Horizzon
Selamatkan Polisi yang Babak Belur
Terakhir, kita hanya bisa berdoa, semoga Kepolisian Republik Indonesia mampu melewati ini semua dan mengakhirinya dengan ksatria
AKHIR dari kisah Irjen (Pol) Ferdy Sambo tampaknya sudah tidak penting lagi. Apalagi, spekulasi yang muncul di publik barangkali jauh lebih 'menarik' dibanding kisah yang sebenarnya.
Tak perlu bersusah payah untuk mencari potongan kisah dari episode jenderal polisi bintang dua ini tersedia masif di hampir semua lini media sosial. Di TikTok bahkan setiap 2-3 kali scroll ke bawah, yang muncul adalah potongan kisah Sang Jenderal.
Kita tidak tahu, apakah Tiktok memang menerapkan algoritma yang menyajikan kisah sedang trending atau itu lantaran hybrid dari masing-masing orang lantaran kecenderungannya. Akan tetapi yang jelas, video-video pendek di TikTok didominasi oleh kisah Irjen (Pol) Ferdy Sambo.
Jika sebelumnya video tentang Ferdy Sambo ini banyak berisi lip sync berikut grafis dengan latar belakang kasus yang tengah ia hadapi, namun terakhir di TikTok juga menampilkan gagahnya seorang Ferdy Sambo yang memberikan pernyataan saat ia akan diperiksa di Bareskrim Mabes Polri.
Bisa ditebak, usai video natural tentang pernyataan singkatnya, video yang muncul adalah analisis liar dari sejumlah pihak yang membikin TikTok makin sukses menghipnotis penggunanya.
Di video awal, Ferdy Sambo memberikan keterangan bahwa ia telah empat kali diperiksa. Setelah itu Ferdy Sambo juga dengan lugas menyampaikan permintaan maaf kepada institusi terkait kisah yang sedang melanda dirinya.
Tak lupa, Ferdy Sambo juga menyampaikan belasungkawa atas kematian anak buahnya Brigadir Nofriansyah Josua Hutabarat alias Brigadir J yang kasusnya selalu dikaitkan dengan dirinya berikut istrinya. Tak lupa, Ferdy Sambo juga mendoakan agar keluarga Ferdy Sambo sabar dengan apa yang sedang terjadi.
Terkait dengan ucapan duka tersebut, ada pesan kuat yang disampaikan Ferdy Sambo terkait kematian Brigadir J. Dengan penekanan khusus, Ferdy Sambo menyebut bahwa ucapan duka ini terlepas dari apa yang sudah dilakukan mantan anak buahnya tersebut kepada istri dan keluarganya.
Orang yang pernah belajar psikologi pasti tak bisa mengesampingkan kalimat terakhir Ferdy Sambo yang disampaikan dengan diksi yang sangat kuat. Meski panjang jika harus dijelaskan, namun secara sederhana, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa ada 'kemarahan' luar biasa yang ditunjukkan Ferdy Sambo terhadap Brigadir J.
Orang yang pernah belajar Psikologi juga pernah mendapatkan mata kuliah kriminologi dan tentu matang dalam teori motif, meski hanya dengan melihat potongan-potongan video di TikTok tak cukup untuk menyimpulkan bahwa jika dilihat dari teori motif, maka sudah cukup alasan untuk mengaitkan kematian Brigadir J dengan 'kemarahan' yang ditunjukkan seorang Ferdy Sambo.
Spekulasi tersebut tampaknya tidak perlu dikembangkan. Kita tak perlu ikut liarnya spekulasi yang ada di TikTok yang harus diakui merupakan lini media sosial yang paling nyaman interface-nya untuk melihat video.
Kita simpan dahulu 'kemarahan' Ferdy Sambo yang ditunjukkan dalam video teranyar yang beredar dan mudah kita akses. Kita coba kembali ke kasus utama, yaitu kematian Brigadir J.
Kita juga perlu kesampingkan sekuel Bharada E yang tampaknya memang tak begitu menarik untuk disimak. Terlalu banyak puzzle yang tak nyambung jika kita percaya begitu saja bahwa Bharada Richard Eliezer adalah sosok utama di balik kematian Brigadir J.
Meski belum pernah ada rilis resmi dari instansi yang berwenang terkait dengan penyebab kematian Brigadir J, namun tak bisa dikesampingkan bagaimana awal mula kasus ini menguak ke permukaan.
Diawali dengan drama keluarga Brigadir J yang tak diizinkan membuka peti jenazah yang kemudian beredar video bagaimana banyak luka di jenazah Brigadir J yang membuat keluarga meradang.
