Breaking News:

Human Interest Story

Kisah Warga yang Mewarnai Kehidupan Tempat Transit Mantung, Jadi Andalan Sejak Puluhan Tahun Lalu

Tulisan "MANTUNG" berukuran besar terlihat jelas di tepi Pelabuhan Mantung, tempat kapal-kapal milik PT Timah Tbk bersandar, Jumat (29/7/2022).

Penulis: alza munzi hipni | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani
Sejumlah penumpang turun dari kapal pompong di tepi laut Teluk Kelabat yang biasa disebut tempat transit di Mantung, Jumat (29/7/2022). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --   Tulisan "MANTUNG" berukuran besar terlihat jelas di tepi Pelabuhan Mantung, tempat kapal-kapal milik PT Timah Tbk bersandar, Jumat (29/7/2022).

Satu kata itu sudah menjelaskan bahwa lokasi itu merupakan kawasan Tanjung Mantung yang berada di perairan Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Di Mantung inilah, selain sebagai tempat sandar kapal milik perusahaan BUMN tambang timah terbesar di Indonesia, juga lokasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bersejarah sejak zaman Hindia Belanda pada 1917 silam.

Kini, PLTU Mantung tinggal nama, meski pernah menjadi pembangkit listrik tenaga uap terbesar di Asia Tenggara.

"Tapi orang yang lalu lalang dari Mantung (sebutan daratan di Kawasan Pelabuhan Mantung) ke Dusun Tanjung Ru, Desa Bakit, tidak pernah berhenti. Setahu saya sejak masih kecil, ada saja yang ke Mantung dari Tanjung Ru atau sebaliknya," kata seorang pria yang dipanggil Pak Dong kepada Bangkapos.com.

Baca juga: Perayaan 1 Muharram di Kenanga Hadirkan Ustadz Derry Sulaiman dan Habib Husein Bin Umar As Segaf

Baca juga: Garap Kebun Sawit Secara Ilegal, Warga Bangka Ini Ditangkap Gakkum KLHK

Perairan Teluk Kelabat, menjadi rute pelayaran dari Mantung ke Tanjung Ru, Desa Bakit, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat.

Pak Dong berusia 62 tahun dan sejak kecil tinggal di Tanjung Ru, yang juga kerap berpergian ke Mantung.

Pada masa tuanya, Pak Dong mencari nafkah sebagai pengemudi kapal pompong yang membawa penumpang dari Mantung - Tanjung Ru dan sebaliknya.

"Dulu saya nelayan, sekarang bawa kapal, ngantar orang ke Mantung atau ke Tanjung Ru. Macam-macam keperluan, ada yang bekerja, jenguk anak, cucu, atau silaturahmi," ujar Pak Dong.

Berbekal mesin tempel berkekuatan 18 PK, kapal sepanjang 10 meter dan lebar dua meter, tak sulit bagi Pak Dong melayari laut Teluk Kelabat, yang relatif tenang.

Halaman
123
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved