Breaking News:

Percepatan Penurunan Stunting, Tim Satgas Provinsi Bangka Belitung Monitoring Desa Lokus Stunting

Tim Satgas (Satuan Tugas) Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melakukan monitoring secara langsung.

Penulis: Iklan Bangkapos | Editor: M Ismunadi
Istimewa
Tim Satgas (Satuan Tugas) Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melakukan monitoring secara langsung dengan mengunjungi sasaran stunting ke Desa Lokus (Lokasi Khusus) Stunting. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tim Satgas (Satuan Tugas) Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melakukan monitoring secara langsung dengan mengunjungi sasaran stunting ke Desa Lokus (Lokasi Khusus) Stunting yang bersumber dari hasil EPPBGM bulan Februari tahun 2022 di semua Kabupaten/Kota.

Diketahui, Desa Lokus  Stunting merupakan desa yang menjadi perhatian secara khusus dalam menanggulangi permasalahan stunting

Diskusi dan kunjungan ini sudah dilaksanakan sejak bulan Mei dan Juni 2022 bersama TPK (Tim Pendamping Keluarga), petugas gizi, PKB, PLKB dan pemerintah tingkat kecamatan dan desa/kelurahan untuk membahas permasalahan stunting, upaya penanggulangan yang sudah dilakukan, dan rencana tindak lanjut pencegahan kasus stunting dengan output temuan positif dan temuan negatif di setiap desanya.

Faktor pola asuh menjadi salah satu faktor terbesar yang melatarbelakangi Desa Simpang Tiga di Kecamatan Simpang Teritip menjadi desa dengan prevalensi stunting 33,7 persen .

Kesibukan orang tua dengan mayoritas berkebun dan keterbatasan tingkat pengetahuan ibu terhadap asupan gizi baik menjadi salah satu penyebab Desa Simpang Tiga menjadi desa dengan prevalensi tertinggi kedua se-Bangka Belitung.

Tingkat kesadaran masyarakat yang rendah terhadap PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) masih menjadi sumber permasalahan Desa Juru Seberang di KecamatanTanjungpandan dengan prevalensi stunting 10,60 persen , sebanyak 70 KK-nya belum memiliki jamban sehingga menimbulkan fenomena 'WC Terbang' yang berpotensi menimbulkan penyakit infeksi  dan sanitasi buruk sehingga mengakibatkan terganggunya penyerapan nutrisi pada proses pencernaan. 

Berdasarkan keterangan dari pihak desa, pemerintah desa telah menyediakan WC umum namun masyarakat enggan untuk menggunakannya.

Penanggulangan kasus stunting juga sudah diupayakan oleh setiap desa/kelurahan.

Terdapat Desa Kota Kapur di Kecamatan Mendo Barat dengan prevalensi 7,59 % yang mempunyai solusi baru yaitu arisan USG ibu hamil, sehingga perkembangan janin bisa dipantau.

Kemudian terdapat Desa Belilik di Kecamatan Namang dengan prevalensi 1,32 %   juga turut berupaya menuntaskan persentase dengan merujuk 2 balita berstatus gizi buruk dan 1 balita stunting ke fasilitas kesehatan sampai dengan rumah sakit di Jakarta sehingga status gizi balita tersebut mulai membaik.

Kegiatan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) seperti kelas ibu hamil, sosialisasi pendewasaan usia perkawinan, pola asuh, makanan sehat, dan generasi berencana harus lebih digencarkan oleh pemerintah desa/kelurahan agar kepedulian masyarakat bisa meningkat untuk menanggulangi stunting secara bersama-sama.

Posyandu juga harus tetap terlaksana agar perkembangan balita tetap terpantau secara rutin.

Zaitun Khomariah selaku Program Manager Bidang Program dan Kegiatan Satgas Stunting megatakan bahwa sebanyak 20 desa sudah dikunjungi bersama dengan Technical Asisstant Kabupaten/Kota.

“Kunjungan ke desa akan terus berjalan sehingga kami bisa melihat secara langsung permasalahan yang ada.

Kami akan berkoordinasi dengan lintas sektor terkait untuk membuat kebijakan yang solutif terhadap temuan di lapangan,” ucapnya. (Advertorial/t3)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved