Tribunners
Mengupas Isu Perlindungan Anak
Perlindungan bagi anak tentu saja dimulai dari lingkaran terkecilnya yaitu keluarga inti
Oleh: Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi. - Pekerja Sosial Ahli Muda Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
FENOMENA sosial yang akhir-akhir ini cukup meresahkan adalah kekerasan dan pelecehan terhadap anak. Hal ini mengingatkan lagi pada diri kita bahwa anak merupakan sosok manusia yang masih lemah dan membutuhkan perlindungan. Pelakunya mulai dari orang yang tidak dikenal hingga orang terdekat bagi anak, ibu kandung sendiri. Bagi beberapa orang mungkin keheranan dengan perilaku kekerasan maupun pelecehan yang dilakukan kepada anak.
Sepanjang awal hingga pertengahan tahun 2022 ini pun viral berita mengenai kekerasan terhadap anak hingga merenggut nyawanya, pelaku bahkan ibu kandung korban sendiri, ditingkahi pula berita pelecehan terhadap anak oleh orang tidak dikenal di tempat umum sehingga mengakrabkan telinga kita dengan istilah child grooming. Belum lagi pernikahan di bawah umur yang selama pandemi mengalami peningkatan dan makin banyak viral melalui konten media sosial.
Sebut saja, seorang bayi di Surabaya yang ditemukan membusuk di rumahnya, sementara ibunya diketahui pergi dan mengancam neneknya untuk tidak melaporkan. Kemudian, ibu di Bima yang menggigit anaknya hingga tewas.
Tidak hanya itu, pelecehan terhadap anak yang dilakukan seorang laki-laki dewasa dengan memegang bagian perut bawah anak-anak di mal yang viral di media sosial beberapa waktu lalu, dilanjutkan juga pelecehan oleh seorang laki-laki dengan mencium anak di depan sebuah warung. Peristiwa-peristiwa tersebut bisa membuat trauma anak maupun orang tua.
Dan yang sekarang sedang banyak dibahas adalah dugaan pelecehan seksual di dunia pendidikan. Terduga pelakunya adalah guru, motivator, dan orang yang seharusnya menjadi teladan bagi anak di rumah kedua mereka.
Yang terbaru adalah kasus anak di Cimahi yang meninggal dunia karena depresi setelah di-bully oleh teman sekolahnya untuk melakukan hubungan seksual kepada kucing lalu divideokan kemudian videonya disebarkan. Masyarakat dibuat heran dan tidak percaya dengan pola pikir anak-anak yang mampu melakukan perbuatan seperti itu. Belum lagi fenomena Citayam Fashion Week yang kemudian makin menampilkan kelompok LGBTQ, yang bisa jadi role model bagi anak-anak yang menyaksikan melalui berbagai media.
Perlindungan bagi anak tentu saja dimulai dari lingkaran terkecilnya yaitu keluarga inti. Anak belajar dan mengembangkan karakter berawal dari rumah. Bimbingan dan pengasuhan orang tua menjadi hal pertama yang mewarnai jiwa seorang anak. Peran pengasuhan yang seimbang antara ayah dan ibu memiliki dampak besar, baik bagi anak maupun bagi orang tua sendiri. Pola patrilineal yang masih kental di dalam masyarakat Indonesia tidak begitu menguntungkan bagi seorang ibu sehingga tidak sedikit kita dengar kesehatan jiwa seorang ibu terganggu karena kurang terlibatnya peran ayah dalam pengasuhan anak.
Beratnya beban pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, belum lagi jika ibu pun merupakan seorang working mom, membuat tingkat stres yang dihadapi lebih besar dengan kesabaran yang berbatas tipis ketika menghadapi anak yang dalam masa belajar mengenal emosinya, membuat seorang ibu membutuhkan pendamping/support system yang baik. Keberadaan support system yang baik menjadi faktor pendukung bagi perkembangan psikis anak ke arah yang baik. Ketika seorang ibu merasa kewalahan untuk menghadapi pekerjaan dan anak di rumah, ia membutuhkan jeda sesaat untuk mengembalikan ruang otak yang jernih sehingga tidak mudah untuk melakukan tindakan kasar yang kemudian bisa ia sesali.
Permasalahan sosial anak diyakini bermula pada pengasuhan dalam keluarga yang tidak tepat. Tidak hanya masalah kesehatan yang berawal dari pemberian gizi anak sehingga bermuara pada masalah stunting, tetapi juga pola asuh yang kemudian mewarnai perilaku anak di masa depannya. Peran kedua orang tua yang seimbang diyakini memiliki pengaruh yang sangat besar pada perkembangan psikologis dan fisik anak, termasuk masalah orientasi seksual anak di masa dewasanya.
Anak menjadi salah satu fokus dalam misi pembangunan, karena bukan hanya sebuah pernyataan klise bahwa anak adalah generasi penerus bangsa. Nyatanya mereka memanglah menjadi sumber daya utama yang harus disiapkan untuk meneruskan keberadaan sebuah bangsa. Mungkin tidak muluk untuk mencapai kemajuan bangsa, cukup untuk keberlangsungan sebuah keluarga pun, seorang anak diharapkan dapat membawa nama baik orang tuanya dan memiliki nasib yang lebih baik.
Anak dengan seperangkat modal yang dianugerahkan Tuhan kepadanya tentu memiliki hak untuk kita penuhi. Ia dititipkan kepada kita untuk dibimbing dan dilindungi dengan sebaik-baik usaha dan cara orang tua. Negara dengan perannya memiliki kewajiban memberikan penguatan melalui regulasi yang mampu mengatur dan melindungi hak anak maupun orang tua serta mendorong peran serta keluarga dan masyarakat untuk dapat lebih peduli pada anak.
Peringatan Hari Anak Nasional, 23 Juli lalu, mengampanyekan isu-isu yang berpusat pada penghentian kekerasan anak, pencegahan perkawinan anak, hingga penguatan pengasuhan dalam keluarga. Dengan demikian, melalui peringatan Hari Anak Nasional ini, pemerintah menggugah kembali dan meningkatkan kepedulian masyarakat pada isu-isu terkait kesejahteraan anak. Diharapkan dengan peningkatan kesadaran dan kepedulian dapat memperbaiki kesejahteraan anak Indonesia yang makin hari makin banyak menghadapi tantangan permasalahan sosial. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220801_Dwi-Ratna-Laksitasari-Pekerja-Sosial-Ahli-Muda.jpg)