Breaking News:

Berita Bangka Barat

19 Pasien DBD Dirawat di RSUD Sejiran Setason, Tim Kesehatan Edukasi Masyarakat Hidup Bersih

19 pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjalani perawatan di RSUD Bangka Barat.

Penulis: Yuranda | Editor: nurhayati
Freepik
Ilustrasi pasien yang dirawat di rumah sakit karena penyakit demam berdarah. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kasi Pelayanan dan Penunjang Medis, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sejiran Setason, dr. Mariya Ulfah mengatakan saat ini ada 19 pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjalani perawatan di RSUD Sejiran Setoson, Bangka Barat.

Kendati saat ini belum ada kasus kematian, ia mengajak masyarakat untuk membersihkan lingkungan, mengurus tempat penampungan air yang menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti.

"Ada 19 pasien yang dirawat. Sebagian pasien ini juga rujukan dari beberapa Puskesmas yang ada di Bangka Barat. Di antaranya Tempilang, Jebus, Simpangteritip, Mentok dan Kelapa," kata dr Mariya, saat dikonfirmasi, Sabtu (25/6/2022).

Terpisah, Kepala Puskesmas Muntok, Harianto mengatakan, tahun 2022 kasus DBD tertinggi di Kecamatan Muntok terjadi pada bulan Januari 2022 sebanyak 119 kasus dan 2 orang meninggal dunia. 

Di bulan tersebut Kelurahan Keranggan mencatat angka tertinggi sebanyak 21 kasus, sehingga dikategorikan rawan DBD

Menurutnya, di Bulan Februari, DBD menurun menjadi 36 kasus dan 1 orang meninggal dunia. Maret tercatat ada 11 kasus dan 1 meninggal dunia. 

Sementara itu, di Bulan April naik ke angka 18 dan Mei turun menjadi 8 kasus. Sedangkan bulan Juni naik lagi 10 kasus, namun sejak April tidak ada lagi pasien meninggal dunia.

"Paling rawan di kelurahan yang padat penduduk. Untuk saat ini berdasarkan data diatas yang paling banyak kasusnya dan rawan," ungkap Harianto.

Harianto mengatakan, setelah melakukan survey ke rumah yang terjangkit, pihaknya mengajak masyarakat melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Dengan harapan penyakit yang berbasis lingkungan itu bisa dicegah dengan membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Selain itu kondisi cuaca dengan curah hujan yang masih tinggi menjadi perindukan nyamuk Aedes Aegypti.

"Setiap kali kita melakukan penyelidikan epidemiologi masih banyak jentik nyamuk di tempat-tempat penampungan air yang tidak bersihkan," kata Harianto.

Ia menyarankan, seharusnya minimal seminggu sekali wajib dikuras yaitu dengan 3M (menguras , menutup dan mendaur ulang) tempat-tempat penampungan air. 

"Dan ini sering kita edukasi baik secara langsung maupun di media sosial. Kami juga telah melakukan langkah-langkah preventif dan promotif dengan mengajak masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat," ungkapnya.

(Bangkapos.com/Yuranda)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved