, Balai Pustaka, 1993).
Semula telah disiapkan sebuah mobil sedan Plymouth warna putih BN 2. Tetapi Bung Karno tidak mau duduk di dalam. Ia ternyata lebih suka duduk di sepatbor mobil. Tentu ini untuk memuaskan rakyat yang telah menyambut dan memenuhi sepanjang jalan. Kadang kala mesin mobil dimatikan. Mobil berjalan perlahan-lahan hanya didorong para pemuda.
Setelah istirahat sekaligus makan siang di rumah Ketua Dewan Bangka Masyarif, Bung Karno dan Haji Agus Salim beserta rombongan langsung dibawa ke Muntok yang berjarak 138 km dari Pangkalpinang. Penduduk Kota Muntok sendiri sengaja menunggu kedatangan Bung Karno di Pal I kawasan pinggiran kota. Karena tidak ada kepastian pukul berapa Bung Karno tiba, maka ada yang menunggu sejak tengah hari. Seperti di Pangkalpinang, kehadiran Bung Karno di Muntok disambut hangat oleh masyarakat.
Di Muntok, mereka ditempatkan di dua tempat yang berbeda. Rombongan Bung Hatta, Mr. Assaat, Suryadarma, dan Pringgodigdo di Pesanggrahan puncak Bukit Menumbing, sedangkan rombongan Bung Karno, Haji Agus Salim, Ali Sastroamidjojo, dan Mohammad Roem ditempatkan di pesanggrahan perusahaan timah Wisma Ranggam di Kota Muntok yang tak jauh dari pasar dan pelabuhan.
Kondisi Pesanggrahan Bukit Menumbing sangat mengenaskan. Sekeliling dinding gedung dilingkari kawat berduri. Hawanya dingin dan lembap. Di luar gedung penjagaan sangat ketat.
Ruang gerak mereka pun sangat terbatas. Hanya seluas 4x6 meter. Pernah Bung Hatta dan pemimpin lainnya ditawari kebebasan bergerak di Pulau Bangka dengan kompensasi bersedia menandatangani pernyataan menarik diri dari kegiatan politik. Tentu saja tawaran itu ditolak mentah-mentah (Mavis Rose, Biografi Politik Mohammad Hatta).
Sebaliknya, Bung Hatta memutuskan Belanda harus mengakui mereka adalah pemimpin pemerintahan. Bukan pemberontak pribumi. Ia mendesak pemimpin lainnya agar mengambil sikap berwibawa, antara lain, harus berpakaian rapi setiap keluar kamar dan tidak boleh mengenakan piama atau sarung.
Pada saat anggota Komisi Jasa Baik datang, mereka sangat terkejut melihat kondisi pemimpin RI yang ditawan. Apalagi salah seorang anggota yang bernama Critchley merupakan sahabat Bung Hatta sejak di Yogyakarta. Sekembalinya Komisi Jasa Baik ke Jakarta, mereka langsung membuat laporan pendek ke Markas Besar PBB di New York. Dalam beberapa jam laporan itu sudah menyebar dan terekspose ke seluruh penjuru dunia, termasuk negara-negara sahabat.
Tentu saja dunia internasional jadi geger. Kecaman keras datang bertubi-tubi. Selama ini Belanda memberi kesan bahwa Resolusi PBB untuk membebaskan para tawanan di Pulau Bangka telah dilaksanakan. Dr. Van Roijen, juru bicara Belanda di PBB terpaksa minta maaf. Belanda berjanji akan bertindak kooperatif dan memperlunak sikapnya.
Oleh Sebab itu, dalam kurun waktu Januari hingga 6 Juli 1949, Pulau Bangka menjadi pusat perhatian dunia. Di Pulau Timah ini diplomasi tingkat internasional kerap digelar. Menteri-menteri Negara BFO, pejabat Belanda, Komisi Jasa Baik, dan wartawan dari mancanegara datang silih berganti.
Bung Karno sendiri dalam buku biografinya "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" yang ditulis Cindy Adams menuturkan, "Aku telah ditahan selama beberapa bulan di Pulau Bangka, ketika keadaan semakin sulit buat Belanda. Mereka menyampaikan pesan bahwa mereka ingin melakukan musyawarah."
Selanjutnya Bung Karno juga menuturkan, "Demikianlah mulai sebuah prosesi panjang dari para diplomat dan kurir yang pergi-pulang ke Mentok, kota tambang timah yang sunyi di Pulau Bangka. Kompromi terakhir dari persetujuan Rum-Royen berlangsung di meja dapurku di rumah instansi perusahaan tambang di mana aku tinggal."
Terlepas dari perjuangan gerilya dan gerakan lainnya, maka ada yang mencetuskan istilah, "Dari Bangka Datangnya Kemenangan" atau dalam bahasa Belanda, "Van Bangka Begint de Victorie". Hal ini diakui juga oleh AA Bakar dan Mohammad Roem (Diplomasi, Ujung Tombak Perjuangan RI hal.62-63).
Rakyat Bangka sendiri waktu itu sangat mendukung penuh para pemimpin dan kemerdekaan Republik Indonesia. Mengenai sikap patriot rakyat Bangka ini Bung Karno, antara lain, menulis, "Rakyat Bangka nyata bersemangat republiken, nyata berkehendak Bangka masuk dalam daerah Republik. Seorang pemimpin rakyat Bangka yang tidak berbuat sesuai dengan kehendak rakyat Bangka itu, dan berbuat memisahkan rakyat Bangka dari Republik, adalah berbuat bertentangan dengan demokrasi, bahkan menghianati demokrasi itu".
Bung Karno memang mencintai rakyat Bangka yang bersikap mendukung penuh perjuangan para pemimpin dan kemerdekaaan RI. Bahkan sikap keras Belanda terhadap para pemimpin itu ternyata tak membuat Bung Karno jauh dari rakyat. Malah Bung Karno terlihat selalu riang bersemangat.
Wisma Ranggam selalu ramai dikunjungi rakyat dari berbagai kalangan dan beberapa daerah. Apalagi Bung Karno pandai merancang acara menarik yang melibatkan rakyat banyak.
Selain itu Bung Karno juga membina kegiatan olahraga di kalangan pemuda, mengajak rekreasi ke pantai, menikahkan pemuda pemudi, dan menggelar ceramah. Ia juga kerap diundang menghadiri pertemuan dengan rakyat di luar Muntok. Untuk itu di Pangkalpinang telah disediakan rumah untuk menginap (sekarang gedung Museum PT Timah Tbk).
Di Pulau Bangka pula bendera pusaka Republik Indonesia pernah disimpan saat Bung Karno ditawan Belanda. Setidaknya keberadaan bendera pusaka ini pernah diungkapkan oleh almarhum Hadi Muchtar yang juga suami Isnawati Hadi, penggiat dan pengusaha kain cual Bangka.
Menurut Hadi, berdasarkan kisah dari ayah dan kerabatnya, saat di Pulau Bangka Bung Karno mempunyai beberapa orang kepercayaan di kalangan pemuda, termasuk Yusuf Rasidi (Kenangan saat Bendera Pusaka Disimpan di Bangka, Majalah Pemkot Pangkalpinang edisi Juli 2005). Suatu ketika Yusuf dipanggil Bung Karno. Dia mendapat tugas penting, yakni menyimpan bungkusan berisi bendera pusaka. Bung Karno berpesan agar bendera pusaka tersebut jangan sampai jatuh ke tangan Belanda.
Yusuf yang dinikahkan oleh Bung Karno dengan Soleha binti Said Yazan akhirnya menjaga amanah itu dengan baik. Bendera pusaka disimpannya dengan hati-hati di antara lipatan baju yang terletak di rak pakaian.
Selama beberapa waktu bendera pusaka itu tersimpan aman hingga dimintakan kembali oleh Bung Karno saat akan kembali ke Yogyakarta. Anak pertama Yusuf yang lahir pada 15 Juni 1950 sempat diberi nama Nurmarhaeni oleh Bung Karno.
Selain Yusuf, banyak lagi pemuda dan pemudi Bangka yang dipercayai oleh Bung Karno selama ditahan Belanda di Muntok, antara lain, almarhumah RA Indrawati. Ibunda dari Pj Gubernur Babel Ridwan Djamaluddin ini lahir pada 22 Oktober 1929. Semasa remaja RA Indrawati aktif menjadi anggota Palang Merah TKR dan Persatuan Wanita Indonesia (Perwani).
Indrawati merupakan salah satu pemudi Muntok yang dipercaya oleh Bung Karno untuk menemaninya saat makan siang. Juga secara khusus menjadi orang kepercayaan Bung Karno guna mengganti bunga mawar kesukaannya selama ditahan di Wisma Ranggam.
Roda terus berputar, akhirnya sejarah mencatat pemerintah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia setelah melalui serangkaian perjuangan diplomasi dan perang gerilya. Pada 30 Juni 1949, pasukan militer Belanda hengkang dari Yogyakarta. Tentu saja para pemimpin bangsa harus kembali.
Pada 6 Juli 1949, Bung Karno dan para pemimpin bangsa akhirnya meninggalkan Muntok. Mereka menginap semalam dan menggelar acara perpisahan dengan rakyat Bangka di Pangkalpinang.
Esoknya 7 Juli 1949, Lapangan Terbang Kampung Dul (menjadi Bandara Depati Amir) dijejali rakyat. Mereka datang dari berbagai pelosok Pulau Bangka. Suasana begitu haru dan sedih sehingga ada yang menitik air mata. Di tengah landasan telah menunggu pesawat dari United Nation Commision for Indonesia (UNCI).
Dengan penuh haru, satu per satu para pemimpin masuk ke dalam pesawat. Bung Karno masuk paling akhir. Tangan kirinya memegang bungkusan kain songket tenunan Muntok. Di dalamnya tersimpan bendera pusaka negara Republik Indonesia. Akhirnya pesawat take-off meninggalkan Pulau Timah yang penuh kenangan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210118_irwanto-pranata-humas-pemprov-babel.jpg)