Tribunners
Kesiapan Sekolah Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar
Kurikulum Merdeka dirancang dan didesain sebagai bagian dari upaya Kemendikbudristek untuk mengatasi krisis belajar yang telah lama kita hadapi
Oleh: Ana Mawaddah, S.Pd. - Kepala SDN 23 Muntok
MENTERI Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim mengatakan esensi dari Kurikulum Merdeka adalah merdeka belajar. Nadiem mengatakan merdeka belajar merupakan konsep yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. serta menyesuaikan dengan bakat serta kemampuan yang dimiliki tiap siswa.
Contohnya, jika dua anak dalam satu keluarga memiliki minat yang berbeda, maka tolok ukur yang dipakai untuk menilai tidak sama. Dengan demikian, guru juga dituntut untuk lebih bersiap dalam hal kemampuan dalam mengelola dan menilai apa yang telah dilakukan siswa sesuai dengan bakat dan minat.
Berdasarkan hal tersebut maka setiap satuan pendidikan hendaknya menyiapkan diri terhadap kurikulum yang berlaku saat ini. Implementasi merdeka belajar merupakan terobosan Kemendikbudristek untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul melalui kebijakan yang menguatkan peran seluruh insan pendidikan.
Kebijakan ini diimplementasikan pada empat upaya perbaikan, yakni:
1. Perbaikan pada infrastruktur dan teknologi
2. Perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan, serta pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan
3. Perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya.
4. Melakukan perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen
Kurikulum Merdeka dirancang dan didesain sebagai bagian dari upaya Kemendikbudristek untuk mengatasi krisis belajar yang telah lama kita hadapi, dan menjadi makin parah karena pandemi. Krisis ini ditandai oleh rendahnya hasil belajar peserta didik, bahkan dalam hal yang mendasar seperti literasi membaca. Krisis belajar tersebut ditandai adanya ketimpangan kualitas belajar antarwilayah dan antarsosial ekonomi.
Krisis pembelajaran yang telah terjadi sekian lama tersebut diperburuk dengan pandemi Covid-19 yang seketika membawa perubahan pada wajah pendidikan di Indonesia. Perubahan yang paling nyata tampak pada proses pembelajaran yang awalnya bertumpu pada metode tatap muka beralih menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Intensitas belajar mengajar juga mengalami penurunan yang signifikan, baik jumlah hari belajar dalam seminggu maupun rata-rata jumlah jam belajar dalam sehari. Selama PJJ, umumnya siswa belajar 2-4 hari dalam seminggu terutama siswa pada tingkat SMP, SMA, dan SMK (Puslitjak, 2020).
Beberapa temuan studi yang menunjukkan terjadinya ketertinggalan pembelajaran (learning loss) diakibatkan masa pandemi yaitu ketika siswa kehilangan kompetensi yang telah dipelajari sebelumnya, tidak mampu menuntaskan pembelajaran di jenjang kelas maupun mengalami efek majemuk dikarenakan tidak menguasai pembelajaran pada tiap jenjang.
Dampak yang ditimbulkan dari kondisi tersebut berkontribusi pada menurunnya kemampuan siswa, ketidaktercapaian pembelajaran, ketimpangan pengetahuan yang makin lebar, perkembangan emosi dan kesehatan psikologis yang terganggu, kerentanan putus sekolah, serta potensi penurunan pendapatan siswa di kemudian hari (The SMERU Research Institute-The RISE Programme in Indonesia, 2020).
Hal tersebut tentunya juga mendorong guru untuk melakukan asesmen diagnostik secara berkala untuk mendiagnosis kondisi kognitif (kemampuan dan capaian pembelajaran siswa) dan kondisi non-kognitif (aspek psikologis dan kondisi emosional siswa) sebagai dampak dari PJJ. Dengan asesmen diagnostik ini diharapkan guru dapat memberikan pembelajaran yang tepat sesuai kondisi dan kebutuhan siswa dan anak didik mereka di setiap kelasnya.
Tak dapat dimungkiri setelah berjalan hampir satu tahun ajaran, Kemendikbudristek telah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum darurat. Hasil evaluasi tersebut secara umum menunjukkan bahwa siswa pengguna kurikulum darurat mendapatkan hasil asesmen yang lebih baik daripada pengguna Kurikulum 2013 secara penuh, terlepas dari latar belakang sosial ekonominya. Penggunaan kurikulum darurat secara signifikan juga mampu mengurangi indikasi learning loss selama pandemi baik untuk capaian literasi maupun numerasi.
Oleh sebab itulah, maka langkah dalam pengambilan keputusan untuk beralih pada Kurikulum Merdeka Belajar dirasakan sangat tepat mengingat dan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan saat ini. Terus terang sebagai kepala sekolah, sekaligus pendidik kita harus mendukung pengimplementasian Kurikulum Merdeka belajar agar siswa dapat menyalurkan bakat dan minat dimilikinya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220621_Ana-Mawaddah-Kepala-SDN-23-Muntok.jpg)