Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Tak Hanya Picu Inflasi, Akademisi Sebut Kenaikan Harga BBM Juga Hambat Pertumbuhan Ekonomi

Kenaikan harga BBM, juga turut meningkatkan biaya produksi yang tentunya akan dibebankan pada harga jual produk.

Penulis: Sela Agustika | Editor: Novita
ist/Devi Valeriani
Dekan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Bangka Belitung (UBB), Devi Valeriani 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Penyesuaian kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan dilakukan pemerintah, menjadi satu dari pemicu inflasi.

Dekan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Bangka Belitung (UBB) sekaligus Dosen Ekonomi, Devi Valeriani, mengemukakan, kenaikan harga BBM turut berdampak signifikan terhadap perkonomian.

Pasalnya, banyak pelaku usaha yang bergantung operasionalnya terhadap BBM bersubsidi. Baik untuk transportasi, maupun untuk kelancaran produksi dan ditribusi produknya.

Kenaikan harga BBM, juga turut meningkatkan biaya produksi yang tentunya akan dibebankan pada harga jual produk, sehingga berdampak kepada naiknya harga, yang tentunya berdampak pada volume penjualan.

"Pada awal kenaikan harga jual produk, biasanya masyarakat akan menahan untuk membeli barang-barang yang tidak prioritas. Inilah salah satu penyebab menurunnya daya beli masyarakat," jelas Devi, Senin (29/8/2022).

Dia mengatakan, kenaikan harga BBM subsidi harus disikapi dengan baik oleh pemerintah. Pasalnya, dampak terganggunya perkekonomian daerah ini disebabkan karena BBM merupakan kebutuhan primer masyarakat, yang hampir setiap rumah tangga mengonsumsi BBM bersubsidi.

Naiknya harga BBM akan berlangsung jangka panjang dan tidak mungkin mengalami penurunan,. Sehingga kenaikan harga pun berlangsung terus menerus yang menjadi penyebab terjadnya inflasi.

"Dari sisi pemerintah, kenaikan ini mengatakan tepat, karena subsidi BBM tersebut telah membebani APBN hingga Rp502 triliun. Akan tetapi, rendahnya daya beli dan konsumsi masyarakat akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi," sebutnya.

Dikatakan Devi, dengan angka inflasi year on year tahun 2022 sebesar 7,77 persen, maka tidak menutup kemungkinan angka inflasi akan meningkat jika terjadinya kenaikan harga BBM bersubsidi.

"Jika terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi, maka dipastikan angka inflasi akan bergerak naik. Dampaknya tentu akan sangat memberatkan bagi masyarakat dengan bertambahnya pengeluaran, terutama kebutuhan pangan yang merupakan konsumsi sehari-hari," kata Devi.

Tak hanya itu, kenaikan harga BBM bersubsidi dinilai sangat berpengaruh bagi daya beli dan konsumsi masyarakat Bangka Belitung, sehingga berdampak terhadap pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung, bahkan pertumbuhan ekonomi memiliki kecenderungan melambat. ( Bangkapos.com/Sela Agustika)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved