Breaking News:

Eksistensi Komunitas Pemantun Rumpun Melayu Babel, Spontan Ciptakan Pantun dalam Hitungan Detik

Terbentuk sejak tahun 2010, Komunias Pemantun Rumpun Melayu Bangka Belitung masih eksis.

Penulis: Arya Bima Mahendra | Editor: M Ismunadi
Ist/Dok. Pribadi Kario
Sejumlah anggota Komunitas Pemantun Rumpun Melayu Bangka Belitung saat tampil dalam berbagai pertunjukan acara. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pantun menjadi kesenian dan budaya masyarakat rumpun Melayu yang pada jamannya memiliki banyak penggemar.

Namun dewasa ini, budaya berpantun tidak sepopuler dulu dan sudah banyak ditinggal oleh masyarakat melayu, termasuk yang ada ada di Bangka Belitung.

Meski begitu, masih ada saja orang-orang yang peduli dan mencintai sepenuh hati kesenian yang dianggap sebagai media untuk menyampaikan ungkapkan isi hati, kritikan ataupun pesan moral kehidupan.

Salah satunya adalah Komunitas Pemantun Rumpun Melayu Bangka Belitung.

Terbentuk sejak tahun 2010 silam, komunitas ini masih eksis di Bangka Belitung dan kerap mengisi acara-acara kesenian, terutama yang berhubungan erat dengan adat budaya Melayu.

Meski mengalami pasang surut, Kario selaku ketua komunitas tersebut mengaku bahwa pantun masih memiliki 'tempat' di hati masyarakat Bangka Belitung.

"Anggota komunitas kita saat ini ada sekitar 30-an orang," ucap Kario saat diwawancarai Bangkapos.com, Sabtu (27/8/2022).

Dia berkata, meski tak sering kumpul seperti dulu, komunitas yang dipimpinnya itu masih eksis sampai sekarang dan cukup sering menerima panggilan untuk mengisi berbagai kegiatan.

Kata dia, kesenian pantun di Bangka Belitung sempat berada pada masa puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh Gubernur Hudarni Rani.

Menurut Kario, kala itu banyak acara kesenian pantun yang diselenggarakan dan sangat dinikmati oleh masyarakat.

Berbeda halnya dengan sekarang, meski Pemerintah Provinsi sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang kewajiban berpantun bagi para pejabatnya, namun kesenian pantun seakan sulit untuk bangkit.

Kata Kario, berpantun adalah kesenian yang berawal dan kecintaan yang muncul dari dalam hati.

" Pantun itu harus dimulai dari rasa suka dan rasa mencintai untuk melestarikannya," ungkapnya.

Kata dia, pantun tidak lagi menjadi sebuah pantun jika itu telah ditulis terlebih dahulu apalagi dihafal.

" Pantun itu gambaran isi hati dan pikiran yang diucapkan secara spontan, bahkan bisa dibuat dalam hitungan detik. Makanya tidak heran kalau orang bisa berbalas pantun dengan cepat dan kadang-kadang enggak keliatan mikir," jelasnya.

Dirinya berharap, kesenian pantun bisa terus eksis di kalangan masyarakat Bangka Belitung sebagai masyarakat rumpun Melayu dan bisa menjangkau kalangan anak muda.

"Melayu itu identik dengan pantun. Begitu pula sebaliknya, pantun itu identik dengan Melayu," ujarnya.

Kario ingin, kedepannya pantun bisa menjadi materi muatan lokal di sekolah dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah sebagai wujud keseriusan untuk melestarikannya.

"Dalam kata Melayu, me-nya itu berarti melestarikan. Jadi kalau tidak dilestarikan, maka yang tersisa hanyalah layu," imbuhnya. (Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved