Breaking News:

Penemuan Bayi di Pangkalpinang

Akademisi Menilai Kontrol Keluarga dan Masyarakat Lemah Picu Kasus Pembuangan Bayi Sering Terjadi

Fitri mengatakan, remaja yang bergaul dengan bebas, melakukan seks pra nikah, dan mengalami kehamilan, dianggap biasa saja oleh masyarakat sekitar.

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: Novita
Istimewa/Dokumentasi Pribadi
Dr Fitri Ramdhani Harahap MSi, Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Penemuan bayi malang berjenis kelamin laki-laki yang terbungkus plastik, memperlihatkan kian longgarnya nilai-nilai norma yang menjadi pegangan dalam kehidupan masyarakat.

Sebelumnya, diketahui pada Rabu (31/8/2022) pukul 06.00 WIB, warga Semabung Baru dikejutkan dengan penemuan bayi yang berada di halaman rumah.

Aksi tak terpuji orang tua yang tega membuang bayi, bukan kali ini saja terjadi.

Pada Jumat (20/8/2022) lalu, warga Dusun Rumpis, Desa Berang, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, juga menemukan bayi yang diletakkan di dalam kardus di pinggir jalan.

Dengan adanya beberapa kejadian tersebut, Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung, Dr Fitri Ramdhani Harahap, mengatakan, saat ini remaja dapat bergaul dengan bebas, bahkan mengarah pada aktivitas seks sebelum menikah.

Baca juga: Bayi Laki-laki yang Ditemukan di Semabung Lahir Prematur, Alami Kondisi Hipotermia saat Dibawa ke RS

"Pergaulan remaja yang cenderung melakukan seks pra nikah ini, akhirnya menjurus pada kehamilan sebelum pernikahan. Di mana remaja belum siap untuk berumah tangga dan kemudian mengurus anak. Ketidaksiapan inilah yang menyebabkan kehamilan tidak dipertanggungjawabkan, bayi yang lahir dibuang begitu saja," jelas Fitri, Rabu (31/8/2022).

Selain longgarnya norma-norma yang mengatur pergaulan, di sisi lain, kontrol sosial yang seharusnya berfungsi untuk mengawasi perilaku menyimpang yang dilakukan masyarakat, juga semakin melemah.

Dia mengatakan, remaja yang bergaul dengan bebas, melakukan seks pra nikah, dan mengalami kehamilan, dianggap biasa saja oleh masyarakat sekitar.

Padahal seharusnya keluarga dan masyarakat, memberikan sanksi sosial berupa teguran ataupun hukuman.

"Lemahnya kontrol dari keluarga dan masyarakat, membuat kasus-kasus penyimpangan perilaku sosial, semakin sering terjadi dan semakin dianggap wajar dan lumrah," ucapnya.

Untuk mengatasi kian terjerumus anak-anak dalam pergaulan bebas, peran yang paling penting yakni keluarga, sebagai benteng pertama untuk tumbuh kembang anak-anak.

"Seharusnya ditumbuhkan kembali nilai-nilai pendidikan yang dimulai di dalam keluarga. Kemudian mengeratkan hubungan antar anggota keluarga di dalam rumah. Lalu, lingkungan juga memberikan kontribusi, untuk mengawasi perilaku anggota masyarakatnya," bebernya. ( Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved