Misteri Pertengkaran Irjen Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi di Magelang
Bharada E mengungkapkan fakta baru bahwa ada pertengkaran hebat antara Irjen Ferdy Sambo dengan Putri Candrawathi sebelum Brigadir J dibunuh.
BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Hingga saat ini Polri belum mengungkap motif pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.
Alasannya, penyidik Tim Khusus (Timsus) Polri masih melakukan pendalaman penyidikan kasus pembunuhan berencana tersebut.
Sejumlah saksi kunci sudah menjalani pemeriksaan terkait kasus menghebohkan publik ini.
Hasilnya empat orang yakni mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer atau Bharada E, Bripka Ricky Rizal atau Bripka RR, dan asisten rumah tangga (ART) keluarga Ferdy Sambo, Kuwat Maruf (KM) ditetapkan sebagai tersangka.
Penyidik terus mendalami penyidikan kasus ini. Tak terkecuali Putri Candrawathi, istri Irjen Ferdy Sambo turut diperiksa.
Baca juga: Brigadir J Dibunuh karena Bocorkan Informasi Dugaan Kejahatan Terhadap Putri Candrawathi, Benarkah?
Baca juga: Ketika Putri Candrawathi Foto Bareng 3 Ajudan Ferdy Sambo, Tersenyum Pegang Tangan Brigadir J
Baca juga: INILAH Kesalahan Bripka RR dan ART Irjen Ferdy Sambo dalam Kasus Pembunuhan Brigadir J
Motif kasus pembunuhan Brigadir J masih menjadi tanda tanya publik.
Di balik rasa penasaran publik itu terungkap fakta baru dari pengakuan Bharada E, ajudan Irjen Ferdy Sambo yang menjadi tersangka.
Dikutip Bangkapos.com dari Wartakotalive.com, Bharada E mengungkapkan fakta baru bahwa ada pertengkaran hebat antara Irjen Ferdy Sambo dengan Putri Candrawathi (PC), di hari penembakan atau pembunuhan Brigadir J.
Pertengkaran itu terjadi di Magelang yang membuat Putri Candrawathi menangis sejak di Magelang, hingga kembali ke Jakarta pada 8 Juli, di hari tewasnya Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga.
Meski begitu, Bharada E tidak tahu pasti apa penyebab pertengkaran yang membuat istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi menangis. Hingga akhirnya Bharada E diperintahkan menembak Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo.
Karenanya diduga kuat ada hubungan antara insiden menangisnya PC dengan tewasnya Brigadir J yang dibunuh Irjen Ferdy Sambo.
Hal itu dikatakan kuasa hukum Bharada E, Muhammad Boerhanuddin, di kanal YouTube acara Hot Room Metro TV, Rabu (10/8/2022) malam.
"Bharada E tidak menyebut masalahnya, cuma kata dia Ibu Putri nangis-nangis dari Magelang itu. Menangis-nangis di rumah di Magelang situ, karena pertengkaran," kata Boerhanuddin.
Pertengkaran terjadi antara Irjen Ferdy Sambo dan istrinya Putri Candrawathi.
"Bharada E tidak sampaikan motif menangis ibu Putri karena apa. Bharada E tidak tahu kenapa sampai menangis," ujar Boerhanuddin.
Sampai akhirnya kata Boerhanuddin saat tiba di Jakarta, Bharada E dipanggil Irjen Ferdy Sambo dan diperintahkan menembak Brigadir J yang saat itu tak berdaya melakukan perlawanan.
Baca juga: Motif Pembunuhan Brigadir J, Mahfud MD Sebut Hanya Boleh Didengar Orang Dewasa
Baca juga: Kisah Komjen Agus Andrianto, Kabareskrim yang Sentil Pengacara Bharada E : Dia Ngoceh di Luar
Baca juga: Bharada E Ngaku Takut Jika Tak Laksanakan Perintah Atasan: Kalau Nggak Nembak Saya yang Ditembak
Bharada E katanya juga tidak tahu sama sekali motif Irjen Ferdy Sambo menyuruhnya menembak Brigadir J.
"Dia tidak tahu sama sekali. Dari pengakuan Bharada E, kalau di TKP tidak ada pertengkaran sama sekali. Yang dia cerita itu, dari Magelang mungkin ada masalah antara ibu dan Irjen Ferdy Sambo, begitu," kata Boerhanuddin.
Sebagai bawahan, katanya, Bharada E tidak kuasa menolak perintah Irjen Ferdy Sambo.
"Dugaan pelecehan itu tidak ada di TKP sama sekali, menurut Bharada E. Pengakuannya di TK[, Brigadir J belum tertembak. Yang pertama menembak adalah Bharada E atas perintah Irjen Sambo. Lalu dari pengakuan Bharada E tidak ada penganiayaan sama sekali," katanya.
Dari keterangan Bharada E, kata Boerhanuddin, motif pembunuhan Brigadir J mengarah seperti pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD yang mengatakan motif kasus ini sensitif dan mungkin hanya bisa didengar orang dewasa.
3 Spekulasi soal Motif Pembunuhan
Menko Polhukam Mahfud MD sempat mengungkap maksud pernyataannya bahwa motif pembunuhan Brigadir J adalah sensitif dan banyak beredar atau didengar di masyarakat.
Menurut Mahfud, sejauh ini ada tiga spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat terkait motif pembunuhan Brigadir J oleh Irjen Ferdy Sambo.
Yakni pelecehan seksual, perselingkuhan segi empat dan perkosaan, yang mengakibatkan Brigadir J dihabisi Ferdy Sambo.
"Pertama katanya pelecehan. Pelecehan itu apa sih, apakah membuka baju atau apa. Kan itu untuk orang dewasa. Kedua, katanya perselingkuhan empat segi. Loh siapa yang bercinta dengan siapa. Lalu, yang ketiga, yang terakhir yang mungkin karena perkosa, usaha perkosa lalu ditembak. Itu kan sensisitf," jelas Mahfud.
"Jadi yang buka itu jangan saya, polisi saja. Karena itu uraiannya panjang. Nanti polisi yang membuka ke publik lalu dibuka di pengadilan, oleh jaksa. Kalau tanya ke saya nanti malah salah," kata Mahfud.
Baca juga: Motif Sambo Masih Misteri, Timsus Terus Dalami Kasus Penembakan Brigadir J
Baca juga: Pesan Putri Candrawathi pada Brigadir J Beredar, Istri Ferdy Sambo Punya Panggilan Khusus
Baca juga: Sosok Putri Candrawathi di Mako Brimob Diragukan, Pihak Brigadir J Curiga Digantikan Pengacaranya
Mahfud mengakui banyak bocoran soal kemungkinan motif pembunuhan ini.
"Tapi biar dikonstruksi dulu oleh polisi," katanya.
Brigadir J dan Bripka RR Cekcok
Fakta lain, Bharada E juga mengungkapkan detik-detik sebelum terjadinya insiden pembunuhan terhadap Brigadir J.
Keterangan itu disampaikan Bharada E kepada kuasa hukumnya, Burhanuddin, seperti dikutip Bangkapos.com dari TribunPalu.com.
Disebutkan dalam keterangan itu, Bharada E melihat Brigadir J terlibat cekcok dengan ajudan Irjen Ferdy Sambo lainnya.
Adapun ajudan yang dimaksud adalah Bripka RR.
Seperti diketahui, Bripka RR adalah salah satu tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J.
"Dia sebutkan ada kejadian (Brigadir J) sempat marahan dengan salah satu tersangka (Brigadir RR). Dia tanya kenapa, si RR gak mau sebut dan Brigadir J tidak mau sebut," ujar Burhanuddin menyampaikan isi keterangan Bharada E, dilansir dari video di kanal YouTube tvOneNews, Rabu (10/8/2022).
Terkait dengan apa penyebab Brigadir J dan Brigadir RR terlihat konflik, Burhanuddin menyebut Bharada E tidak mengetahuinya.
"Bharada E ini sampaikan ada masalah apa sampai cekcok, dua pihak ini diam (Brigadir J dan Brigadir RR)," kata Burhanuddin.
Lebih lanjut, Bharada E mengaku sempat melerai pertengkaran antara Brigadir J dan Brigadir RR.
Pasalnya, Bharada E khawatir pertengkaran antara Brigadir J dan Brigadir RR bakal menganggu istri Irjen Ferdy Sambo yang disebut sedang sakit.
"Bharada E bilang jangan bertengkar di dalam (rumah), Ibu (istri Irjen Ferdy Sambo) lagi sakit. Bertengkar di luar," kata Burhanuddin menyampaikan keterangan Bharada E.
Hubungan Bharada E dan Brigadir J
Pengacara Bharada E, Burhanuddin mengungkap hubungan antara Bharada E dan Brigadir J sebelum terjadinya insiden pembunuhan di Rumah Dinas Kadiv Propam Polri.
Menurut Burhanuddin, keterangan mengenai hubungan dua ajudan Irjen Ferdy Sambo itu disampaikan langsung oleh Bharada E.
Burhanuddin mengatakan, sebelum diperintahkan mengeksekusi, rupanya Bharada E memiliki hubungan dekat dengan Brigadir J.
Bahkan, hubungan dekat itulah yang membuat Bharada E merasa terguncang ketika diperintahkan menembak Brigadir J.
"Itu sebenarnya bikin dia sesak, karena teman satu kamarnya dan tidur bareng-bareng," kata Burhanuddin menyampaikan isi keterangan Bharada E, dilansir dari video di kanal YouTube tvOneNews, Rabu (10/8/2022).
Burhanuddin melanjutkan, dalam keterangannya Bharada E tidak menyangka disurut menembak rekannya sesama ajudan.
Perintah itu kemudian dilakukan Bharada E hingga membuat dirinya trauma.
"Pasca itu dia trauma, kok bisa dia lakukan. Dia nggak ngira juga kok bisa nembak," kata Burhanuddin.
Pernyataan Kapolri soal Motif Pembunuhan
Sebelumnya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan motif pembunuhan Brigadir J oleh Irjen Ferdy Sambo, masih didalami Timsus dengan melakukan pendalaman dan memeriksa saksi-saksi.
"Tadi sudah saya jelaskan, bahwa terkait dengan motif, saat ini sedang dilakukan pendalaman terhadap saksi-saksi dan juga terhadap Ibu Putri. Karenanya saat ini belum bisa kita simpulkan," kata Listyo.
"Namun yang pasti untuk motif ini yang menjadi pemicu utama terjadinya peristiwa pembunuhan, untuk kesimpulannya tim saat ini masih terus bekerja. Ada beberapa yang saat ini sedang diperiksa dan tentunya nanti akan kita informasikan. Namun yang paling penting, peristiwa utamanya adalah penembakan," kata Listyo.
Ia menegaskan untuk sementara ada 4 tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Yakni Bharada Richard Eliezer. Brigadir Ricky, Kuwat Maaruf dan Irjen Ferdy Sambo.
Keempatnya dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan junto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP tentang turut serta melakukan tindak pidana secara bersama-sama.
"Dengan ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun. Mudah-mudahan ini bisa memberikan jawaban kepada masyarakat atas keseriusan institusi Polri untuk menjaga marwahnya," kata Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto.
Komjen Agus Andrianto mengatakan peran masing-masing tersangka adalah Bharada Richard Eliezer melakukan penembakan terhadap korban Brigadir J.
Tersangka KM, membantu dan menyaksikan penembakan terhadap Brigadir J.
Brigadir Ricky juga turut membantu dan menyaksikan penembakan terhadap korban.
Serta Irjen Ferdy Sambo memerintahkan penembakan terhadap Brigadir J.
"Irjen FS menyuruh melakukan dan menskenariokan peristiwa seolah-olah terjadi peristiwa tembak menembak di rumah di Komplek Polri Duren Tiga," kata Agus.
"Dengan ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun. Mudah-mudahan ini bisa memberikan jawaban kepada masyarakat atas keseriusan institusi Polri untuk menjaga marwahnya," kata Agus.
(WartaKotalive.com/Budi Sam Law Malau/TribunPalu.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220811-Brigadir-J-Irjen-Ferdy-Sambo-dan-Putri-Candrawathi.jpg)