Potongan kisah ini makin lengkap manakala kuasa hukum keluarga Brigadir J mencatatkan ke akta notaris sejumlah catatan dan rekaman pembicaraan selama proses autopsi kedua yang dilakukan terhadap jenazah Brigadir J.
Melalui dua dokter yang mewakili keluarga di autopsi tersebut, kita seperti dipertontonkan pada kengerian yang luar biasa atas fakta-fakta di balik kematian seorang polisi bernama Brigadir Josua. Tak perlu terlalu detail, cukup sebuah catatan bahwa otak almarhum pindah ke perut, ada lubang di bagian kepala yang kemudian ditutup dengan lem.
Selain itu, dua organ jenazah yang tak ditemukan, yaitu pankreas dan kantong kemih yang tidak ditemukan sampai sekarang. Satu lagi, selain luka tembak juga ditemukan sejumlah luka terbuka di sejumlah bagian tubuh dan sejumlah tulang yang retak dan misposition.
Catatan tersebut tentu tak cocok dengan skenario awal yang menyebut bahwa kematian Brigadir J lantaran baku tembak dengan Bharada Eliezer. Catatan dalam autopsi kedua ini menguatkan dan mengantarkan kita semua untuk berimajinasi liar atas skenario di balik kematian Brigadir J.
Lantaran spekulasi tersebut tak segera dijawab dengan lugas dan logis oleh sebuah institusi sebesar Polri, maka kita juga tak bisa melarang jika kemudian publik menganggap bahwa skenario baku tembak yang disebut polisi sebagai background kematian Brigadir J adalah bohong.
Ketidaklogisan yang nyata atas skenario baku tembak ini menjadi standing awal publik untuk tidak percaya kepada polisi terkait kasus ini. Ironisnya, ketidaklogisan skenario baku tembak ini menjadi titik awal 'gelombang tsunami' yang membawa sejuta spekulasi liar atas kasus Brigadir J.
Tidak hanya berhenti pada kasusnya, tsunami yang membuat polisi benar-benar babak belur ini juga mulai merembet ke hal-hal lain. Spekulasi mulai liar dan terus menggerogoti kepercayaan publik terhadap polisi yang pada survei terakhir angkanya cukup moncer, yaitu 80,2 persen publik percaya pada kinerja kepolisian.
Tak bisa dibendung, publik mulai menata puzzle apakah benar Ferdy Sambo memiliki kartu truf yang mampu mengunci pimpinan Polri sehingga tak berani tegas. Atau publik juga kembali mengorek luka lama pada kasus kilometer 50 yang tak pernah tuntas.
Harus jujur, apapun ending dari kisah Brigadir J ini benar-benar telah membuat polisi kita babak belur. Ibarat pepatah panas setahun, hujan sehari, kasus ini telah merontokkan muruah kepolisian yang dengan susah payah dibangun pelan-pelan.
Publik yang mulai percaya bahwa polisi sudah makin baik bukan hanya kembali ragu, tetapi benar-benar sudah tidak percaya. Kita tahu, hal paling elementer pada sebuah organisasi adalah pada proses kaderisasi.
Kita tahu dan harus tahu bahwa tidak semua polisi memiliki pandangan yang sama dengan apa yang menjadi kebijakan organisasi polisi. Kita harus percaya bahwa banyak di antara prajurit Bhayangkara yang sebenarnya marah dengan kasus ini.
Selain merontokkan kepercayaan publik terhadap kepolisian, kisah Irjen Ferdy Sambo feat Brigadir J ini juga membuat polisi-polisi di garda terdepan pelayanan tertampar mukanya, mereka malu dan kecewa dengan institusinya.
Butuh langkah konkret untuk menyelamatkan Kepolisian Republik Indonesia. Apapun alasannya, organisasi ini harus diselamatkan. Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo bahkan dengan lantang pernah mengatakan, jika tak mampu membersihkan ekornya, maka kepalanya yang akan dipotong. Pesan tersebut begitu kuat dan barangkali memungkinkan untuk diambil demi menyelamatkan institusi.
Terakhir, kita hanya bisa berdoa, semoga Kepolisian Republik Indonesia mampu melewati ini semua dan mengakhirinya dengan ksatria. Polisi pasti paham bahwa menciptakan rasa keadilan bagi publik adalah prioritas utama untuk mengurai dan menuntaskan episode Irjen Ferdy Sambo feat Brigadir J yang menjadi perhatian publik ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)