Rabu, 8 April 2026

Pria Muda di Arab Makin Banyak Konsumsi Obat Kuat, Kok Bisa?

Menurut data kementrian kesehatan di Yaman, obat kuat paling banyak dikonsumsi pria kelompok umur 20 hingga 45 tahun.

Penulis: Nur Ramadhaningtyas | Editor: Iwan Satriawan
Freepik
Ilustrasi obat kuat 

BANGKAPOS.COM - Baru-baru ini riset tentang penggunaan obat kuat mencengangkan banyak orang.

Ternyata negara di Timur Tengah menjadi konsumen obat kuat Viagra tertinggi di dunia, di mana Arab Saudi, Uni Emirat, Arab, dan Mesir berada di urutan atas.

Diberitakan BBC, seorang pemilik apotek di pusat kota Kairo, Mesir memperlihatkan racikan yang ia juluki "ramuan ajaib".

Pemil apotek bernama Rabea al-Habashi itu telah dikenal oleh warga sekitar karena menjual pembangkit gairah seksual yang alami.

Dikatakannya, selama beberapa tahun terakhir ada sejumlah perubahan yang ia amati.

"Kebanyakan pria kini mencari pil biru yang mereka dapatkan dari perusahaan-perusahaan Barat," ujarnya sebagaimana melansir BBC.

Pemangataman itu sejalan dengan riset yang menunjukkan kaum pria muda Arab semakin banyak membeli obat-obatan seperti sildenafil (dikenal dengan nama komersial Viagra), vardenafil (Levitra, Staxyn), dan tadalafil (Cialis).

Dalam kajian tahun 2012, Mesir adalah pelanggan obat anti-impoten terbesar per kapita kedua di antara negara-negara Arab.

Sementara posisi pertama dipegang Arab Saudi.

20220725 Ahli herbal, Rabea al-Habashi
Ahli herbal, Rabea al-Habashi, mengatakan pelanggan pria semakin banyak yang memilih obat-obatan anti-impoten.

Al-Riyadh, koran harian Arab Saudi menerbitkan laporan tersebut, memperkirakan saat itu warga Saudi telah menghabiskan US$1,5 miliar (Rp22,2 triliun) per tahun untuk obat-obatan anti-impoten.

Menurut surat kabar itu, konsumsi warga Saudi tergolong 10 kali lipat lebih tinggi dari konsumen Rusia, yang populasinya lima kali lebih banyak.

Sementara itu Arab Journal of Urology menunjukkan bahwa 40 persen responden pria muda Saudi pernah menggunakan obat seperti Viagra setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Adapun berdasarkan statistik resmi negara Mesir pada 2021, penjualan obat anti-impoten di sana mencapai US$127 juta (Rp1,8 triliun) per tahun, yang setara dengan 2,8

Sumber: BBC Indonesia
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved