Breaking News:

Bangka Pos Hari Ini

Prostitusi Online Rambah Pelajar, Siswi SMP-SMA 'Open BO' dan Jual Temannya di Medsos

AKP Adi Putra menegaskan, walaupun tanpa ada muncikari, aparat kepolisian tetap dapat menjerat para pelaku meskipun masih di bawah umur.

Editor: Novita
Tribun Manado
Ilustrasi prostitusi online 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Prostitusi online atau dikenal dengan open booking order alias ‘Open BO' di wilayah Kota Pangkalpinang kian marak. Mirisnya, bisnis haram ini telah menyeret gadis yang masih belia.

Bahkan siswi yang masih duduk di bangku SMP dan SMA diduga terlibat sebagai pelakunya. Praktik 'Open BO' yang melibatkan anak-anak di bawah umur, diketahui dilakukan tanpa adanya muncikari. Para oknum siswi ini menawarkan diri dan temannya kepada pria hidung belang melalui aplikasi media sosial (Medsos).

Kasus yang mencoreng dunia pendidikan ini tengah ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pangkalpinang dan telah diinformasikan kepada Pemkot Pangkalpinang. Kasat Reskrim Polres Pangkalpinang, AKP Adi Putra, saat dikonfirmasi membenarkan pihaknya telah mencium adanya dugaan praktik prostitusi online, open BO, yang terjadi di kalangan siswi SMP dan SMA, khususnya di Kota Pangkalpinang.

"Mereka ini tidak terkoordinir atau misalkan ada muncikari, tidak begitu. Jadi antarmereka saja, nanti antarteman ke teman, sesama pergaulan mereka," ujar AKP Adi Putra kepada Bangka Pos, Jumat (26/8/2022).

Lanjut Adi, pihaknya telah mendeteksi ada beberapa sekolah di Kota Pangkalpinang yang oknum siswinya terlibat praktik prostitusi online.

"Tentunya ini miris sekali, kami mendeteksi ada beberapa sekolah, tapi kami tidak bisa membukanya," beber Adi.

Ia menegaskan, walaupun tanpa ada muncikari, aparat kepolisian tetap dapat menjerat para pelaku meskipun masih di bawah umur.

"Siapa yang memberikan atau memperdagangkan anak, kena pidana Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun. Tetap bisa terjerat hukum siapa yang menjual, apakah itu teman atau siapa," tegasnya.

Ia menambahkan, Satreskrim Polres Pangkalpinang melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang akan membentuk satgas guna mengantisipasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau human trafficking.

"Nantinya Polres Pangkalpinang bersama Satgas TPPO akan melakukan edukasi ke sekolah, komunitas dan lapisan masyarakat lainnya," imbuhnya.

Dalam kasus ini, kata Adi, kepolisian menitikberatkan pada pengawasan dan pengendalian anak-anak, dengan penguatan akhlak agar anak-anak tidak terjun dalam pergaulan bebas.

"Yang kami pelajari anak-anak terjerumus prostitusi, karena tidak ada atau minimnya pengendalian dari orang tua sehingga terlibat pergaulan bebas," beber Adi.

Tambah Adi, anak-anak SMP dan SMA yang terlibat prostitusi online ini gaya hidupnya terlihat serba mewah, mulai dari kendaraan hingga handphone yang digunakan.

"Anak-anak ini sudah biasa hidup mewah, gaya sehari-hari mewah, tidak berbanding lurus dengan mata pencarian. Akhirnya mereka mencari jalan pintas, yakni prostitusi antarkalangan mereka. Ini yang harus kita berikan pemahaman secara bersama, agar tidak terus terjadi di kalangan masyarakat," ungkapnya.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved