Tribunners
Membangkitkan Self Esteem Pemuda
Dewasa ini, banyak didapati pemuda yang kehilangan motivasi diri, frustrasi, kehilangan arah, kehilangan keberanian
Oleh: Dr. Kartika Sari, M.Pd.I. - Guru SMA Muhammadiyah Pangkalpinang
BERBICARA kaum pemuda, tergambar dalam benak kita bahwa kaum pemuda merupakan sosok yang memiliki semangat, keberanian, dan jiwa yang kuat. Dengan demikian, sewajarnya pemuda menjadi idaman untuk membangun sebuah peradaban negeri. Sejarah membuktikan bahwa di tangan pemudalah bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya.
Dewasa ini, banyak didapati pemuda yang kehilangan motivasi diri, frustrasi, kehilangan arah, kehilangan keberanian, serta tidak menemukan dan sampai ada yang kehilangan jati dirinya. Semestinya hal demikian tidak perlu terjadi apabila pemuda mampu mewujudkan self esteem dalam dirinya yang didukung penuh oleh lingkungan sekitarnya.
Beberapa literatur mendefinisikan self esteem sebagai suatu pemikiran, perasaan, dan cara seorang memandang tentang dirinya. Banyak faktor yang memengaruhi self esteem dalam diri pemuda negeri kita, selain dari pola asuh juga dari dalam diri pemuda itu sendiri.
Orang tua merupakan pendidik utama dalam keluarga, merekalah yang memahami seperti apa perkembangan psikologis putra-putri mereka. Bagaimana anak-anak berperilaku dan mengembangkan diri itu tergantung pada didikan kedua orang tua. Biasanya anak yang dididik dengan baik, penuh dengan kasih sayang, penuh dengan kehangatan cinta, dan dididik sesuai dengan perkembangannya, tentunya akan mengalami tumbuh kembang yang baik atau self esteem yang sehat.
Namun bila dilakukan sebaliknya, maka yang terjadi anak akan terhambat dalam perkembangannya dan anak tidak mampu mengelola pemikiran, perasaan, dan pandangan terhadap dirinya sendiri. Saat anak-anak memiliki self esteem yang rendah maka anak akan kehilangan arah dan melakukan hal-hal yang negatif seperti anak menjadi tidak memiliki ketaatan terhadap etika dan norma dalam masyarakat, bingung dalam menentukan tujuan hidup, tidak dapat menyelesaikan persoalan hidup yang dihadapi, sering kali membandingkan dirinya dengan orang lain, tidak mampu meningkatkan kemampuannya untuk mengembangkan diri dan ada sebagian tidak memiliki percaya diri yang kuat.
Kita sepakat, bahwa pola asuh menjadi unsur yang paling urgen dalam tumbuh kembang anak. Namun, tidak semua orang tua yang paham atau memiliki cukup pengetahuan tentang bagaimana pola mengasuh anak yang baik, sesuai dengan perkembangannya. Apalagi banyak sekarang ini orang tua yang memutuskan untuk menikah muda yang kemungkinan memiliki self esteem yang rendah pada dirinya. Akhirnya pola asuh yang diberikan hanya pada dataran pemenuhan kebutuhan fisik sang anak saja. Dengan demikian, saat anak tumbuh menjadi sosok pemuda, anak kurang mampu untuk mengaktualisasikan tentang pandangan, perasaan dan pikiran terhadap dirinya sendiri yang mengakibatkan munculnya sederetan persoalan yang panjang dalam tatanan kehidupan.
Adanya penyuluhan atau pendidikan bagi orang tua muda tentang pola asuh anak (parenting) merupakan satu keharusan yang mesti digalakkan secara berkesinambungan oleh setiap pemangku kebijakan dan instansi atau kelompok yang berkonsentrasi dalam menanggulangi persoalan ini misalnya lembaga Kementerian Agama melalui penyuluh-penyuluh agamanya dan juga Kemendikbudristek melalui lembaga pendidikannya yang selalu bersinergi bersama orang tua dalam membangun anak bangsa.
Mungkin kita perlu banyak belajar dari negara maju misalnya Jepang. Syarat untuk menjadi orang tua (khususnya ibu) di Jepang harus memiliki kualifikasi pendidikan minimum strata satu. Alasannya karena Jepang merupakan negara yang sangat memperhatikan generasi-generasi penerusnya. Jepang menganggap generasi penerus tersebut harus memiliki pendidikan sejak dini, maka syaratnya orang tua (ibu) harus memiliki pendidikan minimum tersebut agar dapat mendidik dan melahirkan generasi-generasi yang unggul yang nantinya akan meneruskan tampuk pemerintahan atau estafet kepemimpinan.
Karena bagaimanapun tingkat pendidikan memiliki korelasi terhadap pola pikir para orang tua (ibu) di Jepang. Kata lainnya adalah apabila terdidik dari orang tua (ibu) yang terdidik dan memiliki pola pola pikir yang maju tentunya akan lahir anak-anak yang andal.
Tidak hanya itu, upaya untuk menjadikan anak ada dan tumbuh sebagai manusia yang dihargai, Jepang mewajibkan setiap orang tua untuk melakukan hal yang sangat sederhana, yaitu menyiapkan bekal bagi anak-anak mereka saat pergi atau berangkat ke sekolah dan melakukan pendampingan pada setiap tumbuh kembang sampai anak-anak mereka melanjutkan ke perguruan tinggi.
Orang tua di Jepang sendiri dalam rangka membangkitkan self esteem (harga diri) para diri anak dan pemudanya, tidak pernah membicarakan persoalan anak-anak mereka dengan orang lain, apalagi membandingkan anak yang satu dengan anak yang lainnya. Karena hal yang demikian dianggap sangat tabu bagi masyarakat Jepang dan mereka meyakini bahwa hal tersebut penyebab rendahnya self confidence (kepercayaan diri), dan self respect (penghormatan terhadap diri sendiri) pada anak. Tentunya upaya-upaya yang dilakukan oleh negara Jepang ini bisa dijadikan solusi untuk bertindak khususnya bagi seluruh orang tua muda yang ada di Negeri Serumpun Sebalai ini.
Beberapa usaha untuk meningkatkan self esteem (harga diri) dalam diri pemuda negeri adalah dengan mengenali diri sendiri. Kenal diri sendiri maka pemuda akan memahami tentang kelemahan dan kekurangannya. Pemuda diciptakan dengan potensi yang sama, maka sebagai seorang pemuda tidak boleh membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain.
Pemuda juga harus dapat menetapkan tujuan hidup dan berpikir maju ke depan (visioner) agar dapat dengan mudah memahami dirinya. Pemuda juga harus mampu mencari teman yang baik, karena teman yang baik akan memberikan motivasi yang positif pada diri kita dan akan lebih menghargai kita.
Selanjutnya untuk meningkatkan self esteem pada diri kita pemuda adalah membudayakan literasi yang dapat membangun motivasi diri. Harapannya berbagai upaya di atas diharapkan terus berkesinambungan dan mengkristalisasi dalam diri pemuda kita serta mampu melahirkan generasi-generasi kuat dan hebat sebagai penerus suatu negeri. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220207_kartika-sari-guru-sma-muhammadiyah-pangkalpinang.jpg)