Breaking News:

Jelang Idul Adha, Kasus PMK di Kabupaten Bangka Bertambah 118 Ekor Sapi

Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka mencatat terjadi penambahan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) sebanyak 118 ekor sapi.

Penulis: edwardi | Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Edwardi
Krisna Ningsih, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka. Jelang Idul Adha, Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka mencatat terjadi penambahan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) sebanyak 118 ekor sapi, sehingga total kasus PMK hingga saat ini mencapai 610 ekor di Kabupaten Bangka. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Menjelang hari raya Idul Adha 1443 H, Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka mencatat terjadi penambahan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) sebanyak 118 ekor sapi, sehingga total kasus PMK hingga saat ini mencapai 610 ekor di Kabupaten Bangka.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka, Krisna Ningsih mengatakan penambahan kasus PMK di Kabupaten Bangka mencapai 118 ekor sapi belakangan ini akibat penularan virus yang dibawa manusia ke sapi.

"Masyarakat saat ini sudah mulai membeli hewan kurban dari pedagang satu ke pedagang sapi lainnya atau berpindah kandang untuk mendapatkan sapi yang diinginkan, di saat bersamaan ada sapi yang terinfeksi PMK kemudian 
menularkab virus melalui manusia atau calon pembeli sapi," kata Krisna, Jumat (01/07/2022) di kantornya.

Dilanjutkannya, dengan bertambahnya kasus PMK ini jadi total kasus PMK terhitung dari tanggal 26 April 2022 hingga sekarang mencapai  610 ekor sapi.

"Di mana ada 465 ekor sapi sembuh, 124 ekor sapi masih sakit, tiga ekor sapi mati dan 18 ekor sapi dimusnahkan atau potong paksa," ujar Krisna.

Ditambahkannya, sapi yang terinfeksi PMK semuanya sapi yang diperuntukan untuk hewan kurban, di mana sebelumnya sapi didatangkan dari luar Pulau Bangka. 

'Sebaran virus PMK juga sudah menular pada kambing yang berada di kawasan yang sama dengan sapi yang positif PMK," kata Krisna.

Dikatakannya untuk kambing yang tertular PMK belum didata, karena paparan virusnya  masih tergolong ringan dilihat dari air liur kambing.

"Kita memperketat pengawasan di lapangan guna mencegah bertambahnya sebaran wabah PMK terutama di daerah yang kasus PMK cukup tinggi," ujarnya.

Diakuinya, virus PMK  memang mudah menyebar ke sapi atau kambing yang lain, jika dalam satu kawasan ditemukan satu kasus maka dengan mudah menular ke sapi atau kambing yang lain.

"Kami juga memberikan kesempatan pendampingan untuk membantu masyarakat mendapatkan sapi atau kambing kurban yang sehat dari pedagang," tukasnya. (Bangkapos.com/Edwardi)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved