Tribunners
Membaca Peluang Keberlanjutan Pembelajaran Daring
Mekanisme pembelajaran daring tetap dapat dilanjutkan saat pandemi Covid-19 nantinya telah selesai
Oleh: Hery Susanto, S.Pd. - Guru SMA Negeri 4 Pangkalpinang
SISTEM pembelajaran dalam jaringan (daring) yang memanfaatkan media komputer dan telepon seluler sebenarnya sudah lama diterapkan dalam proses pembelajaran jarak jauh. Mekanisme pembelajaran daring memungkinkan siswa dan guru tetap dapat menjalani kegiatan belajar mengajar meskipun berbeda tempat dan waktu. Mekanisme ini memberikan dampak positif bagi siswa karena diberikan kebebasan waktu dan gaya belajar yang mereka sukai.
Siswa dapat lebih aktif mencari materi dari berbagai sumber belajar yang tersedia di internet, baik sebagai sumber primer, bahan pengaya maupun sebagai referensi saat mengerjakan tugas sekolah. Siswa juga dapat lebih mandiri dalam mengatur jadwal belajar, lebih bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi ketika menghadapi kendala selama proses pembelajaran. Prinsip student learning centre akan lebih mudah diaplikasikan melalui mekanisme pembelajaran daring.
Berbagai kendala selama proses pembelajaran daring yang tidak mampu diselesaikan oleh siswa, guru, dan orang tua dapat membawa dampak negatif bagi perkembangan psikologi dan kompetensi siswa. Kajian terhadap artikel penelitian yang relevan menunjukkan bahwa kendala utama yakni pada sarana penunjang pembelajaran daring. Tidak semua orang tua siswa mampu menyediakan telepon seluler sebagai media pembelajaran daring bagi anaknya. Meskipun orang tua mampu membeli perangkat tersebut, ketersediaan kuota internet menjadi kendala berikutnya.
Selama masa pandemi Covid-19, sektor ekonomi mengalami kekacauan yang berakibat pada menurunnya pendapatan masyarakat secara makro. Kondisi ini akan menjadi beban psikologis tersendiri bagi siswa dari kalangan menengah ke bawah karena tidak dapat berpartisipasi dalam pembelajaran. Banyak laporan riset terkini menunjukkan bahwa kendala teknis ini menjadi penyebab menurunnya minat belajar siswa yang ditunjukkan dengan kurangnya antusiasme siswa dalam grup diskusi via aplikasi bertukar pesan, rendahnya angka partisipasi siswa dalam mengumpulkan tugas, serta peningkatan jumlah siswa yang tidak mengikuti kelas secara virtual.
Secara psikologi, siswa belum mampu memanfaatkan telepon seluler secara bijak sehingga perlu didampingi secara penuh oleh orang tua selama proses pembelajaran. Namun demikian, tidak semua orang tua dapat menjadi pendamping sekaligus pembimbing yang optimal bagi siswa akibat kesibukan pekerjaan mereka. Selain itu, siswa usia dini dan siswa SD kelas rendah masih berorientasi pada gaya pembelajaran kinestetik (gerak tubuh) sehingga mereka lebih cenderung mudah memahami jika mereka mempraktikkan langsung hal yang sedang dipelajari. Proses penduplikasian informasi ini tidak akan optimal jika dilaksanakan dengan mekanisme daring.
Dampak negatif akibat kendala teknis ini juga dirasakan oleh guru. Perubahan mekanisme dan budaya pembelajaran dari konvensional menjadi pembelajaran daring yang berlangsung secara tiba-tiba dan wajib dilaksanakan mengakibatkan banyak guru mengalami cultural shock, terlebih-lebih bagi guru yang masih gagap teknologi. Perubahan yang cepat berdampak pada ketidakselarasan kegiatan perencanaan, proses pembelajaran dan kegiatan evaluasi yang telah dirancang guru.
Implikasi dari kendala ini yakni proses pembelajaran daring menjadi sangat monoton dan tidak bermakna. Kegiatan mengajar yang dilaksanakan guru terbatas pada mengunggah materi, meminta siswa mempelajari materi tersebut secara mandiri atau kelompok dan kemudian memberikan tugas sebagai bahan evaluasi ketercapaian standar kompetensi pada materi yang diajarkan.
Tantangan yang dihadapi siswa dan guru selama proses pembelajaran daring meliputi ketersediaan sarana pembelajaran yang memadai, kondisi psikologis siswa, dan pengalaman guru saat mengajar daring. Pada kenyataannya, tidak semua orang tua siswa memiliki kemampuan menyediakan laptop dan telepon seluler sebagai sarana utama proses pembelajaran. Ketersediaan kuota internet dan sinyal internet yang buruk terutama di wilayah pedesaan juga menjadi bagian dari tantangan teknis pembelajaran daring.
Tantangan lain yakni kondisi psikologis dan motivasi belajar. Pembelajaran daring dari rumah berpotensi membuat siswa sulit berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran akibat lingkungan yang tidak kondusif sehingga siswa tidak fokus belajar. Selain itu, keterbatasan guru dalam memantau aktivitas siswa cenderung membuka celah bagi siswa untuk melakukan kegiatan lain selama proses pembelajaran berlangsung sehingga perhatian siswa teralihkan pada hal tersebut.
Pembelajaran daring juga menjadi tantangan bagi guru untuk mampu menyusun strategi pengajaran yang tepat untuk membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa, memberikan pemahaman mendalam kepada siswa tentang pentingnya tetap belajar meskipun dari rumah, membuat materi pembelajaran yang singkat dan padat dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik, serta melakukan evaluasi secara berkala dan berkesinambungan.
Tinjauan terhadap dampak positif dan negatif selama proses pembelajaran daring menunjukkan bahwa mekanisme ini dapat tetap dilaksanakan sembari terus melakukan berbagai upaya atau strategi untuk meminimalkan kendala teknis, menekan biaya operasional, pembiasaan pada siswa dan meningkatkan kompetensi guru sebagai fasilitator pembelajaran. Mekanisme pembelajaran daring tetap dapat dilanjutkan saat pandemi Covid-19 nantinya telah selesai dan kegiatan belajar di sekolah sudah kembali seperti semula.
Pelaksanaan pembelajaran daring yang dipadukan dengan pembelajaran konvensional akan menjadi sangat efektif jika memenuhi komponen esensial dalam proses pembelajaran yaitu diskursif, adaptif, interaktif, dan reflektif. Diskursif, yakni proses pembelajaran harus mampu mengembangkan kemampuan nalar siswa. Adaptif, yakni materi pembelajaran harus fleksibel terhadap kondisi kekinian dan lingkungan sosial siswa. Interaktif, yakni proses belajar yang terjadi sebagai akibat komunikasi multiarah antara siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru. Reflektif, yakni proses pembelajaran yang berlangsung harus mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi secara kritis dan kreatif dengan modal pengetahuan yang dimiliki.
Semua komponen esensial yang diintegrasikan dengan kondusivitas lingkungan belajar akan membentuk digital learning ecosystem. Ekosistem belajar berbasis digital ini menjadi peluang peningkatan kualitas proses dan hasil belajar karena mampu mengakomodasi gaya belajar, fleksibilitas, dan pengalaman belajar peserta didik. (*)