Breaking News:

Bisa Disaksikan di Seluruh Indonesia, Malam Ini Fenomena Langka Supermoon Stroberi, Ini Dampaknya

Bulan Stroberi adalah penamaan bulan purnama di bulan Juni. Penamaan ini merujuk pada buah stroberi atau arbei yang

Editor: Iwan Satriawan
cnn.com
Fenomena supermoon 

Andi mengimbau bagi yang berprofesi sebagai nelayan untuk tidak melaut antara dua hari sebelum hingga dua hari sesudah puncak fenomena ini, yakni antara 12-16 Juni dan 12-16 Juli 2022 mendatang.

“Perhitungan ini semata-mata hanya mempertimbangkan faktor astronomis saja dan tidak mempertimbangkan gelombang laut akibat badai angin,” jelasnya.

Pasang laut pada 29 Juni 2022 secara astronomis juga perlu dipertimbangkan, karena rasio resultan gaya purnama super terhadap bulan baru mikro (+1,32) hampir mendekati rasio resultan gaya bulan baru mikro terhadap bulan perbani mikro (+1,35).

Dengan kata lain, gaya pasang laut saat bulan baru mikro secara logaritmik adalah 52 persen gaya pasang laut saat bulan perbani super.

Oleh karena itu, perlu diwaspadai pasang laut ini antara dua hari sebelum hingga dua hari sesudah puncak fenomena ini, yakni antara 27 Juni hingga 1 Juli 2022 mendatang.

Hubungan Bulan Purnama dan Pasang Air Laut

Pasang surut air laut merupakan hal yang terjadi setiap hari dan bisa membantu nelayan untuk berlayar.

Fenomena bulan purnama sering dikaitkan dengan pasang surut air laut.

Dilansir dari SciJinks, Rabu (29/7/2021), sama seperti Bumi, bulan juga memiliki gaya gravitasi yang bisa menarik benda-benda terdekatnya.

Gaya gravitasi bulan nantinya akan menghasilkan gaya pasang surut.

Ketika salah satu sisi Bumi berjarak dekat dengan bulan, yang tampak jelas terlihat pada fenomena bulan purnama, maka gravitasi bulan akan menarik Bumi ke arahnya.

Efek bulan purnama menghasilkan gravitasi bulan yang juga akan menarik daratan.

Tetapi gaya tarik Bulan ini tidak bisa dilihat secara kasat mata dan hanya bisa dilihat menggunakan instrumen atau alat khusus.

Selain daratan, saat bulan purnama terjadi, gravitasi bulan juga menarik air laut.

Karena sifatnya yang mudah bergerak, gerakan air ke arah bulan, atau yang ditandai dengan air pasang, menjadi mudah terlihat.

Perubahan iklim dan siklus Bulan dapat menyebabkan bencana ganda di Bumi, yakni banjir besar.

Namun ternyata, air pasang juga terjadi pada bagian Bumi yang berseberangan dengan bulan.

Hal ini disebabkan karena gaya pasang surut merupakan gaya diferensial.

Gaya pasang surut berasal dari perbedaan gravitasi di atas permukaan Bumi yang dihasilkan dari tarikan gravitasi bulan di lokasi tertentu di Bumi dikurangi dengan tarikan gravitasi rata-rata bulan di seluruh Bumi.

Rumus ini menghasilkan peregangan dan pemampatan di Bumi, sehingga muncul dua tonjolan pasang surut.

Itulah mengapa bagian Bumi yang berseberangan dengan bulan juga akan mengalami air pasang.

Akibatnya, wilayah pesisir mengalami dua kali pasang dan dua kali surut setiap 24 jam 50 menit sekali yang juga disebabkan oleh bulan yang mengelilingi Bumi searah dengan putaran Bumi pada porosnya.

Pasang air laut tidak akan memiliki besar dan tinggi yang sama. Bentuk Bumi yang terdiri dari tujuh benua dan juga daratan akan menghalangi tarikan gravitasi bulan sehingga hasilnya tidak sempurna.

Selain gravitasi bulan, gravitasi matahari juga bisa berpengaruh pada pasang surut air laut walaupun kekuatannya lebih kecil karena jaraknya yang jauh.

Ketika Bumi, bulan dan matahari ada di letak yang sejajar, maka akan terjadi bulan purnama atau bulan baru.

Fenomena ini yang akan menyebabkan pasang surut yang ekstrem dengan nama lain spring tides.

Sementara ketika posisi bulan dan matahari berlawanan, akan terjadi pasang surut yang sangat kecil atau disebut dengan neap tides.

 

 

 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved