Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Praktik Prostitusi Muncul Lagi di Eks Lokalisasi di Pangkalpinang, Pengamat Sosial Beberkan Sebabnya

Menurut Putra, menilik bagaimana praktik prostitusi masih bertahan di Kota Pangkalpinang, khususnya di daerah Parit Enam, memang perlu perhatian.

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Novita
IST/Dokumentasi Pribadi
Pengamat Sosial sekaligus Dosen Sosiologi, Universitas Bangka Belitung, Putra Pratama Saputra 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pengamat Sosial sekaligus Dosen Sosiologi, Universitas Bangka Belitung, Putra Pratama Saputra, mengatakan, kembali munculnya praktik prostitusi di kawasan eks lokalisasi di Pangkalpinang, dapat dipicu oleh adanya perilaku permisif yang ditunjukan masyarakat maupun pemerintah setempat.

Sifat permisif merupakan sikap dan pandangan yang membolehkan dan mengizinkan segala-galanya. Masyarakat sendiri tidak menghiraukan keberadaan praktik prostitusi tersebut.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota Pangkalpinang kembali memulangkan 35 wanita pekerja seks (WPS) setelah Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) dari Polres Pangkalpinang sempat menggerebek kawasan eks Lokalisasi Parit Enam, Kecamatan Bukit Intan, pada Sabtu (2/7/2022) kemarin.

"Bisa saja perilaku permisif selama ini yang ditunjukkan oleh masyarakat, disebabkan oleh lemahnya kontrol sosial. Adanya kesan bahwa masyarakat tidak begitu menghiraukan keberadaan praktik prostitusi," kata dia kepada Bangkapos.com, Selasa (5/7/2022).

Menurut Putra, menilik bagaimana praktik prostitusi masih bertahan di sudut Kota Pangkalpinang, khususnya di daerah Parit Enam, memang perlu mendapatkan perhatian.

Berbagai tindakan telah dilakukan pemerintah setempat guna menertibkan penyakit sosial masyarakat tersebut.

Bahkan pemerintah telah memberikan peringatan agar tempat lokalisasi segera ditutup.

Apabila tidak dilakukan, nantinya praktik prostitusi akan mengarah pada perdagangan manusia, penyalahgunaan sumber daya manusia, bahkan kekerasan terhadap anak di bawah umur.

Seperti terdapatnya WPS yang masih berusia 14 tahun atau di bawah umur, sebagai korban penipuan dalam hal penyalahgunaan sumber daya manusia.

"Semula mereka dijanjikan akan mendapatkan pekerjaan sebagai pengasuh anak, penjaga kafe dan pelayan rumah makan, malah dijadikan sebagai WPS," terang Putra.

Dari sisi berbeda, lanjut dia, praktik prostitusi bukan semata-mata karena masalah ekonomi. Terdapat beberapa hal yang membuat seseorang terjerumus ke dalam praktik prostitusi.

Di antaranya pergaulan bebas, memperoleh uang dengan cara instan, dipaksa dan diperbudak oleh seseorang atau sekelompok orang, frustasi sebagai pelarian atas masalah yang dialami, dan sebagainya.

Namun kebanyakan praktik prostitusi tidak hanya semata-mata dikarenakan alasan ekonomi. Melainkan terdapat tuntutan gaya hidup atau life style. Berawal dari keinginan diri sendiri, bukan atas kebutuhan hidupnya.

"Tidak sedikit juga mereka yang melakukan praktik prostitusi memiliki perekonomian yang cukup baik," urainya.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved