Tribunners

Labeling

Label negatif yang diberikan kepada seorang anak membuat orang lain berburuk sangka

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Yulianti, S.Pd. - Guru BK SMAN 1 Tanjungpandan 

Oleh: Yulianti, S.Pd. - Guru BK SMAN 1 Tanjungpandan

LABELING adalah sebuah definisi yang ketika diberikan kepada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe seperti apakah dia. Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu per satu.

Secara sederhana, labeling adalah identitas yang diberikan kepada orang yang memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan norma. Labeling bisa juga disebut sebagai penjulukan/pemberian cap. Julukan yang berulang diterima menurut Howard Becker, sosiolog yang membuat teori labeling, dapat masuk ke dalam pikiran sehingga perilaku orang tersebut sesuai dengan labelnya.

Menurut Lemert (dalam Sunarto, 2004), teori labeling adalah penyimpangan yang disebabkan oleh pemberian cap/ label dari masyarakat kepada seseorang yang kemudian cenderung akan melanjutkan penyimpangan tersebut.

Seperti kata "BILO" dalam bahasa Belitung, yang artinya kurang pandai dalam belajar atau kurang cakap dalam melakukan sesuatu. Label ini bila terus-menerus diberikan kepada seorang anak, maka hal itu akan melekat pada dirinya dan akan membuat dirinya merasa seperti yang disebutkan atau dilabelkan kepadanya. Buruknya lagi akan timbul rasa sakit hati, dendam, minder, dan malah membuat anak mempertahankan perilaku negatif yang dilabelkan kepadanya.

Labeling yang bersifat negatif akan membawa dampak buruk, sedangkan labeling yang sifatnya positif bisa membawa dampak baik bagi pihak yang diberi label. Beberapa contoh labeling di antaranya :
* Anak yang tidak sengaja mengambil barang milik temannya dicap 'pencuri'
* Anak yang sekali melanggar peraturan diberi label sebagai 'anak bandel'
* Anak yang rajin mengerjakan tugas, dilabeli sebagai 'anak rajin'
* Seorang pekerja selalu menyelesaikan pekerjaannya sesuai waktu yang diberikan sehingga ia dilabeli 'pekerja keras yang rajin'.

Pemberian julukan, label, atau cap negatif pada seseorang sangat berpengaruh besar dalam kehidupannya. Namun sayangnya, di kalangan masyarakat dengan tingkat sosio-ekonomi dan pendidikan rendah, hal ini masih kurang diperhatikan. Bisa jadi karena kurangnya edukasi mengenai teori labeling.

Teori yang dikemukakan oleh Edwin M Lemert ini memang mengarah pada perilaku menyimpang seseorang, namun jika digunakan dengan cara yang baik akan memberikan dampak yang besar pada kehidupan seseorang yang bisa dijadikan motivasi eksternal dalam menemukan jati diri.

Dalam lingkungan pendidikan, sering kali tanpa kita sadari telah memberikan julukan negatif kepada siswa . Tidak ada salahnya mulai sekarang membiasakan diri memberikan label positif untuk memotivasi siswa dengan kalimat seperti "kamu pasti bisa", "kamu anak hebat" , "ayo lebih semangat lagi," dan lain sebagainya. Kalimat positif yang selalu didengar setiap waktu akan memberikan dampak yang positif juga nantinya. Berikan latihan yang lebih sering pada anak yang lambat dalam memahami pelajaran tertentu. Ikut sertakan anak dalam kompetisi untuk melatih rasa percaya dirinya.

Labeling ini tidak hanya dilakukan oleh guru kepada murid, bisa juga dilakukan oleh teman sebaya atau mereka yang berusia lebih tua. Dalam suatu komunitas ataupun dalam keluarga, labeling bisa saja terjadi. Dalam satu keluarga misalnya, anak tertua diberi julukan si keras kepala karena sering melawan atau membantah, si bungsu disebut si pemalu. Secara tidak sadar kita sudah melakukan labeling kepada anak. Walaupun efek labeling pada setiap anak berbeda-beda, namun dampak negatifnya akan lebih besar, tidak hanya pada saat itu, tetapi pada saat anak beranjak dewasa.

Ketika anak berulang kali diberi julukan negatif, maka lama-kelamaan mereka akan meyakini bahwa diri mereka memang sesuai dengan labelnya dan akan berperilaku sesuai dengan yang dilabelkan. Pada kenyataannya label yang muncul bukanlah karena mereka ingin seperti itu, tetapi karena kurangnya pemahaman orang tua atau orang dewasa di sekitar mereka apa arti di balik perilaku tersebut atau apa masalah yang dialami mereka sehingga perilaku tersebut muncul.

Label negatif yang diberikan kepada seorang anak membuat orang lain berburuk sangka. Karena sudah dicap sebagai anak nakal misalnya, maka kepeduliannya kepada teman, kesopanan kepada orang yang lebih tua serta suka menolong teman yang kesusahan menjadi tidak terlihat. Labeling menutupi kebaikan dirinya.

Hal ini membuat orang tua dan guru tidak bisa menilai anak secara objektif. Anak juga akan sulit menilai dan melihat kebaikan dirinya. Kita sebagai orang tua perlu mengenali sifat anak, tanpa meninggalkan komunikasi dua arah.

Ketika terjadi situasi negatif, tanyakan kepada anak mengapa ia melakukan hal tersebut. Jika ia mengulanginya lagi, tanyakan kembali alasannya. Beri arahan yang baik bukan memberikan cap/label atau julukan.

Anak perlu melihat dirinya sebagai pribadi yang positif sehingga dalam proses pencarian jati dirinya sifat inilah yang akan mereka ingat dan tanamkan dalam dirinya. Ingatlah ketika anak mulai berperilaku tidak kooperatif, tahan lisan kita untuk memberi label. Kritik perilakunya bukan pribadinya. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved