Breaking News:

Berita Bangka Selatan

Dosen IPB Asal Payung Bangka Selatan Ini Getol Teliti Ubi dan Porang

Pria asal Desa Ranggung, Payung, Bangka Selatan ini, berkarir di Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak tahun 2020 lalu.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: Novita
IST/Dokumentasi Pribadi
Ridwan Diaguna (tengah), dosen IPB asal Payung Bangka Selatan 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tak banyak yang mengenal Ridwan Diaguna, Dosen Institut Pertanian Bogor ( IPB) jebolan S1 Agroteknologi Universitas Bangka Belitung dan S2 IPB ini.

Usianya masih terbilang muda, namun semangatnya mengabdi pada bidang penelitian tetap menyala. Menjadi dosen adalah pilihan pria berusia 31 tahun ini.

"Bisa bebas mengekspresikan diri dengan berpegang teguh pada etika," kata Ridwan saat ditanya alasan menjadi dosen, Jumat (24/6/2022).

Bagi Ridwan, dengan menjadi dosen, dirinya berkeinginan memberi dampak bagi orang lain melalui pendidikan, menyelesaikan masalah petani melalui penelitian dan pengabdian.

Pria asal Desa Ranggung, Payung, Bangka Selatan ini, berkarir di Institut Pertanian Bogor ( IPB) sejak tahun 2020 lalu.

Keseharian ayah dari satu orang anak ini memberikan kuliah di Program Sarjana PS AGH Faperta IPB dan D3 Teknologi Industri Benih SV IPB.

Ridwan gemar membaca jurnal. Bahkan, setiap hari dia juga menulis jurnal satu paragraf.

Selain itu, pria kelahiran tahun 1991 ini juga fokus meneliti tanaman umbi-umbian seperti talas, ubi kayu, garut, dan porang.

"Kami juga memberikan pelayanan kepada masyarakat petani terkait budi daya sorgum, dan porang talas," ucapnya.

Dia menyebut memilih fokus pada umbi-umbian karena Indonesia punya sumber daya genetik umbi-umbi sumber pangan paling besar di dunia.

Apalagi krisis pangan di masa depan sudah digaungkan di dunia internasional dalam beberapa dekade terakhir.

"Hal ini karena ketergantungan kita terhadap sumber pangan dari biji-bijian, hasil penyerbukan, padi misalnya. Padahal tanaman jenis itu sangat peka terhadap perubahan iklim, hujan dan kekeringan, besar terjadi gagal panen," jelasnya.

Kegagalan panen bahan pangan ini dapat menganggu penyediaan bahan pangan untuk nasional hingga internasional, maka perlu alternatif sumber pangan lain. Satu di antaranya umbi-umbian.

"Indonesia sebetulnya memiliki sumber daya umbi-umbian yang besar. Ada talas, ubi kayu, garut dan lainnya. Karena itu, kita coba mengangkat potensi karbohidrat non biji, untuk mengatasi kemungkinan krisis pangan nasional dan dunia," kata Ridwan.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved