Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Akedemisi Sebut Geliat Hotel dan Restoran di Pangkalpinang Menuju Endemi Covid-19

Menurutnya, pelaku usaha hotel dan restoran meraup keuntungan dan merasakan semangat kebangkitan dalam menjalankan usahanya.

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Novita
ISTIMEWA
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Dr Devi Valeriani 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Saat musim libur sekolah, okupansi hotel di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meningkat. Juga membuat peningkatan di beberapa sektor lain, seperti pelabuhan, bandara, hingga restoran.

Dekan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Bangka Belitung (UBB), Devi Valeriani, menyebut, memang sudah saatnya bangkit dari keterpurukan Covid-19. Menurutnya, geliat hotel dan restoran saat ini menuju endemi Covid-19.

Kata Devi, peningkatan okupansi sudah mulai dirasakan saat momen libur lebaran tahun 2022 lalu, yang memberikan dampak yang sangat positif bagi sektor hotel dan restoran.

"Pemerintah telah mengambil kebijakan yang tepat, membolehkan masyarakat beraktivitas dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, dan dengan persyaratan bahwa masyarakat yang berpergian harus telah di vaksin sampai dengan 3 kali. Bagi yang belum sampai 3 kali vaksin, ada ketentuan yang harus dipenuhi," kata Devi kepada Bangkapos.com, Rabu (6/7/2022).

Menurutnya, pelaku usaha hotel dan restoran meraup keuntungan dan merasakan semangat kebangkitan dalam menjalankan usahanya. Dampak positif dari Covid-19 adalah akselerasi digitalisasi yang dirasakan, baik oleh produsen maupun oleh konsumen.

"Lonjakan okupansi hotel di Kota Pangkalpinang di proyeksi akan terjadi pada Bulan September hingga Desember. Sekitar bulan tersebut banyak orang harus menyelesaikan pekerjaannya ketika mendekati akhir tahun," tuturnya.

Baca juga: Okupansi Naik di Musim Libur Sekolah, Hotel Berbintang di Pangkalpinang Tawarkan Diskon Staycation

Dia menyebut, liburan sekolah pada Juni 2022 ini tidak terlalu memberikan lonjakan yang signifikan terhadap tingkat okupansi hotel di Kota Pangkalpinang.

"Hal ini dikarenakan masing-masing rumah tangga baru saja melakukan pengeluaran yang cukup besar pada Bulan Ramadan dan lebaran. Kemudian juga harus mempersiapkan tahun ajaran baru yang memerlukan dana untuk anak-anak sekolah. Prediksi lonjakan juga akan terjadi pada liburan akhir tahun," jelasnya.

Kata Devi, banyak masyarakat yang sudah mengagendakan liburan akhir tahun dengan memburu harga-harga promo pada hotel- hotel destinasi yang akan dituju. Pelaku usaha per hotelan dengan berbasis e-marketing dan digitalisasi, melakukan promo gencar untuk meningkatkan okupansi ratenya.

"Hampir semua hotel saat ini gencar dengan promo-promo kamar melalui aplikasi-aplikasi travel yang tersedia. Masyarakat pun sangat menikmati kondisi tersebut, sehingga ini menjadi sebuah kemudahan bagi masyarakat untuk berpergian, dengan hanya menggunakan smartphone semua bisa dilakukan dengan mudah," jelasnya.

Sektor pendukung pariwisata lainnya, kata Devi adalah restoran (kuliner). Restoran merupakan kebutuhan yang terpadu ketika masyarakat melakukan kegiatan berwisata, menikmati keindahan destinasi, dan mencicipi kuliner.

"Bahkan ketika menginap di hotel pun, banyak tamu yang memesan makanan di luar hotel dengan menggunakan aplikasi. Era digitalisasi tidak dapat dihindari, sehingga pelaku usaha restoran dan kuliner pun harus menawarkan produk yang dijual secara online," bebernya.

Bahkan menurutnya, tidak hanya restoran yang menjadi sasaran masyarakat dalam menikmati kuliner. Di Kota Pangkalpinang, perkembangan keberadaan kafe sangat luar biasa, hampir di setiap sudut kota terdapat kafe-kafe yang rata-rata dikelola oleh kaum milenial.

"Artinya, motivasi dan jiwa berwirausaha sudah mulai tumbuh. Kafe-kafe tersebut dapat menjadi alternatif tempat nongkrong kaum milenial, juga seperti mahasiswa, pengusaha muda, karyawan bahkan pasangan-pasangan rumah tangga muda. Kafe-kafe tersebut memanjakan pengunjungnya dengan desain yang instagramable, live music, akses internet dan harga yang terjangkau, serta makanan ringan yang bervariasi," tuturnya.

"Cita rasa menu yang dijual saat ini, tidak lagi menjadi sasaran utama kaum milenial. Namun lebih kepada kenyamanan tempat, yang menarik ketika melakukan selfie, serta promosi online yang cepat disasar oleh pengguna sosial media," tambahnya. ( Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved