Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Prostitusi Online Libatkan Pelajar di Pangkalpinang, Akademisi Nilai Media Sosial Berpengaruh Besar

Akademisi Sosial, Luna Febriani, menuturkan, fenomena ini harusnya menjadi evaluasi bagi banyak pihak; keluarga, institusi sekolah serta pemerintah.

Penulis: Akhmad Rifqi Ramadhani | Editor: Novita
IST/Dokumentasi Pribadi Luna
Dosen Ilmu Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Luna Febriani 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Fenomena prostitusi yang terjadi dan diduga melibatkan pelajar di tingkat SMP dan SMA di Kota Pangkalpinang, menunjukkan bahwa hal yang tidak semestinya terjadi pada generasi muda.

Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa, yang seharusnya berkontribusi positif terhadap pembangunan dan kemajuan bangsa namun ini justru sebaliknya.

Akademisi Sosial, Luna Febriani, menuturkan, fenomena ini harusnya menjadi evaluasi bagi banyak pihak; keluarga, institusi sekolah serta pemerintah, agar tidak terjadi lagi kasus serupa. Sehingga bangsa Indonesia tidak akan mengalami krisis sumber daya manusia yang berkualitas.

Dosen Ilmu Sosiologi Universitas Bangka Belitung (UBB) ini mengatakan, banyak penyebab terjadinya prostitusi di kalangan SMP dan SMA. Baik dari faktor ekonomi, faktor lingkungan atau mungkin mengarah ke tindakan kriminal seperti perdagangan manusia.

"Namun, pengaruh lingkungan eksternal dalam era digitalisai ini yang sangat berpengaruh pada kehidupan remaja adalah peran media sosial dan gaya hidup remaja, yang berkontribusi dalam kasus ini," jelasnya kepada Bangkapos.com Senin (29/8/2022) sore.

Medsos dan Gaya Hidup Punya Pengaruh Besar

Luna menjelaskan, perkembangan media sosial dewasa ini sungguh signifikan. Media sosial tidak saja digunakan sebagai wadah membangun interaksi dan relasi, baik yang sudah terjalin maupun yang baru mau terjalin.

Namun lebih dari itu, media sosial telah menjadi konstruksi dari citra individu dan menjadi kiblat individu dalam menentukan gaya hidup.

"Sederhanya, individu akan membangun citra terbaiknya dalam media sosial (meskipun acapkali itu tidak sesuai dengan realitas sosial sebenarnya). Dan bahkan menjurus kepada aktivitas pamer. Pamer disini bisa dalam artian fisik maupun non fisik," bebernya.

Baca juga: Prostitusi Online Rambah Pelajar, Siswi SMP-SMA Open BO dan Jual Temannya di Medsos

Pamer dalam artian fisik, cenderung memperlihatkan sesuatu yang dianggap berharga, seperti barang bagus, terbaru dan mahal hingga pamer kecantikan/ketampanan yang dimiliki. Sementara itu, pamer dalam artian non fisik cenderung mengarah pada aktivitas yang dilakukan, seperti liburan, makan hingga quality time di tempat mewah.

"Sebisa mungkin yang ditampilkan di media sosial adalah hal-hal berharga, istimewa dan membuat decak kagum orang. Ini banyak dilakukan orang-orang sekarang, khususnya remaja yang sedang dalam proses pencarian dan pembentukkan indentitas agar dapat membangun citra individu yang berkelas dan berkualitas," imbuhnya.

Selain membangun citra yang berkelas dan berkualitas, Luna menilai, media sosial juga menjadi kiblat bagi individu, terutama remaja, untuk berperilaku dan menentukan gaya hidup. Tampilan yang ada di media sosial selalu dihiasi dengan mewah, mahal dan berkelas.

Maka, hal ini dapat mendorong remaja untuk mengimitasi atau meniru apa yang ditampilkan dalam media sosial dalam realitas kehidupan sehari-hari. Terlebih jika mereka berada dalam lingkungan sebaya dengan gaya hidup yang seperti itu, ini akan semakin berpengaruh dalam kehidupan remaja.

Karena pada lingkungan seperti ini, gaya hidup juga dapat berpengaruh pada eksistensi remaja itu sendiri. Jika mereka tidak bergaya serupa, dapat dialienasi atau diasingkan dari peer group atau kelompok sebaya mereka.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved