Breaking News:

Tribunners

Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan

Kebakaran hutan dan lahan dapat terjadi jika terdapat tiga unsur, yakni panas, bahan bakar, dan oksigen, teori ini dikenal dengan segitiga api

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Ade Irma Sembiring, S.Hut. - Penyuluh Kehutanan Muda UPTD KPHP Sigambir Kotawaringin 

Oleh: Ade Irma Sembiring, S.Hut. - Penyuluh Kehutanan Muda UPTD KPHP Sigambir Kotawaringin

KONDISI cuaca pada beberapa minggu terakhir kerap sekali tidak menentu. Jika kita mengamati selama bulan Juni, cuaca hujan yang disertai angin kencang kerap terjadi hampir di seluruh daerah Bangka Belitung, sedangkan memasuki bulan Juli ini, curah hujan makin berkurang.

Berdasarkan informasi resmi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) untuk tahun 2022 prakiraan bulan Agustus mendatang kita menghadapi puncak musim kemarau, meskipun sebagian kecil wilayah di Indonesia sudah mengalami musim kemarau sejak bulan April yang lalu, namun sebagian besar akan mengalami keterlambatan musim kemarau.

Ada beberapa fenomena alam yang kerap timbul jika musim kemarau berlangsung, salah satunya yakni kebakaran. Kebakaran hutan dan lahan adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan dilanda api baik yang disebabkan oleh manusia maupun faktor alam sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia merupakan permasalahan yang rutin terjadi pada setiap musim kemarau, dalam 15 tahun terakhir khususnya tahun 1997-1998 bukan hanya merupakan bencana lokal ataupun nasional, tetapi juga bencana regional.

Peristiwa kebakaran-hutan' title=' kebakaran hutan'> kebakaran hutan saat itu dianggap sebagai bencana lingkungan terbesar sepanjang abad dikarenakan dampak langsungnya pada ekosistem global dengan naiknya emisi karbon dan hilangnya keanekaragaman hayati. Dalam bencana tersebut Indonesia mengalami kehilangan hutan paling luas. Diperkirakan sekitar 9,7 juta hektare hutan Indonesia hangus terbakar.

Kerugian yang diderita akibat bencana ini hampir mencapai US$ 10 miliar. Kerugian dihitung dari deforestasi, kehilangan keanekaragaman hayati dan pelepasan emisi karbon, belum mencakup kerugian sosial dan dampak ikutan lainnya.

Daerah Bangka Belitung sendiri untuk tahun 2022 ini, dilansir dari website resmi Badan Meteorologi dan Geofisika tentang sistem peringatan kebakaran-hutan' title=' kebakaran hutan'> kebakaran hutan dan lahan tergolong kategori aman, dalam artian kondisi lapisan permukaan tanah bagian bawah basah sehingga membutuhkan waktu empat pekan tanpa hujan untuk mencapai kondisi sangat kering.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari situs resmi Manggala Agni (brigade pengendalian kebakaran-hutan' title=' kebakaran hutan'> kebakaran hutan dan lahan yang dibentuk oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), sebaran titik panas (hotspot) di Bangka Belitung dari bulan Juli sampai Agustus 2022 tercatat 36 titik panas yang tersebar di beberapa tempat. Dengan demikian, kita tetap harus berjaga-jaga dan waspada menghadapi kebakaran-hutan' title=' kebakaran hutan'> kebakaran hutan dan lahan pada tahun ini.

Kebakaran hutan dan lahan dapat terjadi jika terdapat tiga unsur, yakni panas, bahan bakar, dan oksigen, teori ini dikenal dengan segitiga api. Jika salah satu unsur kita putuskan, kebakaran tidak akan terjadi. Dari ketiga unsur tersebut, hanya bahan bakar yang dapat kita kendalikan.

Untuk itu, sepanjang musim kemarau ini diharapkan agar kita tidak membuka lahan dengan cara membakar, membuang puntung rokok ke semak belukar yang kering, atau sengaja membakar semak belukar kering saat akan melakukan aktivitas seperti memancing (seperti yang kerap terjadi di sepanjang kawasan Lintas Timur), karena sebagian besar kebakaran-hutan' title=' kebakaran hutan'> kebakaran hutan dan lahan yang terjadi disebabkan ulah dan kelalaian manusia.

Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan peraturan perundang-undangan berupa sanksi pidana bagi pelaku pembakaran hutan melalui Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 pasal 78 ayat (3) dan (4) yaitu 15 tahun dan denda Rp5 miliar bagi pelaku pembakaran hutan dengan sengaja dan pidana penjara 5 tahun dan denda Rp1,5 miliar bagi yang karena kelalaian mengakibatkan kebakaran-hutan' title=' kebakaran hutan'> kebakaran hutan.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk mencegah kebakaran-hutan' title=' kebakaran hutan'> kebakaran hutan dan bila kebakaran telah terjadi? Pertama, selama musim kemarau hindari pembukaan lahan tanpa bakar dan membuang puntung rokok atau membakar sampah di tempat semak belukar yang kering apalagi setelah jam 10 pagi karena penyinaran matahari dan kecepatan angin mulai meningkat, waktu ini biasa disebut periode kritis kebakaran.

Kedua, bila kebakaran telah terjadi bila kondisi api masih kecil dan masih bisa diatasi sesegera mungkin padamkan api dengan peralatan yang ada. Ketiga, bila api makin besar dan mulai tidak terkendali, langsung hubungi pihak terkait yaitu pemadam kebakaran, UPTD Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau pemerintah desa sebelum api menjalar ke tempat yang lebih luas lagi. Karena ketika api kecil akan menjadi teman, namun ketika besar akan menjadi lawan, ketanggapan dan kepedulian kita sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kebakaran-hutan' title=' kebakaran hutan'> kebakaran hutan dan lahan. (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved