Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Tahun Ajaran Baru, Sejumlah Sekolah di Pangkalpinang Terapkan Kurikulum Merdeka Belajar

Masa libur panjang akhir semester atau libur kenaikan kelas akan segera berakhir. Semua satuan pendidikan di Pangkalpinang, bakal menerapkan TA Baru

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Fery Laskari
Bangkapos.com/Dok
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Rita Aminah 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Masa libur panjang akhir semester atau libur kenaikan kelas akan segera berakhir. Semua satuan pendidikan di Pangkalpinang, bakal menerapkan Tahun Ajaran Baru 2022/2023.

Namun ada yang berbeda pada tahun ajaran baru tersebut, selain pembelajaran kembali dilakukan secara tatap muka, kurikulum pembelajaran bakal berganti. Di mana semula sekolah jenjang taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) menerapkan Kurikulum 2013, pada tahun ini bakal mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pangkalpinang, Rita Aminah mengatakan, pihaknya akan menerapkan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) secara mandiri disemua sekolah negeri mulai TK hingga SMP pada Tahun Ajaran Baru 2022/2023.

Penerapan tersebut sebagaimana kalender akademik yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Bahwa mulai Kamis, 14 Juli 2022 merupakan awal penerapan IKM.

“PAUD sampai SMP semua mulai kita instruksikan untuk menggunakan kurikulum merdeka,” kata dia kepada Bangkapos.com, Selasa (12/7/2022).

Pihaknya kata Rita, diberikan waktu oleh Kemendikbud agar semua sekolah di Pangkalpinang dapat menerapkan kurikulum merdeka pada tahun 2024 mendatang. Penerapan kurikulum merdeka ada tiga jalur yakni mandiri berubah, mandiri belajar, dan mandiri berbagi.

Kurikulum ini akan menciptakan kegiatan belajar menjadi lebih fleksibel, yang mana lebih menitikberatkan kebebasan belajar para siswa. Di sini, siswa diwajibkan lebih banyak bertanya, berkreasi dan berinovasi.

Siswa lebih diberi peluang untuk bertanya apa saja kepada guru, dan guru wajib menjawab. Pertanyaan-pertanyaan siswa itu tentu ada kaitan dengan informasi-informasi yang diperoleh, tidak hanya di dalam buku pelajaran yang diajarkan, tetapi juga apa yang didapatkan di media sosial yang begitu mendominasi informasi.

“Jadi setiap sekolah punya ciri khas, jadi misalnya antara sekolah yang berdekatan di satu daerah, sekolah itu punya keunggulan. Berikut juga swasta, ayo dong kita mulai berbenah supaya tidak stagnan,” terang Rita.

Di samping itu lanjut dia, sekolah bisa mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara bertahap atau sesuai dengan kesiapan masing-masing sekolah. Dimana ada tiga opsi kurikulum yang diberikan oleh kementerian.

Pertama, bagi sekolah yang belum siap masih bisa menggunakan Kurikulum 2013. Kedua, Kurikulum Darurat masih bisa digunakan bagi sekolah yang merasa ingin ada perubahan atau penyederhanaan kurikulum namun masih merasa belum siap menerapkan Kurikulum Merdeka.

Ketiga, sekolah yang sudah siap sudah bisa menerapkan Kurikulum Merdeka secara utuh maupun bertahap. Pihaknya memberikan kewenangan kepada guru untuk memutuskan kurikulum yang terbaik sesuai kesiapan sekolah.

Di mana semua opsi tersebut sudah ada rambu-rambunya, terutama target kurikulum yang harus dicapai. Capaian menyesuaikan kondisi sekolah, terutama jumlah peserta didik per kelasnya yang beragam.

“Nanti setiap guru yang tahu pola tepat yang akan diterapkan pada kurikulum merdeka. Jadi, lebih fleksibel daripada kurikulum sebelumnya,” jelasnya.

Kendati demikian, sejauh ini sudah sekitar 50 persen sekolah di Pangkalpinang baik negeri maupun swasta yang sudah menyatakan siap untuk menerapkan IKM. Semua sekolah sudah melakukan sosialisasi, terutama SD dan SMP yang sudah melakukan In House Training (IHT) atau kegiatan yang diselenggarakan oleh sebuah sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi guru dalam kurikulum merdeka.g

Oleh karena itu dia mengimbau, bagi yang belum menerapkan kurikulum merdeka untuk segera melakukan evaluasi di sekolahnya. Terutama keunggulan atau kekhasannya yang harus betul-betul ditonjolkan.

“Sekarang temanya bergerak, baik sekolah penggerak maupun guru penggerak. Jadi, semua harus bergerak. Sebab, saat ini penerapan kurikulum merdeka masih dalam proses pergerakan kita," katanya. ( Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

 

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved