Breaking News:

Berita Sungailiat

Lahan Dicaplok, Puluhan Warga Bereaksi Pasang Plang Bertulis Lahan Ini Milik Plasma Ds Mendo

Puluhan warga Desa Mendo Barat, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memasang plang.

Penulis: Antoni Ramli | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Anthoni Ramli
Puluhan warga desa Mendo Barat, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka Bangka, memasang plang di lahan yang di klaim sebagai hutan plasma milik mereka, Sabtu (13/8/2022) siang 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --  Puluhan warga Desa Mendo Barat, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memasang plang di lahan yang diklaim sebagai hutan plasma milik mereka, Sabtu (13/8/2022) siang.

Pemasangan plang tersebut buntut dari pencaplokan lahan yang dilakukan sejumlah oknum warga  yang tidak bertanggung jawab.

Tokoh masyarakat Desa Mendo Barat, Teuku Yunus mengatakan klaim dan pasangan plang tersebut merupakan bentuk dari kesepakatan dengan pihak PT SMAL (Sinar Argo Makmur Lestari selaku pemegang izin usaha untuk memberikan lahan plasma kepada masyarakat sebanyak 20 persen.

"Kesepakatan kami dengan PT SAML wajib memberi plasma  kepada kami 20 persen dan itu tertuang di  SPK. Namun setelah dihitung hitung belum mencapai. Diperkirakan ada 140 hektar hak plasma masyarakat. Kenyataan wilayah plasma kami sekitar 40 hektar itu digerogoti oknum yang tidak bertanggung jawab," kata Teuku Yunus.

Baca juga: Atlet Bina Satria Athletic Club Raih Medali Emas Kejurnas Atletik, Nie Anggelani Harumkan Nama Babel

Baca juga: Satgas Tambang Timah Ilegal Bentukan Pj Gubernur Bakal Ganti Nama Jadi TP4TI

Yunus juga menyesalkan sikap sejumlah oknum warga yang sengaja memutus jalan menuju kebun plasma yang di klaim mereka.

"Mereka juga memutuskan jalan jalan kami menuju lahan plasma, di  jadi sepertinya kami ini diinjak injak oknum ini," tegasnya.

Bagi Teuku Yunus, hak warga memperoleh 140 hektar lahan plasma tersebut merupakan komitmen dan harga mati kesepakatan mereka dengan pihak PT SMAL.

Terlebih sebagai tokoh masyarakat dirinya wajib mengawal komitemen tersebut.

Apalagi 90 persen warga sekitar merupakan pekerja di PT SMAL.

"Dari 700 hektar itu artinya otomatis plasma kami sekitar 140 hektar, itu wajib itu perusahaan tidak boleh tidak, kalau tidak kami singkirkan. Saya sebagai orang tua, tokoh masyarakat wajib mengawal itu, kami tidak mau di bohong-hohongi. Makanya kami kawal dari awal karena itu sudah kesepakatan, tapi kenyataannya mereka merong-rong terus," tegasnya.

Baca juga: Cuaca Bangka Belitung Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di 2 Daerah

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved